12 - Lamaran

12.3K 617 25
                                        

Sudah satu bulan berlalu semenjak peristiwa orang gila mengirim bangkai kelinci ke rumah nya, kini Syifa perlahan-lahan mulai kembali ceria dan sedikit melupakan kenangan buruk itu. Jordi dan Zahra awalnya berpikir bahwa kejadian tersebut tidak akan berpengaruh buruk untuk anak-anak nya, tapi mereka salah.

Keesokan hari setelah kejadian teror tersebut, Syifa tampaknya sedikit terguncang, kadang-kadang gadis itu tiba-tiba berteriak, hal tersebut membuat semua orang khawatir. Dan semenjak kejadian itu pula, pikiran Syifa di penuhi oleh ucapan dari orang gila itu, mengatakan bahwa dia akan menderita sama seperti umi nya dulu akibat kutukan yang keluar dari hati seorang ibu yang terluka.

Tetapi, saat ini keadaan Syifa sudah membaik, gadis itu sudah bisa mengendalikan bayangan buruk yang seakan-akan bisa datang kapan saja, dia juga sudah dewasa, tidak ada lagi waktunya untuk selalu bergantung kepada orang sekitarnya, jika sewaktu-waktu dia kambuh dan menggila lagi.

Pagi ini, Syifa dan Zahra sedang duduk santai di ruang keluarga, menghabiskan waktu untuk menenangkan pikiran dan tubuh tentunya. Syifa yang sedang menatap handphone nya dan Zahra yang sedang menyulam, sangat damai, berbeda lagi kalau seandainya Zahdan ikut berkumpul dengan mereka.

"Umi, masalah kuliah yang Syifa bilang kemarin gimana? Umi setuju kan."

Tangan Zahra yang tadinya sedang menyulam tiba-tiba berhenti, sejenak wanita parubaya itu berpikir, namun akhirnya ia mengangguk pelan. "Umi udah ngomong sama Abi kamu, setelah umi pikir-pikir lagi, kayaknya kamu pantas untuk kuliah di luar kota dan jauh dari umi," senyum Syifa tak dapat di tahan, gadis itu bahkan sampai melompat dari sofa dan mengangkat tinggi tangan nya sambil berteriak-teriak. "tapi itu izin dari umi, kalau Abi sih gak tau, kamu pergi lah ke sana, bujuk Abi kamu, dia mau apa enggak, semangat ya."

Mendadak Syifa merasa biasa saja, benar juga, masih ada Abi nya yang belum memberi izin. "Hehehe oke deh, Syifa yakin kok Abi bakal setuju! Kalau gitu Syifa ke Abi dulu ya mi, bye!" Ucap nya lalu berlari cepat menuju ke arah ruangan tempat Jordi bekerja di rumah.

Di mansion yang mereka tinggali, ada banyak sekali kamar, bahkan Zahdan saja punya ruang game nya sendiri, daripada tidak terpakai dan jadi sarang jin, lebih baik di manfaatkan sebaik mungkin.

"Assalamualaikum, Abi."

Pintu terbuka, Syifa masuk dengan pelan ke dalam ruang kerja Jordi, gadis itu melihat Abi nya sedang duduk santai di kursi dengan kacamata yang bertengger manis di hidung mancung pria parubaya tersebut.

"Wa'alaikumsalam anak Abi, mau apa hmm."

Jordi melambaikan tangannya menyuruh Syifa duduk di sampingnya, dengan cepat Syifa berlari dan duduk di samping Jordi. Perasaan cemas tidak mendapat izin tiba-tiba muncul kepermukaan, tapi semoga saja Jordi mengizinkan dia. "Jadi?" Tanya Jordi sambil melepas kacamata nya.

"Hehehe jadi gini, Abi tau kan impian Syifa dari dulu. Pengen kuliah di kota tempat eyang lahir dulu, terus bisa nge kost sendiri, intinya Syifa pengen banget hidup mandiri kayak orang-orang, jadi Abi ngizinin Syifa gak, please lah Abi bolehin ya! Please please please!"

Belum saja ia menjawab, tubuh Jordi sudah si guncang-guncang oleh Syifa dengan sifat manja nya, pria parubaya itu tersenyum geli melihat tingkah lucu putri nya, tentu saja dia mengizinkan Syifa untuk kuliah, dia juga tidak perlu mengirim bodyguard untuk menjaga anaknya di sana, karena Jordi sudah menebak akan ada seseorang yang datang untuk melamar putrinya dan menjaga dia saat di luar kota, setidaknya sampai lulus kuliah.

Tapi, mengerjai sedikit saja tidak apa kan, ide jahil muncul di otak Jordi.

"Abi pikir-pikir dulu ya, selagi Abi berpikir gimana kalau kamu bersihin halaman depan, tadi angin kencang lewat, banyak daun-daun yang jatuh deh."

SYIFA (Lagi Revisi Nih!)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang