Kehidupan Delora Angustias Wyanet yang menyedihkan membuat dirinya berusaha untuk hidup lebih baik sebagai sosok yang baru.
Sayangnya, masa lalu sang ibu seolah terus menjadi sumber utama dalam setiap kesedihan yang ia alami. Bahkan, dalam perjalana...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Tiffany mengerjabkan matanya pelan.
Bukan untuk menyesuaikan dengan silaunya mentari pagi, karena pada kenyataannya ia terbangun disaat jam masih menunjukan pukul lima dini hari.
Ia mensyukuri itu, namun juga tidak mensyukurinya disaat yang bersamaan.
Ia mensyukurinya karena biasanya ia selalu terbangun ketika cahaya matahari sudah menembus tirai jendelanya. Dan ia tidak mensyukurinya karena waktu tidurnya hari ini sangat minim.
Dirinya baru tertidur saat pukul tiga dan itu artinya ia hanya tidur selama dua jam.
Perlahan Tiffany mendudukkan tubuhnya dan tak butuh berapa lama untuk merasakan pusing dikepalanya.
Ia menghela nafas pelan.
"Apa harus seperti ini?" tanya Tiffany entah kepada siapa. "Pria itu pergi, lalu apa salahnya? Ia hanya pergi, dan mengabaikanku. Itu keputusannya."
"Toh dia bukan siapa siapamu, Stephanya Xiu Waster." ucapnya lalu menertawakan diri sendiri.
"Ya. Meskipun dia pergi dan mengabaikanmu, tetapi dia hanya orang yang dipercayakan ayahmu untuk menjagamu. Lalu disaat usiamu sudah 25 tahun, apakah ada alasan pria itu tetap bersamamu? Nothing." Ucap Tiffany lagi lagi pada dirinya sendiri.