Chapter 25. For Her

68 8 0
                                        

Entah diriku yang menjadi bimbang dengan semua ini atau mungkin karena hal lain yang tak ku mengerti.

Namun satu hal yang jelas adalah,
kulakukan semua ini untuk membahagiakannya.


***A***




(Flashback)

"Temui dia"

Tak ada basa basi sama sekali.

Tak ada senyum, dan bahkan tatapan ramah yang dilemparkan antar sepasang mata yang saling beradu itu.

Dua mata dengan tingkat tatapan tajam yang sama.

Meski dengan posisi yang berbeda. Ryan yang duduk di kursi singgasananya dan Jean yang berdiri dengan kedua tangan yang dimasukkan kedalam saku celananya.

Seulas senyum terbit dari bibir Ryan. Seolah memberikan sedikit kehangatan dalam suasana dingin yang tercipta di ruangan itu.

Namun tidak. Makna senyum itu bukanlah suatu hal yang baik.

"Berhenti berpura-pura, Jean Westly. Kau tentu tahu alasanku meninggalkannya." ujar Ryan dengan nada menyindir.

Kali ini senyuman sinis justru menghiasi wajah Jean. "Kau mengetahui pengirim dokumen itu rupanya."

Mendengar ujaran kalimat yang terucap dengan begitu santainya dari bibir Jean membuat Ryan harus berusaha menahan segala emosi dalam dirinya.

"Katakan, siapa kau sebenarnya Jean Westly"

Jean menaikkan satu alisnya keatas. "Aku? Yang pantas diberi pertanyaan, aku ataukah dirimu, Jendral Ryan?"

Tangan Ryan semakin mengepal sebagai bukti betapa emosinya telah berada diujung tanduk sekarang. Sedikit lagi, dan ia mungkin akan memukul wajah pria yang kini menatapnya dengan pandangan mengejek itu.

"Apa kau tahu betapa aku begitu muak dengan nama aslimu, Ryan Resz-"

BUGH

"Shit!" umpat Jean tatkala mendapatkan pukulan keras dipipi kanannya.

Tak berhenti sampai disitu, Ryan bahkan terus memukul Jean hingga wajah pria itu dihiasi oleh darah dibeberapa titik wajahnya.

Nafas Ryan berderu dengan keras. Matanya melihat tepat kearah Jean yang kini mencoba untuk berdiri melawan lemahnya kondisi tubuhnya akibat pukulan bertubi-tubi dari Ryan.

Namun seolah tak terpengaruh, Jean yang kini berhasil berdiri dengan kepala yang sedikit pusing dengan santainya memegang dua sisi bahu Ryan.

"Dengan otak pintarmu itu, kuharap kau menyesal memukulku hari ini." ujar Jean yang tak direspon apapun oleh Ryan.

Biar saja, fikir Jean. Toh ia tak mengharapkan lagi respon apapun dari Ryan.

Jean bahkan sudah berbalik dan berniat pergi dari ruangan itu. Namun satu hal kembali teringat di kepalanya.

Tujuannya datang ketempat yang menurutnya terkutuk itu.

Membuat ia mau tak mau harus menghentikan langkahnya sejenak.

"Temui dia, dan katakan yang sebenarnya."

Itilah ucapan terakhir Jean sebelum benar-benar meninggalkan ruangan itu.

Sementara Ryan membuang setiap barang yang ada diatas meja kerjanya sebagai pelampiasan emosi yang ia rasakan saat ini.

(Flashback Off)

Kembali terbayang dalam ingatannya ketika ia menemui Ryan beberapa hari yang lalu. Pukulan Ryan waktu itu bahkan membuatnya harus menjauhi Tiffany selama beberapa hari.

Dan ketika bekas pukulan itu mulai menghilang dari wajahnya, Tiffany justru berencana pergi ketempat yang jauh dalam waktu yang cukup lama.

Tiffany, atau Delora.

"Tunggulah disaat yang tepat dan aku akan kembali memanggilmu Delora, cantik." ujar Jean dengan senyuman mengandung makna yang tak pernah ditunjukkannya kepada siapapun.

***A***

"Baik-baik disana, nak. Jaga kesehatanmu, perhatikan sekelilingmu, jangan melakukan hal yang berbahaya, jangan memaksakan tubuhmu jika kau kelelahan, jangan-"

"jangan mengatakan 'jangan' lagi, bu." ujar Tiffany pada akhirnya. Membuat Diva yang sejak tadi berceloteh selama mengantar Tiffany keruang tengah, akhirnya tak meneruskan nasehatnya lagi.

"ibu hanya menghawatirkanmu, nak"

Tiffany terdiam.

Mungkin yang terlihat adalah, langkahnya berhenti karena saat ini ia telah berada tepat disisi pintu mobil yang akan mengantarnya ke Bandara.

Belum saja fikirannya rileks dengan kalimat terakhir yang didengarnya, kini dirinya dikejutkan dengan pelukan pria yang sejak tadi juga turut mengantarnya kehalaman depan.

Jean,

Pria itu memeluknya dengan begitu erat. Yang mengejutkan adalah, tubuh Tiffany bahkan menerima sepenuh hati pelukan itu.

Entah karena kalimat yang tadi membuat Tiffany membatu ataukah karena ia memang ingin merasakan pelukan terakhir pria itu sebelum kepergiannya selama tiga tahun lamanya.

"Kuharap pelukan ini berfungsi untuk mengikatmu selama tiga tahun berada jauh dariku."

Bisik Jean, yang Tiffany tahu datang dari sisi posesif pria itu.

Pelukan Jean semakin mengerat seiring dengan tiap detik yang berlalu, tapi bagaimanapun pada akhirnya pelukan itu harus dilepaskan juga.

Meskipun dengan sedikit ketidakrelaan Tiffany.

Memang malu mengakuinya, tapi.. Ya, seperti itulah yang ia rasakan.

Tiffany mendekati Diva. "Aku pergi bu" ujar Tiffany kemudian mengecup pipi ibunya itu.

Tak lama kemudian seorang pelayan membukakan pintu mobil untuknya. Itu adalah penanda jika ia harus pergi sekarang.

Tiffany memasuki pintu itu dan duduk tepat dibelakang kursi pengemudi.

Kini mobil yang membawanya itu telah melaju perlahan hingga kemudian mulai meningkatkan lajunya dengan kecepatan normal.

Namun berbeda dengan perasaannya yang justru menjadi tak normal.

Masih jelas teringat dalam fikirannya apa yang ia dengar beberapa saat yang lalu.

'Ibu hanya mengkhawatirkanmu, nak.'

Air mata Tiffany tanpa permisi membasahi kedua pipinya. Sungguh, tak tahu lagi betapa bahagianya ia ketika mendengar kalimat itu dari ibunya.

Ibu yang ia sayangi, sampai kapanpun.
Ibu yang akan ia selalu bahagiakan, bahkan dengan cara apapun.

Ibu yang akan ia selalu bahagiakan, bahkan dengan cara apapun

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
ANGUSTIAS [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang