Kehidupan Delora Angustias Wyanet yang menyedihkan membuat dirinya berusaha untuk hidup lebih baik sebagai sosok yang baru.
Sayangnya, masa lalu sang ibu seolah terus menjadi sumber utama dalam setiap kesedihan yang ia alami. Bahkan, dalam perjalana...
Tindakan sigap Mark membukakan pintu untuk Jeanna sangat disyukuri oleh Jeanna. Bagaimanapun itu sangat membantunya yang memang sangat kelelahan.
Aktivitasnya hari ini sungguh berbeda dari biasanya. Terlebih dengan pakaian yang ia kenakan saat ini. Pakaian formal yang sama sekali bukan gayanya.
Tak lama setelah Jeanna keluar dari mobil, Mark pun menyerahakan kunci mobil ke seorang supir yang sebelumnya bergantian tugas menyetir dengannya. Bukan tanpa alasan, Jeanna yang memang sedang pusing merasa semakin pusing dengan cara menyetir supir keluarga Westly itu.
Jadilah, Mark harus mereleakan mobilnya terparkir rapih di parkiran kantor sedangkan dirinya mau tak mau memakai jasa taxi agar bisa kembali ke Gedung Westly Corp.
Jeanna berniat segera menuju ke dalam rumah untuk mengistrahatkan tubuh lelahnya. Namun apa yang ia lihat membuat langkahnya terhenti.
Tak jauh dari tempatnya berdiri sekarang, sudah terparkir mobil sang kakak yang berhasil membuatnya selelah ini.
Tanpa menunggu waktu lama lagi, Jeanna segera berjalan dengan langkah cepat menemui kakaknya itu.
***A***
Sekarang disinilah Jeanna,
Di Dapur.
Awalnya Jeanna mengira jika kakaknya itu sedang berada di kamar atau ruang kerja. Tapi ia salah kali ini.
Jean melihat Jeanna dari kepala sampai kaki lalu kembali lagi ke kepala.
"Kau cantik"
Jeanna memutar bola matanya, "Ingin mengalihkan pembicaraan ya? Kakak jelas tahu apa yang ingin ku katakan."
"Sungguh, kau lebih cocok berpakaian seperti itu dari pada memakai baju kurang bahan seperti biasanya." ujar Jean sambil mengunyah makan malamnya.
"Aku tak peduli. Mulai besok aku tidak akan memakai pakaian ini lagi karena kakak sudah kembali. Dan untuk berita itu, kakak sudah ganti obat ya?" tanya Jeanna dengan santainya.
Berbeda dengan Jean yang rasanya ingin melempari adiknya itu dengan sendok yang sedang ia pegang sekarang.
"Bukan urusanmu."
"Aku serius, kak"
"Jeanna, kau tahu kan bagaimana aku tidak suka dengan pembahasan itu?" ucap Jean tanpa mau melihat Jeanna.
Ya, Jeanna tahu. Dan dia baru saja tersadar telah memilih pertanyaan yang salah.
Karena itu Jeanna memilih segera menjauh dengan pergi ke kamarnya.
Jean menghembuskan nafasnya pelan. Mengontrol sesuatu dalam dirinya yang hampir saja melukai perasaan sang adik.
"Jeanna" panggil Jean, berhasil menghentikan langkah Jeanna.
"Bagaimana dengan jadwal kakak?" tanya Jean, berniat mencairkan suasana.
"Pe..pertemuan dan perjalanan bisnis sudah ku batalkan. Tapi.. Tapi aku tetap mengikuti rapat kak. Hari ini aku mengikuti tiga rapat." jawab Jeanna takut. Bagaimana tidak, ia hampir saja memancing sisi gelap kakaknya.
Sebenarnya Jean ingin memarahi Jeanna karena pertemuan dan perjalanan bisnis itu sangat penting dan fatal apabila di batalkan, tetapi melihat Jeanna yang ketakutan membuatnya tidak tega.
Jean menganggukkan kepalanya. "Istrahatlah. Dan maaf sudah membuatmu lelah hari ini."
***A***
At AMt Corp.
Tiffany menatap jengah Atthar yang hingga tiga puluh menit kedatangannya tidak berniat memberikan senyum ke dirinya sama sekali.
"Bisakah kau sedikit ramah kepada sahabatmu yang sudah lama tidak bertemu denganmu ini?" sindir Tiffany.
"Sahabat, ya? Sahabat macam apa yang dua kali menghilang dan tak memberi kabar sama sekali?" ujar Atthar dengan nada sarkas.
"Jangan berlebihan. Cukup fokus saja pada Rennaya."
Ya, Rennaya.
Hari ini Tiffany harus merelakan waktu berharganya dengan kembali membantu Atthar. Jenis bantuannya sama seperti beberapa tahun lalu.
Masih jelas diingatan Tiffany bagaimana ia harus berkorban besar untuk membantu Atthar. Dan kali ini, lagi-lagi ia harus melakukannya.
Tak masalah sebenarnya, tapi Tiffany sedikit merasa kasihan kepada Rennaya karena perlakuan Atthar dirasanya terlalu berlebihan kepada wanita yang dicintai oleh sahabatnya itu.
"Janjilah ini yang terakhir. Aku tak mau membantumu lagi dengan cara seperti ini."
"Tenang saja." jawab Atthar sambil melihat kearah CCTV.
"Tiff" panggil Atthar tiba-tiba.
"Hm?"
"Kemarilah"
Itu berarti, Rennaya akan datang dan Atthar akan mulai menjalankan rencananya. Tentunya dengan bantuan Tiffany.
***A**
Pertemuannya dengan Atthar sudah selesai. Kini yang ia lakukan adalah menunggu taksi yang akan membawanya pulang ke mansion keluarga Westly.
Beruntung, tak butuh waktu lama hingga dirinya berhasil mendapatkan taksi.
Tapi,
Tiffany harus mengurungkan niatnya membuka pintu mobil taksi itu tatkala perasaannya mengatakan bahwa seseorang sedang mengikutinya.
Karena itu, ia memutuskan berjalan kaki untuk membuktikan kecurigaannya.
Dia bukanlah wanita penakut yang justru memilih segera pergi menggunakan taksi. Menghadapi seorang penguntit baginya harus dilakukan dengan balik menguntit orang itu.
Itulah yang dilakukan olehnya sekarang.
Berjalan kaki untuk memancing si penguntit menampakkan jati dirinya.
Tiffany berjalan dengan langkah cepat. Benar saja, orang itu pun mengikuti kemana arahnya berjalan.
Tiffany menyebrangi jalan yang ramai akan pejalan kaki lalu mencari sesuatu yang dirasanya dapat membantunya untuk mengetahui identitas si penguntit.
Tak jauh dari tempatnya saat ini, ada toko pakaian yang pintunya terbuat dari kaca tembus pandang.
Senyuman miring terbit menghiasi wajah Tiffany. Sedikit lagi, pikirnya.
Sekarang Tiffany berdiri tepat didepan toko itu. Hanya berdiri, dan tak melakukan apapun.
Namun satu hal yang ditunggunya kini telah menampakkan dirinya.
Dikaca tembus pandang toko itu, terpantul sosok yang sejak tadi mengikutinya.
Meskipun samar, namun keberadaan jas hitam dalam toko itu dapat sedikit memantulkan wajah si penguntit yang kini berdiri sedikit jauh dibelakangnya. Sialnya, wajah orang itu sedikit terhalang karena topi yang ia kenakan.
Senyum miring yang sebelumnya menghiasi wajah Tiffany kini hilang perlahan seiring dengan semakin jelasnya wajah sosok itu.
Satu hal yang akhirnya ia tahu saat ini, ternyata pria itu masih peduli padanya.
***Tbc***
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.