Setelah kejadian itu terjadi lagi, terpaksa Syifa harus ditangani oleh psikolog andalan keluarga nya. Dan untuk masalah pernikahan Syifa itu tetap dilaksanakan 2 hari lagi, tak ada yang namanya pengunduran atau pun kerenggangan.
" Umi gimana kabar adek " tanya Zidan saat masuk kedalam kamar Syifa.
" Udah tenang kak" ucap zahra sambil mengelus kepala Syifa.
" Umi, hmm..." Ucap Zidan dengan ragu.
" Mau apa kak, bicara aja sama umi" ucap Zahra lalu menarik tangan Zidan agar duduk disampingnya.
" Hmm Zidan mau nanya umi" ucap Zidan ragu ragu.
" Nanya apa sayang, ayo bilang aja, jangan takut gitu" ucap Zahra sambil mengusap bahu tegap anaknya itu.
" Khmm, umi jangan marah ya" ucap Zidan menahan sesuatu.
" Iya sayang, bilang aja. Kenapa takut kayak gini" ucap Zahra yang heran melihat sikap zidan.
" Hmm kalau seseorang pria tega melukai hidup seorang wanita, pria itu harus melakukan apa umi" ucap Zidan sambil meletakkan kepalanya dipangkuan Zahra.
" Hmm, kalau umi boleh tau, pria itu siapa sayang" ucap Zahra lalu mengelus kepala Zidan.
" Pria itu Zidan umi" ucap Zidan lalu memeluk erat Zahra.
" Maka Zidan harus tanggungjawab, hmm kalau umi boleh tau Zidan ngapain dia " ucap Zahra lalu menangkup wajah Zidan.
" Zidan udah buat dia merasa terancam, Zidan udah buat dia menangis, Zidan udah buat dia hancur, dan Zidan udah buat usaha kerasnya hancur, Zidan udah hancurin toko kue nya umi, apakah Zidan pria buruk umi " ucap Zidan sambil menunduk menyesal.
" Iya, Zidan udah menjadi pria yang buruk " ucap Zahra sambil memejamkan matanya.
" Umi jangan nangis umi, Zidan minta maaf umi " ucap Zidan yang melihat Zahra.
" Kenapa sayang, kamu apakan dia, kenapa anak umi bisa seperti ini" ucap Zahra menatap sendu kearah Zidan.
" Zidan menyesal umi, banyak yang Zidan lakukan kepadanya umi, tapi Zidan berjanji kepadanya umi, selesai kuliah nanti Zidan akan menikahinya." Ucap Zidan yang meyakinkan uminya.
" Memangnya kenapa harus sampai menikahinya, kamu berbuat apa sama dia Zidan" ucap Zahra yang sudah memanggil nama anaknya.
Jika Zahra sudah berbicara sambil memakai nama anaknya maka situasinya sudah menjadi serius.
" Umi, sekarang dia sedang pulang ke kampung halamannya umi, tapi Zidan janji Zidan akan mengikuti dia kuliah, Zidan akan menjaga nya umi, tapi sekarang ini dia sedang rapuh umi, Zidan mohon maafkan Zidan " ucap Zidan yang mulai takut jika uminya marah.
" Siapa dia, suruh dia menghadap ke umi, umi beri kamu waktu 5 hari, jika tidak, umi akan kecewa dengan kamu" ucap Zahra lalu berdiri dan meninggalkan Zidan di kamar Syifa dengan menangis segugukan.
" Kakak" ucap Syifa yang sepertinya sudah sadar dari tadi.
" Adek, kamu udah sadar, gimana kabar kamu" ucap Zidan lalu mendudukkan Syifa.
" Tolong ambil surat yang ada di lemari Syifa" ucap Syifa dengan nada serak.
Lalu Zidan pun berjalan menuju lemari Syifa.
" Ini dek " ucap Zidan lalu memberi Suratnya kepada Syifa, namun Syifa mengembalikan surat itu kepada Zidan.
" Ini untuk kakak, maaf kalau sekarang Syifa berikan ini kepada kakak" ucap Syifa.
" Apa ini" heran Zidan.
" Baca saja, tapi Syifa sarankan kakak bacanya dikamar kakak aja ya, Syifa yakin kakak membutuhkan privasi" ucap Syifa sambil tersenyum hangat kearah Zidan.
KAMU SEDANG MEMBACA
SYIFA (Lagi Revisi Nih!)
Romansa⚠ Cerita mengandung adegan kekerasan. Syifa alfurqan POV Kata umi, dia menikah dengan abi sewaktu umur 22 tahun, umi bilang awal masa pernikahannya tidaklah baik, tapi umi ku adalah wanita yg tegar, ia selalu menerima segala perlakuan Abi, hingga a...
