Chapter 21. S(he) Doesn't Know

98 8 0
                                        

Para pelayan secara bergantian datang untuk hanya sekedar menyajikan beragam makanan diatas meja makan itu. Padahal bukan makan malam romantis, namun tetap saja lilin - lilin cantik turut hadir sebagai penghiasnya.

Sejak tadi Tiffany terus melihat beraga makanan yang datang silih berganti. Banyak sekali, pikirnya.

"Apa akan ada orang lain yang makan bersama kita nanti?" tanya Tiffany pada akhirnya.

"Tidak."

"Lalu mengapa makanannya sebanyak ini, Jean?"

"Tentu saja. Kau harus banyak makan, Tiff."

"iya, tapi aku tak bisa menghabiskan makanan sebanyak ini"

"Bukan hanya kau. Tapi aku, kau dan.. dia yang saat ini berada diperutmu, Tiff" ujar Jean, menatap dalam kedua mata Tiffany.

Tiffany terhenyak.
"Apa maksudmu, Jean"

Tak ada jawaban apapun dari Jean. Pria itu hanya terus menatap wanita dihadapannya. Sedangkan Tiffany menatap Jean seolah menuntut pria itu untuk segera menjawab pertanyaannya.

Sedetik kemudian barulah terdengar tawa jenaka dari pria itu.

Tawa menggelegar yang membuat Tiffany merasa kesal setengah mati.

Pria itu menjahilinya. Sialan!

"Hanya ingin mencoba saja, Tiff. Aku penasaran dengan semua makanan di hotel ini." ujar Jean setelah berhasil meredakan tawanya. "dia yang kumaksud adalah cacing dalam perutmu. Mereka pasti kelaparan sejak tadi." lanjutnya.

Tiffany berdecak pelan mendengar jawaban simpel dan aneh dari pria dihadapannya.

Sisi kekanakan pria itu lagi. Tapi Tiffany tak masalah dengan sisi itu kali ini. Terkadang ia menyukainya, malah. Suasana akan menjadi lebih santai.

Seperti sekarang. Keadaan kembali seperti semula. Jean yang selalu berkata manis dan aneh disaat yang bersamaan dan dirinya yang meresponnya dengan decakan atau tawa karena candaan pria itu.

Ia menikmatinya.

Ya, ia memang menikmatinya. Setidaknya sampai pria itu mengatakan sesuatu yang mengejutkankan sekali lagi.

"Toh suatu saat kau memang akan mengandung anakku. Jadi anggap saja ucapanku tadi sebagai simulasi."

Benarkah seperti itu? Bahkan seperti apa akhir dari hubungan ini nanti, aku tak mampu menebaknya.

***A***


Setelah menyantap berbagai makanan, sekarang keduanya memilih untuk menghabiskan waktu berjalan ditepi pantai.

Disekeliling mereka, banyak pula orang orang yang turut menghabiskan waktunya dengan berselancar, berjemur maupun hanya sekedar bercengkrama ria dengan kerabat ataupun kekasih mereka.

Terlihat menyenangkan.

Terik matahari cukup terang. Untung saja Tiffany membawa topi tadi. Paling tidak dirinya tidak kesulitan jika harus melihat kearah Jean yang memiliki tinggi cukup berbeda dengannya.

Seperti yang ia lakukan saat ini, ketika Jean mengajaknya berbicara.

"Kau belum mengingatnya?"

Tiffany tentu tahu apa yang dimaksud oleh pria itu. Sesuatu yang ia sembunyikan. Ingatannya.

"Kurasa begitu." jawab Tiffany singkat.

ANGUSTIAS [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang