Chapter 12. Begin

164 10 0
                                        

Note: Kalau kalian udah baca cerita ini dari sebelum tanggal 25 Januari 2018, kalian harus membaca ulang Chapter 11. Tiffany Waster yaah. Karena ada yang sedikit berubah dari ending chapter tersebut. Dan di page Cast juga ada yang berubah karena aku sempat salah pasang foto cast buat Ryan dan Jean. Jadi kalian wajib cek ulang oke.😊

~*~

Vote kalian mana?😘

*
*
*
*

***A***


Ryan tampak berdiri memunggungi pria paruh baya yang berpenampilan seperti seorang pelayan namun memiliki perbedaan dari jas yang ia pakai. Lebih mewah dan memiliki potongan yang lebih panjang dari para pelayan lainnya dirumah megah itu.

"Kau sudah lakukan semua yang kuperintahkan?"

"Ya, tuan."

"Jika lain kali masih ada pelayan semacam itu dirumah ini maka kupastikan jabatanmu sebagai kepala pelayan dirumah ini akan segera tergantikan, Ferguso."

Pria yang bernama Ferguso itu semakin menundukkan kepalanya, menyadari keteledorannya sebagai kepala pelayan dirumah itu.

Sejak mendapat panggilan secara pribadi dari tuannya itu, ia telah merasakan firasat yang buruk. Benar saja, dua pelayan yang harusnya dalam pengawasannya malah melakukan hal yang tidak sepantasnya dilakukan.

Ya, dua pelayan itu adalah para pelayan yang telah lancang membicarakan mitos tuan putri mereka. Sekarang, dua pelayan itu telah dieksekusi sesuai dengan perintah sang tuan yang kini berbalik badan dan menatap tajam dirinya.

"Jika saja aku tidak menyelipkan alat penyadap disetiap sudut rumah ini maka aku tidak akan mengetahui jika rumah ini dicemari wabah semacam mereka."

"Maafkan saya tuan." ucap Ferguso memohon maaf untuk kesekian kalinya.

"Sekarang kau tau apa yang harus dilakukan, bukan?"

"Ya, tuan"

"Bagus. Aku akan menilai bagus tidaknya pekerjaanmu jika Tiffany tidak mendengar sedikitpun informasi mengenai kejadian 7 tahun lalu. Jika pekerjaanmu buruk maka kaupun akan mendapatkan hal yang sama buruknya." ujar Ryan hingga kepala pelayan itu keringat dingin dibuatnya.

Sungguh, jikapun Tiffany memgetahui semuanya, Ryan hanya ingin dirinyalah yang menyampaikan langsung fakta itu. Atas kehendaknya.

Nanti, ketika ia sudah mampu menerima segala bentuk kebencian dari wanita itu.

***A***

DOR!!

DOR!!

DOR!!

Ryan menghembuskan nafasnya melihat betapa payahnya wanita dihadapannya itu.

Dengan langkah pasti ia berjalan mendekati wanita itu, mendekat, semakin dekat, hingga membuat wanita itu, Tiffany, terkejut ketika menyadarinya.

"Sudah kutakan kau tidak bisa."

"Aku akan bisa jika terus belajar. Apa kau selalu sepesimis itu!?"

ANGUSTIAS [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang