Aku tidak mengerti. Kamu yang awalnya kukira terbuka kini malah tertutup rapat. Hati itu, hidup itu, kamu tidak akan membiarkan orang lain menyentuhmu.
-Hello and Goodbye-
...
"Baiklah," Ayumi mengangguk senang seraya mengambil komik dari tangan cowok itu. Diliriknya setiap ilustrasi di sana tampak begitu bagus, rapi, dan teratur. "Komiknya aku pnjam dulu ya?"
Tanpa menjawab permintaan izin dari Ayumi, Taka merebahkan tubuh di kursi belajar seraya meraih kertas kosong putih dari laci begitu juga pensil. "Meskipun tampak kuat dia itu tidak sekuat yang dilihat, meskipun tampak tidak peduli denganmu aku yakin dia pasti menyimpan alasan tertentu."
"Hah?" Dengan suara pelan Ayumi menggumam, bukankah dirinya berkata baik-baik saja tadi? Tapi kenapa Taka seolah-olah bisa membaca yang ada di pikirannya? Ya, sebuah pemikiran yang terus saja bertanya tanpa menemukan jawabannya. "Hei Taka..."
"Ayumi-chan!"
Suara panggilan meleking terdengar dari lantai bawah, belum sempat Ayumi menyelesaikan ucapannya kini Taka membalikkan badan, memasang wajah datar. "Turunlah,okaasan memanggilmu. Lagipula ada hal yang harus aku kerjakan sendirian."
Dengan memendam berbagai macam pertanyaan di kepalanya, Ayumi mengangguk, bangkit, menutup pintu kamar beraroma buku tersebut.
Kletak!
"Tadaima," Pintu rumah dikunci rapat, jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam begitu juga dengan angin yang berada di luar sana kini berembus kencang. Dari sana tampak laki-laki dua puluh tahunan itu kini melepaskan sepatu begitu juga membenarkan sandangan tas gitarnya yang tampak begitu ketat membeliti tubuhnya.
Mungkin benar dengan apa yang dikatakan di luar sana, ketika dewasa seseorang akan jauh di hadapkan pada sebuah realita dibanding menciptakan impian. Dan sayangnya ketika rasa impian itu muncul maka seseorang akan merasa tersakiti, tanpa sebab, tanpa alasan dan satu-satunya cara untuk mengalihkan pikiran itu hanyalah menyibukkan diri.
Ya, terus menyibukkan diri hingga terasa lelah lalu tidur tanpa harus berkutat kembali dengan pikiran.
Langkah Takumi terhenti seketika, dilepaskannya topi yang menyelimuti kepala begitu memerhatikan lauk pauk yang masih saja tersusun rapi di meja makan. Seperti tidak tersentuh, si pemilik makanan ini seakan hanya memiliki niat untuk memasak tanpa harus memakannya.
Tanpa suara Takumi bergumam, dilihatnya berbagai macam masakan daging kecap tersebut lalu ke arah lantai dua dengan pintu kamar berwarna cokelat tersebut. Tidak tertutup rapat, bahkan dapat Takumi dengar suara rusuh terdengar di dalam sana. Ya, seperti suara tikus yang tengah membongkar perabotan rumah tangga.
Ayumi. Jujur Takumi belum terlalu mengenalnya, namun yang pasti gadis itu tengah duduk di keramik putih kamar sekarang. Kedua sudut bibir itu terangkat begitu juga dengan rambut sebahunya yang tampak tergerai seraya memerhatikan isi dalam kardus di hadapannya.
Diam-diam Takumi mengutuki diri begitu suara batuk refleks keluar dari mulutnya dan tentu saja gadis yang belum tidur itu kini mengangkat kepala, memerhatikan. Takumi mengalihkan pandangan, memasuki kamar, membuka isi lemari.
"Selamat datang Takumi-kun, maaf tidak menyambutmu di depan pintu, aku tidak mendengarnya," ucap Ayumi, mengangkat kepala memerhatikan pemilik punggung tegap yang selalu saja memunggunginya.
"Tidak apa," ucap Takumi singkat, seraya meraih handuk putih yang terlipat rapi. Setengah malas sebenarnya, namun berusaha mungkin dirinya mencari bahan pembicaraan. "Kau belum tidur?"

KAMU SEDANG MEMBACA
Hello and Goodbye [J-Lit]
Roman d'amour(COMPLETE) "Karena pada nyatanya mengucapkan 'selamat tinggal' tidaklah semudah mengucapkan 'halo' ___ Satu hal yang tidak pernah terpikirkan oleh seorang Ayumi dalam hidupnya adalah menikah dengan Takumi Aoki. Takumi yang pendiam, terlihat tenang...