Chapter 19. Connection

87 8 1
                                        

6 Bulan Kemudian.

At Modified Restaurant

Kaki jenjangnya membawanya menyusuri lorong demi lorong di restaurant berbintang langganan para kaum borjuis

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Kaki jenjangnya membawanya menyusuri lorong demi lorong di restaurant berbintang langganan para kaum borjuis. Tidak, ia tak datang kemari untuk menunjukan bahwa dirinya adalah bagian dari kaum yang dianggapnya berlebihan itu, ia hanya akan menemui seseorang. Seseorang yang saat terakhir kali pertemuan mereka terjadi, membuat wanita itu merasa perlu membersihkan salah satu bagian tubuhnya sebersih mungkin.

Dan, disinilah ia. Tepat diseberang meja tak jauh dari tempat pria itu duduk.

"Ingin meminta bantuan lagi, hm?" sindir Tiffany. Atthar tahu betul maksud wanita dihadapannya itu menyindir kejadian beberapa bulan lalu.

Masih ia ingat dengan jelas bagaimana ia membantu Atthar ketika itu, dan tentu saja bagaimana pria itu tiba tiba menelfonnya tanpa tahu jika Ryan lah yang mengangkat panggilan pria itu. Alhasil, usahanya membohongi semua orang bahwa dirinya telah lupa ingatan seketika sia-sia saja. Terlebih, Ryan lah yang pertama kali mengetahui kebohongannya saat itu.

Atthar terkekeh pelan. "Aku hanya merindukanmu."

Tiffany mendengus mendengar ujaran pria dihadapannya itu. Merindukan? Yang benar saja.

"Sekarang apa lagi memangnya? Katakan saja jika ada sesuatu yang ingin kau ceritakan padaku. Jangan mengatakan hal yang membuatku semakin geli terhadapmu"

"Hei! Jangan bilang kau masih mengingat kejadian itu, aku sudah meminta persetujuanmu dan kau menyetujuinya, jika kau lupa."

"Karena aku adalah sahabat yang baik." jawab Tiffany cepat.

"Ya, dan karena kau sahabat yang baik maka aku ingin menemuimu saat ini."

"Ya, karena itulah aku memintamu memberitahuku maksud dari ratusan pesan masuk mu tadi, Atthar" ucap Tiffany, bosan.

Atthar menghembuskan nafasnya pelan, ekspresinya seketika berubah sesaat sebelum mengutarakan apa yang sejak tadi ingin ia katakan. "Rennaya sudah pergi."

Tak ada ekspresi terkejut dari Tiffany seperti yang sudah diperkirakan oleh Atthar sebelumnya. "Benarkah? Itu bagus" ucapnya santai.

Ucapan Tiffany yang begitu santai sangat berbanding terbalik dengan reaksi Atthar saat ini. Membuat Tiffany menyadari jika dirinya telah salah dalam memilih kata.

"Maksudku, bukankah kau memang menginginkan itu? Kau sampai memintaku membantumu menjadi kekasihmu, dan bahkan membuatku terpaksa menerima ciu-"

"Ya, kau benar. Tetapi ini tidak semudah yang kau bayangkan Tiffany. Mungkin kau tidak mengerti karena kau tidak pernah merasakan yang namanya jatuh cinta. Percayalah, jika kau mencintai seseorang, kau bahkan tak bisa jika tak bertemu orang yang kau cintai sehari pun."

Tiffany terdiam sesaat.

"Ku rasa kau saja yang berlebihan." ucap Tiffany pada akhirnya.

Tak ada tanggapan dari Atthar. Percuma juga menjelaskannya pada sosok wanita dihadapannya. Toh, mereka memang tidak memiliki pengalaman yang sama dalam hal cinta. Pikir Atthar.

ANGUSTIAS [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang