Dikamar hotel itu, Tiffany berdiri menatap jauh kearah pemandangan pantai yang tersaji tepat didepan matanya saat ini. Begitu indah. Terlebih dari tempatnya berdiri sekarang juga, ia bisa melihat beberapa orang yang sedang menikmati pesta tepat disekitar pantai itu.
Ia bisa saja ikut tersenyum melihat senyuman orang orang itu. Tapi tidak bisa.
Sulit untuk tersenyum ketika rasa kesepian kembali menguasai dirinya.
Ia pernah merasa kesepian sebelumnya.
Sejak remaja, ia telah terbiasa diabaikan oleh ibu kandungnya.
Kemudian bertemu ayahnya, yang juga meninggalkannya tak lama kemudian.
Rasa hampa yang ia rasakan kala itu, sama.
Dan,
"Kali ini berbeda." gumam Tiffany pelan.
Hanya kepada dirinya saja. Ia mengatakan itu hanya untuk dirinya saja. Mencoba meyakinkan dirinya akan perasaan yang ia rasakan.
Tiffany menghembuskan nafasnya pelan. Dirinya yakin sekarang. Bahwa ia memang mencintai pria itu.
Tapi, dimana dia sekarang? Bagaimana keadaannya? Apakah pria itu sebegitu teganya tak mengingatku barang sedikitpun?
Tiffany berusaha menahan gejolak dalam hatinya. Ia sungguh merindukan pria itu. Pria kurang ajar yang meninggalkannya begitu saja. Pria yang sebelumnya membuatnya sejenak melupakan semua masalahnya namun justru kembali membuat masalah baru dalam kehidupannya.
Ryan.
Ryan.
Ryan.
Nama itu, lagi dan lagi. Terus terngiang dikepalanya.
"I'm sorry..."
Tiffany terkejut setengah mati tatkala suara pria yang memeluknya saat ini terdengar begitu jelas di sisi kiri telinganya. Pria itu,
"Jean, Se..sejak kapan kau disini?"
"Sejak kau menutup mata cantik mu itu" jawab Jean yang masih setia mendekap Tiffany dengan kedua tangannya. "melamun lagi, hm?"
Tak ada jawaban dari Tiffany. Entahlah, ia bingung harus menjawab apa. Disisi lain, dirinya merasa seperti tertangkap basah melakukan kesalahan yang.. Tidak, itu bukan kesalahan. Ia hanya memikirkan pria itu.
"kuharap hanya ada aku dalam lamunanmu, Tiff"
"Jean.."
"Tak ada pria lain." sambung Jean.
"Kau mulai lagi, Jean. Sudah kukatakan bahwa aku tidak menyukai topik ini"
"Dan sudah sering kukatakan bahwa aku tak suka ketika kau memikirkan pria itu, bukan?!!"
Jean, sisi lain pria itu lagi. Dan Tiffany menyadarinya, ia sadar Jean yang kini membalikkan tubuh nya dengan kasar itu telah berubah menjadi Jean yang sama dengan yang dulu pernah membentaknya.
Terkadang Tiffany berfikir jika pria itu mungkin saja memiliki alter ego. Namun sepertinya tidak. Tapi tetap saja ada sesuatu yang janggal dari tunangannya itu. Entahlah.
Perlahan kedua telapak tangan Tiffany menyentuh dua sisi pipi pria dihadapannya itu. Seketika, Jean menutup matanya, berusaha menahan emosi yang sempat tak mampu ia kendalikan.
Sial.
"Maaf.." desis Jean.
"Aku yang ingin meminta maaf, Jean"
KAMU SEDANG MEMBACA
ANGUSTIAS [END]
Ficción GeneralKehidupan Delora Angustias Wyanet yang menyedihkan membuat dirinya berusaha untuk hidup lebih baik sebagai sosok yang baru. Sayangnya, masa lalu sang ibu seolah terus menjadi sumber utama dalam setiap kesedihan yang ia alami. Bahkan, dalam perjalana...
![ANGUSTIAS [END]](https://img.wattpad.com/cover/159229034-64-k595402.jpg)