Tiffany sudah berada dirumahnya sejak beberapa hari yang lalu. Tetapi bahkan memasukkan pakaiannya ke dalam lemari pun belum ia lakukan.
Itulah yang menjadi alasan Tiffany memasukkan pakaiannya dari koper kedalan lemari sekarang.
Drrt
Drrt
Sebelumnya ia fikir akan menyelesaikan hal sederhana itu tanpa gangguan apapun. Namun nyatanya ia salah.
Dengan malas Tiffany melihat layar ponselnya, dan terteralah nama Atthar sebagai identitas pemanggil.
"Ya?" jawab Tiffany tak bersemangat.
"Kenapa kau baru mengangkat panggilanku, hah? Apa kau akan menghilang lagi? Kali ini berapa tahun lagi?"
Tiffany segera menjauhkan ponsel itu dari telinganya tatkala mendengar suara Atthar yang berbicara dengan nada tinggi.
Jujur, dirinya masih trauma dengan suara seperti itu setelah..
Sudahlah. Tiffany tak mau lagi mengingat hal itu.
"Bisakah kau mengurangi sedikit volume suaramu?" pinta Tiffany. Ia tak sadar jika nada suaranya sangat menunjukkan dirinya yang sedang tak bersemangat.
Cukup lama Atthar terdiam lalu kemudian terdengar lagi suara pria itu dengan nada bicara yang lebih pelan. "Aku bersedia menghiburmu hari ini. Kau dimana? Aku akan menjemputmu."
Itulah percakapan terakhir mereka sebelum panggilan itu dihentikan oleh Atthar.
Dalam hati Tiffany bersyukur, adanya Atthar ia harap mampu membuat suasana hatinya membaik setidaknya tiga puluh persen dari sebelumnya.
Setelah kejadian malam itu, Tiffany tak berfikir sama sekali untuk menjauhi Atthar. Toh, itu bukanlah kesalahan Atthar. Jika ada yang harus disalahkan.. Orang itu adalah Jean dan dirinya sendiri.
Ya, dirinya pun merasa bersalah karena telah menghilangkan kalung pemberian Jean.
***A***
Tiffany dan Atthar berjalan menyusuri Mall tempat mereka sekarang. Namun tujuan mereka bukanlah untuk berbelanja. Melainkan hanya ingin mengurangi penat.
"Bukankah sudah kubilang, lebih baik ke taman bermain untuk menghibur diri dari pada ke tempat ini jika tak berniat membeli apapun" keluh Atthar.
"Diamlah. Aku bukan anak kecil yang suka ketempat seperti itu."
"Tapi untuk menghibur diri, taman bermain akan menjadi tempat yang lebih efektif."
"Kau tak tahu betapa efektifnya Mall untuk dijadikan tempat menghibur diri bagi para wanita."
"Apa kau wanita?" tanya Atthar dengan nada santai.
Sedangkan Tiffany berusaha untuk tidak menginjak kaki pria itu. "Tentu saja."
"Ah iya, apa kabar tunanganmu itu?"
Deg.
Seketika mood Tiffany menjadi buruk ketika mendengar kata 'tunangan'.
"Hubunganku sedang tidak baik. Dia tak suka karena aku pulang larut malam setelah kembali dari apartemenmu malam itu, dan emosinya semakin meningkat ketika melihat kalung yang ia berikan sudah tak kupakai lagi." Tiffany menghembuskan nafasnya pelan. "Soal kalung itu, sungguh aku tak sengaja menghilangkannya."
Mendengar penjelasan Tiffany membuat Atthar tak enak hati. Ia mengerti sekarang.
"Ah, tunanganmu saja yang berlebihan." hibur Atthar.
KAMU SEDANG MEMBACA
ANGUSTIAS [END]
Ficción GeneralKehidupan Delora Angustias Wyanet yang menyedihkan membuat dirinya berusaha untuk hidup lebih baik sebagai sosok yang baru. Sayangnya, masa lalu sang ibu seolah terus menjadi sumber utama dalam setiap kesedihan yang ia alami. Bahkan, dalam perjalana...
![ANGUSTIAS [END]](https://img.wattpad.com/cover/159229034-64-k595402.jpg)