Dengan cepat Delora berlari lalu memeluk erat tubuh ayahnya yang terbaring tak bernyawa dilantai putih yang telah dipenuhi dengan bercak merah dari darah sang ayah.
Tangisan Delora seketika menggema di dalam ruangan itu memberikan kesan memilukan yang dapat ditangkap jelas oleh siapapun yang mendengarnya.
Salah satunya, oleh Ryan yang saat ini tengah menatap kosong kearah dua objek yang sudah tak bernyawa didepannya.
Ayah Delora dan kekasihnya.
Melihat pemandangan mengerikan itu membuat Ryan semakin menggenggam erat pistol yang berada ditangan kirinya. Namun entah apa yang terjadi hingga rasanya seluruh tenaganya hilang secara mendadak hingga tangannya yang semula mampu memegang pistol itu dengan erat, kini hanya bisa merasakan tangannya yang gemetar dan tak mampu ia kendalikan.
Tidak, tidak hanya tangannya saja. Namun seluruh tubuhnya kini tak dapat ia kendalikan. Dengan seluruh kendali yang hilang itu, tubuhnya terjatuh dilantai yang dingin itu karena tak mampu lagi menahan kakinya sendiri untuk berdiri.
Sementara itu, cukup lama Delora menangis sembari memeluk tubuh ayahnya yang tak lagi bernyawa hingga kemudian kembali sadar dengan apa yang tadi dilihatnya.
Delora menolehkan kepalanya kebelakang hingga dapat dilihatnya Ryan yang saat ini menatap kosong kearahnya.
Tangan Delora mengepal, mencoba mengumpulkan tenaga untuk bangkit lalu berjalan mendekat kearah pria itu.
PLAK.
"Itu karena kau membunuh ayahku"
PLAK
"Itu karena kau membunuh Moly"
PLAK
"Itu karena kau bahkan tak mengeluarkan air mata setelah membunuh mereka"
PLAK
"Dan itu.. Itu karena kau telah membuatku kembali kehilangan harapan untuk hidup. KENAPA KAU MEMBUNUH AYAHKU BRENGSEK!!"
Tangan Delora mencengkram erat kerah kemeja Ryan hingga membuat tubuh pria itu sejajar dengan nya.
"Apa kau membenci ayahku karena dia memintamu menemaniku? Apakah kau membencinya karena selama ini ayahku berbuat jahat padamu? Jawab aku Ryan!!"
Tak ada jawaban apapun dari pria itu hingga membuat Delora semakin mengeratkan tangannya yang mencemgkram kerah kemeja pria itu. "Aku tahu sekarang... Sebegitu marahkah kau karena tidak bisa memiliki Moly yang merupakan kekasih ayahku? Kau cemburu hingga membunuh mereka, hah!?"
"JAWAB AKU RYAN!!"
Tetap tak ada jawaban apapun.
Sudah cukup. Delora putus asa, kecewa, marah, dan membenci pria itu disaat yang bersamaan.
"Kau mengerikan, Ryan."
Langkah kaki Delora semakin membuatnya menjauh dari tubuh Ryan. Namun hal yang tak terduga pun terjadi, Ryan menarik tangan Delora dan memeluknya. Sangat erat.
"Aku akan menjelaskannya-" bisik Ryan tepat ditelinga Delora. Sangat terdengar nada lemah pria itu saat mengucapkannya.
"Lepaskan.. Lepaskan!!" Dengan sisa tenaganya, Delora mendorong tubuh Ryan yang memeluknya.
Namun Ryan tak menyerah begitu saja, lagi lagi ia berusaha menarik tangan wanita yang berniat menjauh darinya itu meskipun selalu ditepis oleh Delora.
"Menjauh dariku!"
"Dengarkan aku Delora!"
"Tidak! Aku tidak akan mempercayaimu lagi brengsek!!"
"Tenanglah Delora!! Aku akan menjelaskan ini nanti.. Bisakah kau menunggu? Aku.. Aku.. Sama terkejutnya denganmu.."
KAMU SEDANG MEMBACA
ANGUSTIAS [END]
General FictionKehidupan Delora Angustias Wyanet yang menyedihkan membuat dirinya berusaha untuk hidup lebih baik sebagai sosok yang baru. Sayangnya, masa lalu sang ibu seolah terus menjadi sumber utama dalam setiap kesedihan yang ia alami. Bahkan, dalam perjalana...
![ANGUSTIAS [END]](https://img.wattpad.com/cover/159229034-64-k595402.jpg)