Mata birunya menjadi satu-satunya yang terlihat menonjol dibalik topi dan masker hitam yang ia kenakan.
Ryan berjalan menyusuri tiap lorong bercat putih itu. Kedatangannya untuk melihat sosok yang sangat ia rindukan.
Namun tidak dengan memperlihatkan jati dirinya dihadapan sosok itu, Ryan lebih memilih berdiri dari balik kaca tembus pandang yang berada dibagian tengah pintu bercat putih khas dekorasi Rumah Sakit.
Tangannya mengepal, ia merindukan sosok itu. Sangat malah. Tetapi yang dapat ia lakukan hanyalah menatap sosok itu dari jauh seperti saat ini.
Namun ia tahu, apa yang ia lakukan saat ini tentu akan berbahaya jika dilihat oleh orang yang mengenalinya. Karena itulah, Ryan segera meninggalkan tempat itu setelah satu menit lamanya.
Disisi lain, Tiffany membuka pintu kamar rawat Diva berniat keluar untuk mencari makan. Namun apa yang dilihatnya cukup membuat dirinya terkejut.
Dia tidak mungkin salah. Bahkan hanya dengan melihat sosok itu dari belakang, Tiffany yakin betul jika pria yang berjalan dengan langkah terburu-buru itu adalah Ryan.
Lagi-lagi Tiffany merasa sangat terganggu dengan fakta bahwa Ryan memilih untuk mengikutinya secara diam-diam.
Tiffany masih memikirkan alasan apa yang menyebabkan Ryan tidak menemuinya secara langsung tetapi panggilan seseorang yang tiba-tiba, sontak menyadarkannya kembali kedunia nyata.
Tubuh Tiffany membeku.
Dirinya tak berniat membalikkan badan untuk melihat si pemanggil namanya. Ia belum siap. Tidak, tidak apabila bayangan malam itu kembali menganggu pikirannya.
"Kurasa kita perlu bicara." ucap Jean.
***A***
Saat Jean mengajaknya membahas hal serius di Rumah Sakit, Jean dan Tiffany memutuskan untuk membahasnya di rumah Tiffany. Karena keduanya tahu, apa yang akan mereka bahas bukanlah suatu pembahasan yang sederhana.
Semuanya menyangkut apa yang akan mereka lakukan untuk memenuhi permintaan Diva dan yang terpenting adalah apa yang akan mereka lakukan setelah kejadian beberapa hari yang lalu.
Saat ini Tiffany sedang membersihkan diri sementara Jean menunggunya di ruang tengah.
Tanpa diketahui oleh Jean, bahwa Tiffany sengaja mengulur waktu dengan mandi sedikit lebih lama.
Tetapi akan menjadi aneh jika kegiatan mandinya tetap belum selesai juga disaat dirinya telah berada di kamar mandi sejak satu jam yang lalu.
Tiffany menguatkan hatinya. Dari semua yang ia rasakan, yang paling dominan adalah rasa malunya.
Ya, ia terlalu malu untuk bertemu Jean. Tetapi bagaimana lagi, mau tidak mau dirinya harus keluar dan menyelesaikan masalah ini.
"Berhenti bersikap seperti gadis polos, Tiffany. Kau bahkan bukan gadis lagi sejak malam itu" lirih Tiffany. Mencoba menyugesti dirinya sendiri.
Pada akhirnya Tiffany pun memutuskan untuk mengakhiri kegiatan 'bersembunyi' nya.
Namun saat Keluar dari kamar mandi, betapa terkejutnya ia ketika Jean yang ia fikir masih berada di ruang tamu, justru sedang berdiri di dalam kamarnya sekarang.
"Bisakah kau keluar? Aku akan berganti baju lebih dulu"
Jean yang sebelumnya memunggungi Tiffany, kini berbalik hingga dirinya dapat dengab jelas melihat Tiffany yang masih memakai bathrobe.
KAMU SEDANG MEMBACA
ANGUSTIAS [END]
General FictionKehidupan Delora Angustias Wyanet yang menyedihkan membuat dirinya berusaha untuk hidup lebih baik sebagai sosok yang baru. Sayangnya, masa lalu sang ibu seolah terus menjadi sumber utama dalam setiap kesedihan yang ia alami. Bahkan, dalam perjalana...
![ANGUSTIAS [END]](https://img.wattpad.com/cover/159229034-64-k595402.jpg)