Tubuh Tiffany terpental setelah ia membantingkan sendiri tubuhnya dikasur itu. Matanya terpejam. Mencoba menetralkan degupan jantungnya.
Setelah melihat Ryan, Tiffany memutuskan untuk masuk kedalam kamar sebelum pria itu menyadari keberadaannya.
Tidak, dirinya tak lagi terlalu merasa malu karena pernah menyatakan cinta kepada Ryan. Karena bagaimanapun, ia bahkan sempat merasakan rasa malu yang lebih besar kepada orang lain.
Hanya saja dirinya belum siap jika harus berhadapan langsung dengan Ryan setelah sekian lama.
"Nona, makan malam sudah siap"
Ferguso?
"Y..ya, aku akan kesana setelah berganti baju"
Mau tak mau. Benak Tiffany
***A***
Suasana makan malam itu kembali seperti dulu. Tiffany duduk dikursinya ditemani oleh Ryan yang juga pada akhirnya kembali mengisi kekosongan tempat duduk itu, setelah sekian lama.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Ryan untuk membuka percakapan setelah beberapa lama terdiam.
"Baik" jawab Tiffany singkat.
Itu adalah pembicaraan yg canggung.
"Lalu, bagaimana denganmu?"
Dan aku membuat ini menjadi lebih canggung. Keluh Tiffany.
"Sama sepertimu."
Tiffany ingin sekalimenghentikan pembicaraan canggung itu. Ia berfikir, membahas perihal tiga tahun lalu mungkin sebuah ide yang bagus.
Meskipun harus mengesampingkan rasa malunya terlebih dahulu, tentunya.
"Tentang apa yang ku katakan terakhir kali, kuharap kau-"
"Apakah perasaanmu masih sama?" ucap Ryan memotong perkataan Tiffany.
Tiffany terdiam. Entah karena pertanyaan itu terkesan tak terduga ataukah karena hal lain yang membuat Tiffany tak tahu harus menjawabnya seperti apa.
Cukup lama ia memikirkan jawaban dari pertanyaan itu, sebelum mengatakannya.
"Minggu depan, pernikahanku akan dilaksanakan" jawab Tiffany akhirnya. Mungkin tidak sesuai dengan pertanyaan itu, tapi itulah satu satunya jawaban yang ada dalam benak Tiffany saat ini.
Tiffany bisa melihat jika gerakan tangan Ryan mulai melambat. Pria itu seperti.. kehilangan selera makan?
"Stephanya"
Disaat yang sama, Tiffany menyadari jika Ryan mulai menatap matanya dengan tatapan yang berbeda dari biasanya. Hal itu mengejutkannya terlebih saat merasakan Ryan bahkan menggenggam tangannya.
"Mulai sekarang akan seperti ini. Besok, setelah mengurus semuanya, aku akan menjemputmu. Kita pergi, dan tidak ada pernikahan antara dirimu dan Jean."
DEG
Sungguh, Tiffany tak pernah menyangka ucapan itu akan disampaikan oleh sosok yang kini menggenggam erat tangannya itu.
Tapi kenapa? Kenapa disaat situasinya tidak lagi sesederhana dulu?
Perlahan Tiffany menarik tangannya dari genggaman Ryan, membuat Ryan harus berusaha sekuat tenaga untuk tak memperlihatkan ekspresi keterkejutannya akan respon Tiffany.
Tiffany tersenyum miris.
"Ada janin yang sedang ku kandung saat ini."
Kali ini Ryan bahkan tak tahu harus bereaksi seperti apa selain hanya terdiam, mencerna apa yang baru saja ia dengar.
Jawaban yang sangat tak ia prediksi sebelumnya. Jawaban yang membuatnya kehilangan kata-kata.
Sedangkan Tiffany merasa air matanya akan keluar sebentara lagi hingga ia memutuskan bangkit dari tempat duduknya dan segera berjalan kembali ke kamarnya.
Tetapi,
"Besok pukul tiga sore. Aku akan menjemputmu."
Apa yang dikatakan oleh Ryan berhasil mengentikannya.
***A***
"Bagaimana tuan?" tanya seorang pelayan.
Jean melihat kearah gaun yang dikenakan oleh Tiffany dengan tatapan menilai.
"Ganti." putus Jean.
Tiffany menghembuskan nafasnya pelan. 'Tak bisakah pria ini berhenti membuat pelayan repot karena harus memakaikanku banyak gaun?' keluh Tiffany dalam hati.
Ia tahu, pelayan yang membantunya melepas dan memakai gaun sejak tadi sebenarnya sudah lelah melayaninya.
Dan bahkan dirinya pun merasakan hal yang sama.
Dengan sedikit memaksakan diri, Tiffany kembali masuk kedalam tirai putih itu untuk mengganti gaun yang ia kenakan dengan gaun lain yang mengantri untuk dinilai oleh Jean. Lagi dan lagi.
"Permisi nona.." ucap si pelayan dengan nada sopan saat akan membuka resleting gaunnya.
Dan Tiffany pun mempersilahkan.
Tiffany melihat pantulan dirinya dalam cermin. Namun sesungguhnya, yang menjadi fokusnya saat ini adalah sesuatu yang terpantul dalam cermin itu.
Jam dinding, yang menunjukkan pukul 2 siang.
Satu jam lagi, pikirnya.
Jauh dalam hatinya, Tiffany merasa begitu penasaran dengan kebenaran yang dikatakan oleh Ryan kemarin. Pria itu akan menjemputnya sore ini. Dan itu berarti, satu jam lagi.
Mata Tiffany terpejam. Memikirkan segala kemungkinan yang bisa saja terjadi hari ini.
Sejujurnya, hingga detik ini pun dirinya belum memutuskan apapun. Jika ia pergi, maka kesehatan sang ibu menjadi tanggungannya. Dan jika ia memilih untuk tetap tinggal, maka...
Entahlah.
Karenanya Tiffany berharap dalam satu jam dirinya dapat memutuskan semuanya dengan benar jika memang Ryan serius dengan apa yang ia katakan.
Namun lagi-lagi, Tuhan seperti tak pernah mau mendengarkan doanya. Karena saat ini kedua matanya dengan jelas melihat sosok Ryan telah berdiri dibalik tirai yang terbuka secara perlahan.
Sungguh, dirinya sangat terkejut.
Pria keras kepala itu membuktikan ucapannya satu jam lebih cepat dari yang ia katakan.
***Tbc***

KAMU SEDANG MEMBACA
ANGUSTIAS [END]
General FictionKehidupan Delora Angustias Wyanet yang menyedihkan membuat dirinya berusaha untuk hidup lebih baik sebagai sosok yang baru. Sayangnya, masa lalu sang ibu seolah terus menjadi sumber utama dalam setiap kesedihan yang ia alami. Bahkan, dalam perjalana...
![ANGUSTIAS [END]](https://img.wattpad.com/cover/159229034-64-k595402.jpg)