Kehidupan Delora Angustias Wyanet yang menyedihkan membuat dirinya berusaha untuk hidup lebih baik sebagai sosok yang baru.
Sayangnya, masa lalu sang ibu seolah terus menjadi sumber utama dalam setiap kesedihan yang ia alami. Bahkan, dalam perjalana...
Jeanna baru saja selesai mengikuti rapat karena menggantikan posisi kakaknya yang telah pergi ke luar negeri sejak tiga tahun lalu.
Saat ini dirinya sedang berjalan kembali ke ruangannya dengan diikuti oleh Mark yang tetap setia menjadi asisten bahkan ketika saat ini ialah yang menjadi pemimpin sementara perusahaannya.
"Apa ada lagi jadwal setelah ini?" tanya Jeanna dengan keletihan yang begitu kentara.
"Tidak ada lagi, nona"
Oh, syukurlah!
Jeanna membuka pintu ruangannya. Baru saja masuk kedalam ruangan itu, ia dikejutkan dengan kehadiran sosok yang saat ini mengunjunginya di kantor untuk kali pertama.
"Oh, mom sudah lama tiba?"
"Baru saja. Bagaimana dengan rapatnya?" tanya Diva yang duduk disalah satu sofa di ruangan itu.
"Selesai dengan baik, seperti biasa."
"Kau pucat, nak. Berhentilah bekerja jika kau lelah"
"Beritahu dulu putra mom itu untuk berhenti berjalan jalan dan kembali bekerja" jawab Jeanna sembari menyandarkan kepala dikursi singgasana sementaranya itu lalu kemudian menutup matanya.
Oh, betapa lelahnya! Keluh Jeanna dalam hati.
"kakakmu tidak jalan-jalan Jeanna. Kau tahu jelas apa yang dia lakukan sekarang."
"Ya, membuntuti mantan calon pengantinnya, kan?" ujar Jeanna santai.
"Jangan seperti itu, nak. Bagaimanapun itu usaha kakakmu mengejar orang yang dia cintai"
"Lalu bagaimana dengan ku yang juga mulai menua tanpa pendamping ini, mom?"
"Memangnya kau berniat menikah?"
Mata Jeanna seketika terbelalak. "Mom!"
***A***
At Cafe Flore Marbella, Spain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Tak kusangka akan bertemu dirimu di Negara ini setelah tiga tahun lamanya. Apa yang kau lakukan?" tanya Tiffany yang sebelum memasukkan sepotong cake kedalam mulutnya. Hal yang sama juga dilakukan oleh Atthar sebelum menjawab pertanyaan Tiffany.
"Rennaya berada disini sekarang, ceritanya panjang hingga aku berpisah dengan istriku itu sampai saat ini. Meskipun begitu, diam-diam aku masih menemuinya tanpa ia sadari. Ah, dan terlebih aku juga memiliki seorang putri. Meskipun harus mencari cara agar Rennaya tidak menyadari bahwa aku selalu menemui putriku disaat aku merindukannya."
"Kau memiliki seorang putri? Berapa usianya?"
"Hampir menginjak tiga tahun"
Tiffany mengangguk pelan. "Sepertinya usia anak kita sama, aku juga memiliki seorang putra."