In Virginia
Dari jarak jauh dapat Ryan lihat aktivitas yang sedang ayahnya lakukan. Dan dalam jarak lima langkah saat ini, apa yang dilakukan oleh sang ayah pun semakin terlihat lebih jelas.
Ayahnya tak melakukan apapun sebenarnya, selain hanya mengamati tanaman yang ia tahu merupakan tanaman langka yang jarang dimiliki oleh orang lain. Bahkan tak disangka pula olehnya jika di gedung rahasia milik keluarga Reszrey ternyata menanam tanaman yang satu itu.
"Aku baru menyadari jika tanaman ini ada"
"Itu karena kau terlalu fokus pada Stephanya. Bahkan lebih memilih tinggal bersama ayahnya dari pada ayahmu sendiri." sindir John.
"Bisakah kita tidak membahas itu"
Seperti permintaan Ryan, John pun membahas hal lain, "Apa kau tidak bertanya mengapa aku menanam tanaman ini?"
"Jawab saja meskipun aku tak bertanya"
John tertawa pelan seolah perkataan sinis Ryan merupakan lelucon baginya. Sesungguhnya, John menolerasi jika kedua putranya cenderung sinis terhadapnya. Toh, dirinya pun bukanlah ayah yang baik.
"Jean membutuhkan ini untuk mengobati penyakit mentalnya setelah mengetahui bahwa aku adalah ayahnya"
Dengan nada jenaka John kembali melanjutkan ucapannya, "Apakah aku seburuk itu sampai mental anakku saja terganggu setelah mengetahui bahwa aku ayahnya?"
Ryan membalasnya dgn mengatakan, "Bahkan lebih buruk dari bayanganmu."
John menghembuskan nafasnya pelan. "Karena itulah, aku sedang mencoba untuk memperbaikinya sekarang"
***A***
Di ruangan itu telah tersaji banyak jenis makanan. Di ruangan itu pula, empat orang yang memiliki ikatan tertentu, saling bertemu bersama untuk pertama kalinya.
Diva, John, Jean, dan Ryan.
Pertemuan mereka adalah pertemuan yang dirancang sendiri oleh John. Seperti katanya, ia akan memperbaiki semuanya.
Suasana yang tercipta tak lain adalah suasana canggung. Tentu saja, keempatnya memiliki cerita tersendiri yang memungkinkan terjadinya kecanggungan menjadi lebih terasa.
"Ekhm" ucap seseorang yang merupakan suara Jean.
"Aku berterimakasih karena kau bersedia datang dan mengikuti pertemuan ini, Diva."
Diva tersenyum sebagai respon dari ucapan terimakasih John. Bagaimanapun, dirinya dan mantan suaminya itu telah cukup tua untuk masih terbayang akan kenangan masa lalu.
"Aku senang, setelah sekian lama kita bisa bertemu kembali. Jean dan Ryan bisa menikmati makan malam disatu meja yang sama, dan terpenting adalah.." John menengok kearah Ryan yang duduk disampingnya tanpa mengucapkan apapun sejak tadi. "Ryan bisa kembali bertemu dirimu."
Dalam diamnya, Ryan terus menyembunyika tangan gemetarnya agar tak disadari oleh ketiga orang yang berada didalam ruangan yang sama dengannya saat ini. Karena itulah, ia bahkan tak menyentuh gelas air putih didepannya sejak ia tiba di tempat itu.
"Ryan.." ucap Diva pelan. Itu adalah sapaan pertamakali dari Diva kepada Ryan setelah sekian lama.
Ya, setelah sekian lamanya.
Oleh karena itu, bahkan sebelum Diva selesai melanjutkan ucapannya, Ryan telah lebih dulu memilih beranjak dari tempat duduknya.
"Kurasa kita bukanlah keluarga harmonis yang bisa dengan santai melakukan makan malam bersama. Terlebih, dengan kehadiran pria itu disini." ucap Ryan dengan mata yang menatap tajam kearah Jean yang memilih untuk tak peduli dengan perkataan Ryan.
"Ryan!" Bentak John
"Maaf karena aku tak bisa melanjutkan kegiatan ini." lanjut Ryan, lagi. Lalu berjalan keluar meninggalkan semua orang yang ada didalam ruangan itu.
"Ryan!!"
Panggil John lagi, namun tak ada tanggapan sama sekali ataupun niat Ryan untuk menghentikan langkahnya.
John menghembuskan nafasnya, mencoba mengendalikan emosi karena tingkah laku sang putra.
"Sejujurnya itu adalah ucapan paling sopan yang pernah kudengar darinya." ucap John dengan sedikit tawa untuk mencairkan suasana.
Tak ada yang menyadari, jika alasan sebenarnya Ryan meninggalkan ruangan itu segera adalah karena air matanya yang telah menuntut keluar sejak tadi.
***A***
Hari itu Tiffany memilih mendatangi makam ayahnya.
Dengan masih mengenakan seragam FBI, Tiffany mengunjungi makam sang ayah sembari membawa sebuket bunga mawar putih.
"Mungkin sedikit aneh, mengunjungi ayah dengan seragam FBI. Tidak, aku tidak bermaksud menyeliki makam ayah." ucap Tiffany merasa sedikit lucu diakhir ucapannya. "aku hanya ingin menunjukkan bahwa aku telah berhasil mewujudkan impianku."
"Meskipun begitu, hari ini merupakan hari terakhirku di kantor hingga nanti aku selesai mengandung. Karena bagaimanapun, aktivitasku sebagai agen FBI jelas akan berbahaya bagi janinku yang masih dalam fase trisemester awal."
Tiffany tahu, jika apapun yang ia ucapkan tak akan mendapatkan jawaban apapun dari sang ayah. Namun tetap saja, ia hanya ingin menceritakan hal yang ingin ia sampaikan kepada ayahnya. Tak peduli jika ayahnya memang akan mendengarnya di alam sana ataukah tidak.
"Aku sudah memutuskan untuk berdamai dengan masa lalu dan akan berusaha menemukan kebahagiaan dimasa mendatang. Karena itu, jangan khawatirkan aku, ayah."
"Entah bagaimana wujudnya, yang pasti jika takdir buruk sudah bersamaku selama ini, suatu saat takdir baik pun pasti akan menghampiriku disaat yang tepat."
***Tbc***

KAMU SEDANG MEMBACA
ANGUSTIAS [END]
Fiction généraleKehidupan Delora Angustias Wyanet yang menyedihkan membuat dirinya berusaha untuk hidup lebih baik sebagai sosok yang baru. Sayangnya, masa lalu sang ibu seolah terus menjadi sumber utama dalam setiap kesedihan yang ia alami. Bahkan, dalam perjalana...
![ANGUSTIAS [END]](https://img.wattpad.com/cover/159229034-64-k595402.jpg)