Tiffany dan Atthar tak tahu lagi harus kemana. Disisi lain, Tiffany belum juga memiliki minat untuk kembali ke rumah.
Mungkin itulah alasan hingga keduanya memutuskan datang ke tempat yang tak mereka rancanakan sebelumnya.
Night Club.
"Datang ketempat ini mengingatkanku saat pertamakali bertemu denganmu." ucap Tiffany yang merasa bernostalgia dengan masalalu.
Hal itu disetujui oleh Atthar yang menganggukkan kepalanya. "Ya, aku ingat. Kau sedang bersama seorang pria waktu itu. Ah, siapa namanya?"
"Ryan."
"Ya, Ryan. Kurasa dia menyukaimu dulu."
Tiffany terkesiap dengan ucapan mendadak Atthar.
"Dan kau pun menyukainya, kan?"
Kali ini bukan hanya sekedar terkesiap, tetapi Tiffany bahkan hampir saja memuntahkan minuman yang ia minum.
Bukan alkohol, karena dirinya tak tahan dengan jenis minuman yang satu itu.
"Oh, bukankah itu Jean?" tanya Atthar sambil menunjuk kearah utara.
Tiffany pun mengikuti arah yang ditunjuk oleh Atthar. Dan, benar saja. Disana, Jean duduk seorang diri dengan belasan botol minuman dihadapannya.
Entah sudah gelas keberapa yang diminum oleh Jean. Dari yang terlihat, seperti nya pria itu sudah meminum dua belas botol minuman beralkohol.
Bahkan saat ini pun, Jean lagi-lagi akan meminum segelas alkohol yang baru saja dituangnya.
Ya, setidaknya itulah yang akan terjadi jika saja Tiffany tidak mengambil gelas itu lalu meminumnya.
Tindakan tak terkira itu sontak mengejutkan Atthar yang sebelumnya mengejar Tiffany yang berjalan cepat menuju tempat Jean berada.
Sedangkan Jean baru menyadari jika orang yang telah lancang mengganggu aktivitasnya adalah sosok wanita yang sudah tak ia lihat lagi selama beberapa hari terakhir.
"Delora.."
***A***
Situasi canggung sangat terasa antara tiga orang yang saat ini duduk dengan posisi bak segitiga itu.
Jean sejak tadi tak henti menatap Tiffany, sedangkan Tiffany memilih membuang pandangannya kearah lain.
Jangan tanyakan apa yang dilakukan oleh Atthar, karena ia tak punya pilihan lain selain hanya dengan melihat dua orang yang ia ketahui sedang dalam masalah itu.
"Seperti yang kuduga. Kau justru bersenang-senang setelah apa yang terjadi." ujar Jean dengan nada sinis.
Tiffany menghembuskam nafasnya pelan, mengontrol emosinya. Tangannya mengepal, ia berusaha untuk tenang. "Ya." jawab Tiffany, akhirnya.
Dengan berani Tiffany membalas tatapan Jean, "Tapi kurasa saat ini, apapun yang kulakukan bukan lagi urusanmu, Jean Westly."
Seperti yang diperkirakan oleh Tiffany, wajah Jean langsung mengeras setelah dirinya mengatakan hal itu.
Untuk mengalihkan emosinya, Jean menuang minuman kedalam gelas untuk meminumnya, tapi belum saja Jean berhasil melakukannya, Tiffany telah lebih dulu mengambil gelas yang telah berisi alkohol itu lalu meminumnya.
Lagi.
Melihat hal itu membuat Atthar berusaha menahan Tiffany namun ditolak oleh sahabatnya itu.
Bahkan ketika Jean kembali menuang alkohol di dalam gelas yang sama, lagi-lagi Tiffany mengambil gelas itu dan meminumnya.
Berbeda dengan Atthar yang semakin khawatir dengan Tiffany, Jean justru hanya melihat tindakan Tiffany tanpa melakukan apapun.
Ia tahu, Tiffany berusaha menahannya untuk tidak minum lagi.
Tapi,
Apakah Tiffany akan terus melakukan itu?
Sebut saja dirinya kejam sekarang, tetapi Jean ingin mengetahui sejauh apa usaha Tiffany menghentikannya.
Oleh karena itu, Jean kembali melakukan hal yang sama dan Tiffany pun tetap mengambil gelasnya seperti sebelumnya.
Berkali-kali seperti itu.
Hingga Tiffany pun tak sadarkan diri.
Atthar yang sebelumnya menyerah menghentikan Tiffany, kini tak tahan lagi.
Dengan kasar, Atthar membuang botol minumam itu kelantai sebelum meraih kerah baju Jean.
"Aku tahu kau sengaja melakukannya, tapi apa kau tahu Tiffany tidak kuat bahkan hanya dengan meminum satu gelas alkohol, hah!? Tunangan macam apa kau ini!!"
Satu pukulan mendarat di wajah Jean.
Untung saja, kerasnya suara musik berhasil meredam bunyi yang timbul akibat kekacauan itu.
Jean tersenyum sinis. "Lalu selingkuhan macam apa kau ini yang hanya melihat saja ketika kekasihmu MERELAKAN DIRINYA MABUK UNTUK PRIA LAIN, HAH!?"
Atthar ingin sekali kembali memberikan tinjuan kepada Jean jika saja tak mengingat jika menolong Tiffany saat ini lebih penting dari pada harus meladeni pria monster seperti Jean.
"Kau memang tak pantas menjadi tunangan sahabatku." desis Atthar.
Setelah melepaskan genggaman tangannya dari kerah baju Jean, Atthar segera mendekati Tiffany dan menopang tubuh Tiffany yang telah kehilangan kesadarannya.
"Jauhkan tanganmu."
Itu adalah suara Jean. Namun seolah tak mendengar apapun, Atthar tetap melanjutkan apa yang ia lakukan.
"Ku bilang jauhkan tanganmu, brengsek!" ujar Jean lalu segera mengambil alih Tiffany dari Atthar.
Atthar tak berusaha menghentikannya.
Setidaknya sekali ini saja, ia akan memberikam kesempatan bagi pria brengsek bernama Jean itu.
***Tbc***

KAMU SEDANG MEMBACA
ANGUSTIAS [END]
General FictionKehidupan Delora Angustias Wyanet yang menyedihkan membuat dirinya berusaha untuk hidup lebih baik sebagai sosok yang baru. Sayangnya, masa lalu sang ibu seolah terus menjadi sumber utama dalam setiap kesedihan yang ia alami. Bahkan, dalam perjalana...
![ANGUSTIAS [END]](https://img.wattpad.com/cover/159229034-64-k595402.jpg)