Aku tidak mengerti seperti apa bentuk cinta yang ia miliki tapi yang pasti aku tidak akan berhenti memberikan perasaan itu.
-Hello and Goodbye-
...
Amerika...
Ayumi menoleh seketika. Mata bulat polos itu kini mengerjap penasaran memerhatikan suasana kamar berwarna hitam putih tersebut. Terdengar hening, kamar terlihat penuh dengan beberapa barang yang telah diletakkan dalam koper begitu juga dengan suasana yang malam yang selalu terasa dingin.
Takumi ingin pergi ke Amerika? Dalam keadaan seperti ini? Yang benar saja?
Tentu saja benar, bukankah untuk tur di sana? Urusan pekerjaan bukan?
"Panas," Setengah meringis Ayumi memegang dahi orang di hadapannya. Takumi? Ya, cowok itu kini telah memejamkan mata, larut dalam mimpinya. Alis itu tampak turun, meskipun terkadang mengernyit begitu rasa sakit lagi-lagi menyerang pada beberapa bagian tubuhnya.
"Takumi-kun?" panggil Ayumi dan tidak berharap penuh bahwa cowok itu akan menjawabnya. Disilangkannya kedua kaki di atas tempat tidur lalu melihat wajah bundar itu dengan dekat. "Panasmu belum turun, bagaimana bisa pergi untuk tur besok?"
"Aku bisa sendiri," gumam Takumi pelan, dari mata yang terpejam itu tampak bola mata sana bergerak kiri kanan.
Ayumi menggeleng, setengah mengembus napas panjang lalu menegakkan badan. Masih dipegangnya kompresan pada dahi Takumi seraya mengelus rambut hitam itu dengan lembut.
Takumi yang mandiri bahkan bagi Ayumi terlalu mandiri. Cowok itu selalu melakukan segala sesuatu seorang diri begitu juga hanya berfokus pada diri sendiri. Bukan egois, hanya saja yah... entahlah. Bahkan Ayumi saja sulit untuk mendeskripsikan bagaimana sifat laki-laki ini.
Terlalu tertutup, misterius, dan Ayumi berharap semoga sikap itu tidak menimbulkan banyak kesalahpahaman pada orang lain.
"Tidak semua hal bisa kita lakukan seorang diri kan?" tanya Ayumi pelan, tersenyum samar. Mencoba berbicara dengan laki-laki yang tengah beristirahat itu. Jaket tebal dan selimut jelas menyelimuti pemilik punggung tegap itu. "Kita memang harus mandiri. Tapi bukan berarti kita tidak membutuhkan orang lain. Apa yang kamu lakukan itu bukannya sama saja dengan menyakiti dirimu sendiri?"
Kedua sudut bibir Ayumi terangkat, tampak pemilik wajah bundar itu kini tenang, perlahan mulai terlelap dalam tidurnya akibat elusan lembut itu.
"Kamu kesepian, kamu menutup diri dan tidak membiarkan orang lain masuk dalam hidupmu. Meskipun kamu di kelilingi banyak orang tapi tetap saja kan rasanya tidak menyenangkan?" Ayumi menggigit bawah bibir sejenak lalu menunduk berusaha mungkin tersenyum.
Mungkin dirinya tidak mengenal bagaimana cinta yang dimiliki seorang Takumi. Namun yang pasti Ayumi memiliki definisi cinta sendiri dan entah berapa kali Takumilah yang tanpa sadar mengajarkannya hal itu.
Jika kita benar-benar mencintai seseorang maka sulit bagi kita untuk berhenti memikirkannya, mencemaskannya, barangkali hanya sedetik saja. Ya aneh memang, tapi bukankah cinta itu aneh? Terkadang berada di luar logika manusia bukan?
"Aku memang tidak tahu kamu orang seperti apa dan aku juga tidak tahu masa lalu apa yang menyakiti kamu. Tapi kupikir ketika kita hidup bersama, bukannya kita bisa membuat hari yang baru?"

KAMU SEDANG MEMBACA
Hello and Goodbye [J-Lit]
Romance(COMPLETE) "Karena pada nyatanya mengucapkan 'selamat tinggal' tidaklah semudah mengucapkan 'halo' ___ Satu hal yang tidak pernah terpikirkan oleh seorang Ayumi dalam hidupnya adalah menikah dengan Takumi Aoki. Takumi yang pendiam, terlihat tenang...