Chapter 17. Demand

99 8 1
                                        

Vote...☺
.
.
.
.
.

***A***

"Jean...kau.."

Tiffany sungguh tidak menyangka, pria ini berkata kasar padanya untuk pertamakalinya.

"Kenapa kau selalu mengabaikan panggilanku, Tiff? Kenapa kau menghilang selama sebulan lamanya, hah!?"

Oh, jadi karena itu?

"Kau menjadi seperti ini hanya karena itu?" tanya Tiffany tidak percaya.

"Hanya? Hanya katamu!? Kau tau, mom mencarimu selama kau menghilang hingga membuat kondisinya drop, bahkan jauh lebih drop dari sebelumnya! Apa kau sadar dengan apa yang kau lakukan!?"

Hah?

"Aku..aku tidak tau jika.."

Jean menghembuskan nafasnya keras, berusaha menahan emosi yang ia tau telah membuat wanita disampingnya menjadi takut setelah apa yang ia lakukan sebelumnya. "Mom berada dirumah sakit. Kita kesana sekarang."

***A***


22.24
At Hospital

Penjelasan Jean mengenai kondisi Diva memang benar. Dan Tiffany akui, ini kesalahannya.

Jean berjalan lebih dulu kesisi ranjang Diva lalu kemudian disusul oleh Tiffany.

Perlahan, jean mengambil tangan kanan Diva untuk ia letakkan tepat di pipi kirinya. Terlihat jelas bagaimana pria itu sangat menyayangi wanita yang masih betah menutup matanya selama seminggu terakhir.

Tiffany melihat tiap gerakan pria itu. Dan dirinya sadar betapa perbedaan antara dirinya dan Jean begitu terlihat disituasi seperti ini.

Jean bahkan lebih terlihat seperti anak kandung ibunya. Miris Tiffany.

Tiffany bingung harus seperti apa sekarang. Disisi lain ia ingin menggenggam tangan itu, tetapi Jean sudah lebih dulu mengambil alih. Lalu Tiffany ingin memeluk tubuh ibunya, tetapi ia takut hal itu justru membuat selang selang yang bersarang ditubuh ibunya menjadi tidak dapat berfungsi dengan baik.

Dan untuk Jean, Tiffany bahkan melupakan apa yang pria itu lakukan kepadanya tadi setelah mengetahui yang sebenarnya. Itu wajar, Itu adalah bentuk kekhawatiran seorang anak kepada ibunya.

"Aku minta maaf."

"Yang akan memaafkanmu belum sadar, Tiff."

"Aku mengatakan itu kepadamu. Aku minta maaf sudah mengacuhkan panggilan mu beberapa kali, dan-"

Ucapan Tiffany harus terhenti ketika Diva menunjukkan pergerakan tangannya.

"Mom."

"Ibu.."

Perlahan Diva mencoba menyesuaikan retina matanya dengan cahaya lampu dikamar itu.

Setetes air mata menghiasi pipi Diva ketika ia dapat sepenuhnya melihat siapa saja yang berada diruangan itu.

Diva mencoba meraih tangan Tiffany yang disambut baik oleh putrinya. "Ibu fikir kau kembali meninggalkan ibu, nak.."

ANGUSTIAS [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang