Chapter 5. That Man (Who Are You?)

159 11 0
                                        


Vote dulu yaa 😘
.
.
.
.
.

***A***

"Delora!"

Delora yang sebelumnya melangkahkan kakinya dengan cepat menuruni tangga, terhenti ketika mendengar suara seseorang memanggilnya meskipun begitu Delora tak berniat untuk sekedar membalikkan tubuh mengahadap sosok itu.

Karena merasa diabaikan, sosok itu tanpa pikir panjang menarik tangan Delora dan membawanya masuk kedalam salah satu kamar yang berada tak jauh dari tangga.

"Jelaskan padaku apa maksudmu memanggil mommy ku dengan sebutan 'ibu', Delora!"

Tak ada jawaban dari Delora membuat Jeanna semakin geram dan berniat mendorong bahu Delora namun gerakannya terhenti karena Delora lebih dulu menahannya dengan satu tangan. Hal itu membuat Jeanna mengeluh kesakitan karena genggaman tangan Delora yang terasa begitu kuat mencengkam tangannya.

"Jangan berani menyentuhku, Jeanna." ucap Delora dengan nada tajam.

"dan kau! Jangan berani menyebut mommy ku sebagai ibumu, Delora!"

"Kenapa? Apa kau marah? Lalu apa sebutan yang pas untuk mommy mu? Jalang?"

"Beraninya kau!-" Jeanna melepas genggaman tangan Delora namun sang empunya tangan justru semakin mencengkram tangan Jeanna lebih erat.

"Aku menyebut ibu kepada seseorang yang memang telah melahirkan ku. Kau tak berhak mengatur apa yang ku ucapkan dan apa yang kulakukan, kau mengerti?"

Tawa mengejek terdengar dari mulut Jeanna. "Kau bilang apa tadi? Mommyku adalah ibumu? Jadi yang kau maksud adalah kau dan aku memiliki ibu yang sama, hah?"

"meskipun aku sangat jijik mengakuinya tapi dengan terpaksa harus kukatakan, ya. Itulah faktanya."

"kau begitu terobsesi dengan mommyku rupanya Del-"

"Apa kau masih berfikir seperti itu setelah mendengar percakapanku dengan kedua orangtua mu tadi? Tanpa perlu kau katakan pun aku tahu kau menguping pembicaraan kami." ucap Delora yang balas mengejek Jeanna.

Delora mendekatkan wajahnya ketelinga Jeanna dan membisikkan sesuatu sebelum meninggalkan Jeanna yang terdiam membisu. Bahkan ia tak menyadari jika sebulir air mata kini telah jatuh dan membasahi pipinya.

'Bagaimana rasanya mengetahui jika orang yang selama ini kau sebut jalang dan rela menjual tubuhnya kepada semua pria ternyata adalah mommy kesayanganmu sendiri? Kuberi saran padamu, terima saja kenyataannya dan lain kali bersikap hormatlah kepada kakakmu ini atau aku takkan segan melakukan hal yang lebih dari hanya sekedar mencengkram kuat tangan rapuhmu itu, Jeanna Westly'

***A***

Sejak kepulangannya kembali ke rumah Delora tak mengatakan satu katapun. Bahkan ketika bibi Rose terus menangis dan menanyakan alasan sang nona yang saat ini tengah memasukkan semua pakaiannya kedalam koper itu memutuskan untuk pergi pun, bibi Rose sama sekali tidak mendapatkan jawaban apapun.

Sungguh, Rose masih belum menenangkan keterkejutannya saat sang majikan tiba-tiba menghilang dari rumah sakit dan tak bisa melakukan apapun selain menunggu mungkin saja Delora akan kembali kerumah. Tapi yang ia dapatkan justru lebih mengejutkan, memang Delora kembali namun dalam keadaan yang sulit diartikan.

Rose terus menahan langkah kaki Delora yang saat ini sudah menarik kopernya namun tekad Delora jauh lebih besar dibanding mendengarkan nasehat dari sosok yang sudah sangat ia sayangi itu.

ANGUSTIAS [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang