Chapter 24. Three Years

74 8 0
                                        

Sudah lima hari lamanya sejak Jean menunjukkan perilaku tak biasanya kepada Tiffany. Hal itu tentu membuat Tiffany bingung harus bersikap seperti apa ketika sang ibu terus menanyakan perkembangan hubungan keduanya.

Seperti hari ini, dirinya harus memutar otak agar sang ibu berhenti membahas hal yang membuatnya ingin pulang saja.

"Lihatlah gaun itu, nak. Ibu ingin kau memakainya saat menikah nanti"

Itulah pernyataan kesekian kalinya yang Diva sampaikan dan hanya dibalas dengan jawaban seadanya oleh Tiffany.

Saat ini keduanya memang sedang berada di pusat perbelanjaan. Tujuan mereka adalah untuk membeli pakaian harian, namun entah mengapa ibunya itu selalu terpana tiap kali melihat gaun pernikahan yang terpajang ditubuh para manekin.

Drrt.. Drrt..

Bunyi dering itu terdengar dari dalam tas yang dibawa oleh Diva. Dengan cepat, ia mengambil sebuah benda yang menjadi sumber bunyi itu.

"Ya, Jean?"

Jean?

Mendengar satu nama itu membuat perhatian Tiffany menjadi terfokus kepada Diva yang berdiri tepat disampingnya. Tanpa sadar dirinya menatap penasaran sosok ibunya yang kini juga menatapnya dengan ekspresi berbeda.

Apa yang dikatakan Jean? Apa dia memberitahu ibu soal..

Tut.

Panggilan itu selesai, dan,

"Ibu tidak menyangka kau sudah melakukan itu, nak"

Jean, apa kau sungguh mengatakan soal Ryan kepada ibu?!

"Apa maksud ibu?"

"pendaftaranmu"

Oh!

Tiffany menghembuskan nafasnya lega.

"Itu, aku ingin mengatakan hal itu kepada ibu saat aku menerima surat konfirmasinya bu. Maafkan aku"

"Suratnya sudah diantar ke rumah, nak"

Tiffany terkejut dengan ucapan ibunya. Tunggu, ibu tahu soal pendaftaranku setelah Jean menelfon, itu berarti..

"Suratnya ada di Jean, kau temui saja dia saat pulang nanti"

Benar saja!

***A***

Surat itu ada pada Jean, dan itu menjadi alasan mengapa Tiffany berada dikamar pria itu saat ini.

Tapi,

Pria itu tidak ada.

Baiklah.

Tiffany segera menutup kembali pintu kamar Jean dan melangkah untuk memasuki pintu lain yang tak jauh dari kamar Jean. Itu adalah pintu kamarnya sendiri.

Lebih baik mengistrahatkan dirinya sebelum menemui pria itu. Entah dia dimana sekarang.

Yang pertama ia lakukan setelah membuka pintu kamarnya adalah melangkahkan kaki mendekat menuju tempat tidur berukuran king size miliknya.

Tas beserta blazer yang ia kenakan, ia lemparkan dengan tak peduli ke kursi yang tak jauh dari ranjangnya. Setelah badannya terasa ringan dengan pakaian tipisnya, barulah Tiffany merebahkan tubuhnya dikasur empuk itu.

"Kita akan menikah, biasakanlah dirimu untuk menaruh barang dengan baik."

Tubuh Tiffany tersentak tatkala suara Jean tiba tiba terdengar. Pria itu suka sekali muncul entah dari mana, membuat Tiffany berfikir untuk meningkatkan kepekaannya lain kali.

ANGUSTIAS [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang