Hampir tiga minggu berlalu dan perjalanan bisnisnya telah selesai. Yang seharusnya ia lakukan adalah menuju ke Bandara untuk mengambil penerbangan kembali ke California. Tetapi satu hal membuatnya harus menunda jadwal yang telah ia susun sebelumnya.
Jean memasuki lift yang akan membawanya kesuatu tempat. Tak ada rencana untuk mengunjungi tempat itu sebenarnya. Namun panggilan dari seseorang membuatnya harus datang, mau tak mau.
Kini dirinya telah berada tepat didepan sebuah pintu ruangan kerja pemilik dari gedung tempatnya berada saat ini. Tak menunggu lama, Jean segera membuka pintu itu.
Hal pertama yang ia lihat adalah seorang pria paruh baya yang wajahnya hampir terlampau mirip dengan seseorang yang dikenalnya.
"Apa lagi yang ingin kau katakan?"
Oh, itu adalah perkataan paling tidak sopan kepada seseorang yang lebih tua.
Namun hal itu tidak menyulut emosi pria paruh baya itu. Justru yang terdengar adalah tawa kecil darinya.
"Santai sedikit, nak. Jika seperti itu kau akan sama seperti kakakmu."
Jean mengalihkan pandangannya kearah lain. Satu hal yang tidak ia sukai jika bertemu pria tua ini adalah basa-basinya yang memancing emosi.
"Bagaimana dengan rencanamu?" Lanjut pria paruh baya itu.
"Akan ku selesaikan di waktu yang tepat."
"Ku sarankan untuk menyelesaikannya segera. Jika tidak, kau tahu apa yang akan dia lakukan jika mengetahui semua rencanamu."
Mendengar nasehat itu, Jean hanya tersenyum miring.
"Itu salah putramu, karena tidak mengenal adiknya sendiri."
"Dan putraku adalah kakakmu"
'Ya, putramu sialnya adalah kakakku. Dan kau sialnya adalah ayahku.'
Jean menghembuskan nafasnya kasar.
"Jika tak ada lagi yang ingin kau sampaikan, aku akan pulang sekarang" Ujar Jean yang tanpa menunggu jawaban apapun, segera berjalan keluar dari ruangan itu.
"Lain kali bawalah calon menantuku Itu kesini!" teriak pria paruh baya itu namun masih dapat didengar oleh Jean.
***A***
"Sir, sejak tadi handphone milikmu berdering"
"Benarkah?"
Ryan yang baru masuk kedalam markas setelah melakukan latihan fisik rutin, segera membuka tasnya untuk melihat siapa yang telah memanggilnya.
Ferguso.
Pria itulah yang membuat posel miliknya terdapat banyak notifikasi panggilan tak terjawab dan juga sms berjumlah puluhan.
Sudah jelas jika ada hal penting yang ingin disampaikan oleh tangan kanannya itu.
Dengan cepat Ryan mengecek semua pesan masuk dari Ferguso.
Betapa terkejutnya ia ketika membaca sebait kalimat yang tertera dilayar ponselnya.
Sesuatu yang sudah ia tebak sebelumnya namun tetap saja mampu mengejutkannya.
Dan sialnya, lagi dan lagi dirinya harus bertemu pria yang sangat tidak ingin ia temui.
***A***
Tiffany berencana untuk segera ke rumah sakit setelah menyelesaikan tugas kantornya. Hal itu sudah seperti kegiatan rutinnya hingga membuat Tiffany terbiasa melakukannya.
Tetapi,
Entah mengapa dirinya merasakan sesuatu sangat mengganggunya. Sesuatu yang tidak seperti biasanya ia rasakan.
KAMU SEDANG MEMBACA
ANGUSTIAS [END]
General FictionKehidupan Delora Angustias Wyanet yang menyedihkan membuat dirinya berusaha untuk hidup lebih baik sebagai sosok yang baru. Sayangnya, masa lalu sang ibu seolah terus menjadi sumber utama dalam setiap kesedihan yang ia alami. Bahkan, dalam perjalana...
![ANGUSTIAS [END]](https://img.wattpad.com/cover/159229034-64-k595402.jpg)