Chapter 44. Proving

72 9 2
                                        

Tiffany memang pergi. Namun yang ia lakukan adalah untuk membuktikan segala perkataan Jean sebelumnya.

Kini dirinya telah berada di kantor FBI yang berlokasi di California. Ia akan melakukan satu hal yang ia harap mampu membuktikan semuanya.

Meskipun dengan tangan gemetar, Tiffany tetap berusaha mengambil telfon genggamnya untuk menelfon seseorang.

"Ya, Tiff?"

"Bisakah kau mengirimkan data maps dari target kita bersama tim Eagle waktu itu?"

Seseorang dibalik telfon itu tampak berfikir sejenak, mungkin tengah mengingat target yang dimaksud.

"Ok, tunggu sebentar" ucap orang itu.

Tak lama kemudian muncul sebuah notifikasi yang diketahui oleh Tiffany merupakan file yang ia minta.

"Aku sudah menerima filenya. Thanks, Matt"

"No problem"

Tut.

Tiffany segera memeriksa file itu dan segera menghubungkannya dengan alat pelacak yang sedang ia pegang saat ini. Karena tangannya yang gemetar, Tiffany harus memegang alat tersebut dengan sangat erat untuk mencegahnya agar tidak terjatuh.

Ryan Reszrey.. John Reszrey.. Jean Westly..

Ketiga nama itu mungkin saja merupakan pemilik posisi yang ditunjukkan oleh alat pelacak itu.

Tiffany melihat satu titik yang ia yakini titik itu adalah milik Jean. Lalu satu titik lagi yang mungkin saja merupakan milik ayah kandung Jean, karena posisinya berada ditempat yang tidak pernah ia datangi sebelumnya. Lalu satu titik terakhir, yang mana itu adalah lokasi yang sama dengan letak rumahnya.

Dengan kata lain, Ryan saat ini tengah berada dirumahnya.

Entah sebuah kebetulan atau tidak, Tiffany berusaha untuk tidak mempercayai apa yang dikatakan oleh Jean, tetapi satu titik yang ia lihat saat ini membuatnya semakin ragu untuk menganggap apa yang dikatakan Jean hanyalah sebuah kebohongan.

***A***

Tiffany memasuki rumahnya dengan langkah cepat. Berbagai sapaan para pelayan tak dihiraukannya. Yang ia inginkan saat ini hanyalah memastikan seseorang ada di rumahnya saat ini ataukah tidak.

Tiffany berlari menaiki tangga untuk menuju ke lantai dua. Tujuannya adalah ke kamar pria itu.

Beruntung, Tiffany melihat Ferguso yang mungkin saja bisa memberitahunya informasi dimana keberadaan Ryan sekarang.

"Ferguso, apa kau melihat Ryan?" tanya Tiffany.

Namun yang ditanya tak memberikan jawaban sama sekali.

Dan apa yang dilakukan oleh Ferguso selanjutnya justru membantah pemikirannya sebelumnya.

Tidak, dirinya sedang tidak beruntung.

"Ferguso, apa yang kau lak-.." ucap Tiffany seiring dengan hilangnya kesadarannya.

***A***

"Engh.."

Tiffany mengerjapkan matanya pelan guna menyesuaikan penglihatannya dalam ruangan minim cahaya tempatnya berada saat ini.

Saat penglihatannya kembali seperti semula, sangat mengejutkan baginya melihat seorang pria yang tak ia kenal, berdiri tepat dihadapannya.

"Kau siapa?"

Pria tak dikenal itu awalnya terdiam hingga beberapa saat kemudian mengeluarkan suara, "Saya Ferguso, nona"

"Dan kau fikir aku percaya? Ferguso adalah pria paruh baya yang mengabdi kepada ayahku dan usianya sama seperti ayahku. Jadi hentikan omong-kosongmu dan lepaskan tanganku!"

Tak terpengaruh dengan teriakan Tiffany, pria itu mengambil sesuatu dari balik celananya lalu memasang benda itu diwajahnya hingga wajah yang semula tak dikenali oleh Tiffany itu, perlahan berubah menjadi sosok yang sangat ia kenali.

"Ferguso.. "

"Maafkan saya melakukan ini, nona" ucap Ferguso dengan menundukkan kepalanya.

Ucapan Ferguso, dan apa yang pria itu lakukan sontak menyadarkan dirinya akan sesuatu. "Jadi sejak awal kau memang mengabdi pada Ryan dan bukan kepada ayahku, benar?"

"Ya."

Dalam hatinya, Tiffany ingin sekali memberikan pelajaran kepada pria yang telah membohonginya itu. Namun kondisi tangan yang terikat membuatnya tak mampu melakukan apapun selain berusaha sekuat tenaga agar tali itu terlepas.

Brak

Suara pintu terbuka, mengalihkan perhatian Tiffany dari usahanya membuka tali yang mengikat tangannya.

Setelah apa yang ia dengar dari Jean, dan bagaimana Ferguso memperlakukannya saat ini, Munculnya seseorang setelah pintu itu terbuka tak lagi terlalu mengejutkan baginya.

"Apakah seperti ini dirimu yang sebenarnya, Ryan Reszrey?"

***Tbc***

ANGUSTIAS [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang