2 minggu kemudian.
Sudah dua minggu Tiffany melakukan kegiatan yang sama setiap harinya. Mengunjungi rumah sakit setelah kembali dari kantornya.
Hari ini pun Tiffany kembali melakukan kegiatan rutin seperti yang sering ia lakukan dalam beberapa hari terakhir.
"Bagaimana kondisi ibu?"
Diva tersenyum menyambut kedatangan Tiffany yang masih memakai seragam ditubuhnya.
Setelah menyimpan tasnya, Tiffany segera duduk di kursi yang berada di sisi ranjang tempat Diva terbaring.
"Ibu ingin sekali mengatakan jika kondisi ibu baik-baik saja. Tapi, kau bisa melihat sendiri, nak. Ibu bahkan sudah bosan berbaring diranjang ini." ujar Diva sambil mengunyah makanan yang disuapi oleh Jeanna.
"Mom tidak akan seperti ini jika saja dia tidak membuat masalah." ucap Jeanna dengan nada menyindir.
Tentu saja, 'dia' yang dimaksud adalah Tiffany.
Tiffany membuang pandangannya kearah lain. Ia ingin marah dengan sindiran Jeanna. Tapi toh memang itulah faktanya.
"Jangan berbicara seperti itu, Jeanna. Tolong kurangi beban mom dengan tidak memulai masalah."
Tangan Jeanna memegang sendok ditangannya lebih erat dari sebelumnya. "Aku memang selalu membawa masalah, ya?"
Tiffany terkejut dengan ucapan Jeanna. Dilihatnya Jeanna dengan tatapan menyelidiki, dan ya, Jeanna tampak menahan air matanya.
Entah mengapa Jeanna begitu emosional.
"Biar aku yang menyuapi ibu" ucap Tiffany dengan mengambil perlahan piring makan dari tangan Jeanna.
Itu ia lakukan untuk memberi kesempatan bagi Jeanna jika ingin menenangkan diri. Benar saja, tak lama setelahnya Jeanna berkata ingin ke kamar mandi.
Kini Tiffany lah yang menyuapi sang ibu. Mungkin Diva tidak sadar dengan alasan Jeanna ke kamar mandi adalah untuk mengeluarkan air mata yang wanita itu tahan sejak tadi.
Sembari menyuapi Diva, fikiran Tiffany pun kembali saat dirinya masih remaja. Mungkin apa yang ia alami dulu, kini mulai dirasakan oleh Jeanna.
Kesedihan yang sama, ketika merasa perhatian orang yang kita sayang tak seperti yang kita harapkan.
***A***
Hari ini Tiffany memakai dress putih yang membuatnya tampak semakin cantik. Tak seperti biasa, yang penampilanya sedikit kurang feminim. Itu disebabkan karena dirinya memang lebih suka memakai celana dibanding gaun.
Namun akan aneh, bukan? Jika dirinya memilih untuk memakai celana ketika menghadiri pesta pernikahan.
Ya, saat ini dirinya tengah menghadiri pesta pernikahan seseorang yang sangat berjasa dalam memberikan warna lain di kehidupannya.
'Atthar Matthieu & Rennaya Lourainne Abelard'
Itulah sepenggal kalimat yang tertulis indah di papan ucapan selamat yang diletakkan di sekitar pintu masuk gedung pernikahan Atthar dan Rennaya.
Tiffany melangkahkan kakinya dengan sedikit terburu-buru dikarenakan tidak lama lagi upacara pemberkatan akan dimulai.
Setelah mendapatkan tempat duduk yang telah disiapkan untuknya, Tiffany pun mendudukkan dirinya sembari menunggu masuknya si pengantin wanita.
Tak lama kemudian, masuklah sosok cantik yang menjadi ratu di hari instimewa itu.
Tanpa sadar, seulas senyuman terbit menghiasi wajah Tiffany seolah mengikuti ekspresi si pengantin wanita.
Tiffany tahu, meskipun hubungan sang sahabat dengan wanita yang tak tak lama lagi menjadi istrinya itu didasari dengan hal yang tak baik, namun pada kenyataannya keduanya memang saling mencintai.
Dua insan yang bertemu dengan kisah cinta yang rumit namun berakhir dengan takdir yang mereka impikan.
Jauh dalam hatinya, ia memiliki satu pertanyaan yang sepertinya sudah memiliki jawaban yang jelas.
Mungkin permintaanku terlalu berlebihan, berharap Tuhan memberiku kesempatan hidup bahagia bersama orang yang kucintai.
***Tbc***
KAMU SEDANG MEMBACA
ANGUSTIAS [END]
General FictionKehidupan Delora Angustias Wyanet yang menyedihkan membuat dirinya berusaha untuk hidup lebih baik sebagai sosok yang baru. Sayangnya, masa lalu sang ibu seolah terus menjadi sumber utama dalam setiap kesedihan yang ia alami. Bahkan, dalam perjalana...
![ANGUSTIAS [END]](https://img.wattpad.com/cover/159229034-64-k595402.jpg)