11 - Teror

11K 623 34
                                        

Hari-hari berlalu dengan cepat, makin hari berlalu semakin dekat pula kembar tiga ini menuju ulang tahun mereka, namun tampak nya ketiga anak muda ini tidak sadar akibat terlalu sibuk mengawasi tentang pembangunan secara besar-besaran di sekolah mereka. Ketiga nya ikut serius mengawasi di karenakan proyek ini berjalan akibat proposal yang mereka ajukan, kegiatan ini murni dari kesadaran para siswa, dan para OSIS hanya sebagai perwakilan, lagipula mereka tidak bisa main-main, uang yang mereka dapat dari sumbangan untuk pembangunan juga tidak sedikit.

Karena saking fokus nya, Syifa bahkan tak sadar bahwa Zaki sejak tadi mengawasi nya dari kantin, pria itu tersenyum manis saat melihat Syifa mengelap keringat nya untuk yang kesekian kalinya. Saat pesanan nya sudah selesai, Zaki berjalan menuju ke arah gadis nya.

Proyek ini hanya akal-akalan nya saja, sebenarnya Zaki bisa saja menyumbang uang sebanyak mungkin, tidak perlu juga sampai turun ke lapangan dan mengawasi pembangunan yang dilakukan anak-anak SMA, tetapi tujuan nya adalah untuk selalu dekat dan mengawasi Syifa dari dekat, itu dia tujuan utamanya.

"Serius amat sih," Syifa terkaget saat merasakan benda dingin mendarat di pipi nya. "nih minum dulu, gak usah terlalu serius, paling dua tiga hari lagi taman nya siap kok."

Syifa hanya mengangguk pelan, gugup kembali melanda nya, kenapa setiap dia di dekat Zaki mendadak tubuh nya seperti mesin yang rusak, tersendat-sendat! "Makasih ya bang." Ucap Syifa lalu menerima botol air minum yang di berikan kepadanya.

Zaki menggelengkan kepalanya saat melihat tangan Syifa bergetar dan tentu saja gadis itu menundukkan kepalanya. "Masih gugup ya dekat sama Abang, kenapa hmm?" Zaki mengambil duduk di samping Syifa, tentu saja dia menjaga jarak, bisa-bisa nanti gadis ini malah kabur.

"Bukan gitu bang." Jawab Syifa dengan cepat, gadis itu mengangkat pandangannya dan terpana akan tampan nya Zaki. Lagi-lagi dia hanyut oleh pesona laki-laki yang duduk di sampingnya.

"Nah akhirnya lihat juga, gini kan enak kalau ngobrol sambil tatapan."

Blusss.

Pipi Syifa memerah bagai tomat, Zaki langsung tertawa gemas melihatnya, sementara itu Syifa menunduk malu dan menutup wajahnya.

Kedua insan tersebut lalu menghabiskan waktu jam istirahat sambil mengobrol di bangku taman dengan pemandangan beberapa bapak-bapak tengah membangun taman.

* * *

"Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam."

Jordi dan Zahra langsung menoleh ke pintu dan melihat ketiga anak nya sudah pulang dari sekolah.

Belum beberapa langkah masuk ke dalam rumah, Zahdan tersenyum jahil saat melihat Jordi tengah bermanja-manja di pelukan Zahra, memang hobinya dulu mengganggu sang ayah.  "Wah lagi ngapain nih, gak boleh mesraan di depan anak-anak! Ucap nya dengan ketus, dengan usil Zahdan lalu duduk di bawah Zahra, dan menjatuhkan kepalanya di pangkuan Zahra.

"Biasa lah kita berdua lagi pacaran, kayak gak tau aja enak mesraan sama bidadari." Perkataan Jordi tadi sukses membuat pipi Zahra memerah, ia akui jika soal merayu Jordi nomor 1.

"Abi! Umi malu tuh." Ucap Zidan lalu mengambil cemilan yang berada di meja.

"Loh kok kalian malah ngumpul di sini, bukannya ganti baju dulu, pergi sana! Kalian bertiga bau matahari!" Teriak Zahra, sebenarnya ia malu, tetapi wanita parubaya itu menyembunyikan nya.

"Sabar umi, masih capek ni pulang sekolah."

"Udah sana gih! Abi kan mau mesraan sama umi kalian, malah kalian ikut ikutan." ucap Jordi.

SYIFA (Lagi Revisi Nih!)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang