Kehidupan Delora Angustias Wyanet yang menyedihkan membuat dirinya berusaha untuk hidup lebih baik sebagai sosok yang baru.
Sayangnya, masa lalu sang ibu seolah terus menjadi sumber utama dalam setiap kesedihan yang ia alami. Bahkan, dalam perjalana...
Mereka akan pulang hari ini. Tinggal menunggu pesawat itu take off dan membawa keduanya kembali ke California.
Seperti biasa Tiffany selalu duduk tepat disamping Jean ketika ia pergi kemanapun bersama pria itu. Wajar bukan, keduanya bertunangan.
Ya, bertunangan.
Sejak terbangun dari tidurnya pagi tadi, Tiffany selalu memikirkan hal itu. Mungkin memang ia selalu memikirkan hal yang sama, namun kali ini rasanya sedikit berbeda.
Tidak, ia tidak mencintai pria itu hingga membuat perasaannya menjadi beda dari sebelumnya. Setidaknya, belum.
Hanya saja mengingat bagaimana pria itu memperlakukannya bahkan setelah dirinya secara terang-terangan masih memikirkan Ryan saat sedang bersama pria itu, membuat Tiffany merasa begitu bersalah. Dan merasa seperti wanita yang berselingkuh dibelakang pasangannya sendiri.
Tiffany menggelengkan kepalanya menyadari segala pemikiran konyol kembali menghampiri isi kepalanya.
Tentu saja, tingkah Tiffany tak luput dari perhatian pria disampingnya. Jean.
Namun tak ada tanggapan ataupun pertanyaan dari pria itu selain hanya melihat Tiffany sejenak sebelum membuang pandangannya kearah lain. 'memikirkan Ryan itu lagi,eh?' benak Jean.
Sedangkan Tiffany memutuskan untuk menutup matanya, agar tak kembali memikirkan hal serupa. Ya, tidur lebih baik. Pikirnya.
Tak disadari oleh Tiffany jika ada hal yang berbeda dari sebelumnya, tak ada usapan lembut dari tangan Jean seperti yang biasa pria itu lakukan ketika dirinya memutuskan untuk menyandarkan kepalanya dibahu pria itu.
***A***
At Westly's Mansion Oakland, California
"Kalian sudah sampai, nak. Bagaimana perjalanannya? Menyenangkan?" tanya Diva menggebu gebu ketika menyambut Jean dan Tiffany yang baru saja memasuki rumah mereka.
Tentu saja dibalik pertanyaan itu mengandung maksud tertentu. Baik Jean maupun Tiffany jelas mengetahui makna terselubung itu.
Namun bagi Tiffany, bukan itu yang menjadi perhatiannya sekarang. Melainkan perasaan seperti deja vu tatkala melihat kedatangannya bersama Jean disambut oleh sang ibu dan.. Jeanna yang saat ini melihatnya dengan tatapan sinis wanita itu.
"Tentu saja, mom. Tiffany selalu memperhatikanku disana, membuat pekerjaanku terasa tak melelahkan sama sekali" ujar Jean.
Itu bohong, tentu saja.
Senyum merekah seketika menghiasi wajah cantik Diva, membuat garis sudut matanya menjadi lebih kentara menandakan betapa bahagianya ia mendengar keharmonisan Jean dan Tiffany.
Ya, karena tujuan liburan mereka yang sebenarnya adalah untuk memenuhi permintaan Diva.
"Melihat raut wajah Tiffany membuatku ragu dengan ucapanmu, kak. Ia tampak sedikit.. Tertekan?" ujar Jeanna. Ya, siapa lagi kalau bukan dia.
'dasar wanita ular' umpat Tiffany dalam hati. Dengan cepat, ia menyunggingkan senyumnya selebar yang ia bisa.
"Merasa tertekan saat liburan sungguh konyol, bu. Aku senang bisa menemani Jean. Selain bisa menambah pengalamanku mengikutinya melakukan perjalan bisnis, aku juga bisa lebih mengenalnya"
"lalu hal apa saja yang kau tahu mengenai kakakku, Tiffany?" tanya Jeanna dengan cepat, seolah ingin mengejek segala cerita palsu Tiffany.
Namun tidak, dalam hatinya, Tiffany lah yang justru menertawai adik tiri sekaligus calon adik iparnya itu. Sungguh, yang ia katakan sebelumnya bukanlah kebohongan seperti yang dilakukan oleh Jean sebelumnya.
Tiffany menoleh kesamping, tepat kearah Jean berdiri saat ini. Menatap tepat kearah mata pria itu sebelum menjawab pertanyaan Jeanna.
"Jean, ketika pertama mengenalnya, aku menganggapnya menyebalkan. Lalu dipertemuan kedua kami, aku pun menganggapnya lebih menyebalkan karena terkesan memaksakan kehendaknya padaku. Beberapa hal juga membuatku berfikir bahwa ia memiliki sisi kekanakan, cool, romantis dan berwibawa. Namun hal terakhir yang ku tahu tentang pria ini adalah..." ucapan Tiffany terhenti sejenak.
'fakta bahwa ia mampu membuatku takut. Takut ketika memikirkan bahwa pria ini akan meninggalkanku.' seuntai kalimat itu telah tersusun jelas dalam kepalanya sebelum ia memutuskan untuk mengantinya dengan kalimat lain.
"Dia begitu menyayangiku" ucap Tiffany akhirnya.
Biarlah deretan kalimat terakhir itu.. cukup tersimpan dalam benakku saja.
***See ya***
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.