Yang terpenting bukanlah sisi luar, melainkan sisi dalam dari seseorang. Tapi jika kamu saja selalu membentengi hal tersebut bagaimana aku bisa memerhatikan isi hatimu?
-Hello and Goodbye-
...
Aneh memang, semakin dewasa seseorang akan jauh lebih sulit mengungkapkan segala jenis perasaan terutama kasih sayang. Mungkin hati mengatakan cinta namun di mulut itu sendiri kenapa berkata seakan sebaliknya? Memberi kasih sayang dalam bentuk tersirat, membuat seseorang kesulitan untuk memahami maknanya dan banyak menimbulkan kesalahpahaman.
"Tadaima..."
Pintu rumah terbuka, pemilik sepatu hitam ruangan dengan tali putih itu dilepas. Takumi, laki-laki berusia dua puluh tahunan itu memasuki rumah. Sepi, perlahan diliriknya arah dapur lalu menaiki anak tangga menuju lantai kamar. Aneh, padahal seluruh lampu sudah dihidupkan, harusnya ada Ayumi disini, harusnya ia melihat gadis itu sedang bekerja di ruang tengah ataupun...
Langkah Takumi terhenti seketika, mata bundar yang selalu terlihat sayu itu kini membulat begitu memerhatikan selembar kertas di meja kamar. Takumi mencondongkan tubuh, mendadak hawa dingin memeluk tubuh tegapnya seketika.
Surat daftar perceraian.
Napas Takumi seakan terhenti. Surat yang sudah ditandatangani oleh Ayumi dan hanya menunggu persetujuannya saja lagi. Takumi menggeleng pelan, mustahil! Bagaimana bisa dirinya bereaksi seperti ini? Oh ayolah, bukankah dulu ini harapannya? Bahkan sudah susah payah dan sejauh ini dirinya melakukan berbagai hal agar menuju akhir seperti ini. Tapi...
Takumi menelan ludah, seakan ada benda yang menghalangi tenggorokannya, terasa tercekat.
Tapi kenapa dirinya tidak ingin menandatanganinya ? Ah, jangankan untuk tanda tangan, membayangkan dirinya pisah dengan gadis itu saja rasanya sudah cukup menyakitkan.
"Surat itu akan kuabaikan jika Takumi menceritakan semuanya."
Takumi tersentak, tanpa menoleh belakang kedua tangan itu perlahan tergepal erat. Suara milik Ayumi dan demi apapun dirinya merindukan Ayumi yang selalu berbicara lembut, menatapinya dengan pandangan tulus dan polos.
Takumi tersenyum sinis, menunduk. "Hal apa yang harus aku ceritakan?"
"Banyak," jawab Ayumi lantang, memerhatikan punggung tegap Takumi dengan tegas. "Aku ingin mengenal Takumi jauh lebih dalam lagi, bukan seperti ini. Aku ingin berusaha melakukan yang terbaik untuk Takumi, untuk diriku juga. Jika kita terus seperti ini, semuanya akan tersakiti."
Lidah Takumi kelu, enggan membalas ucapan gadis itu.
"Takumi tidak ingin seperti ini teruskan? Kita harus bahagia, bukan hanya salah satu saja. Ini keluarga tentang aku, kamu, dan kita. Aku harus mengetahui keadaannya, aku harus tahu apa yang membuatmu takut, sedih, bahagia, senang, aku..."
Secepat mungkin Ayumi menunduk, memejamkan mata begitu merasa sesak di bagian dada. "Aku harus menghadapimu! Kalau aku tidak bisa menghadapimu bukankah lebih baik kita pisah saja? Untuk apa aku hadir di sini jika kamu seperti ini!"
"Bodoh," umpat Takumi menunduk, perlahan senyuman yang tadinya sinis kini tampak samar. Begitu samar hingga terasa menyakitkan. "Kau sudah cukup baik denganku. Kalau kau menghadapiku lebih dalam lagi, kau akan tersakiti dan aku akan semakin membenci diriku jika melakukannya lebih dalam lagi."

KAMU SEDANG MEMBACA
Hello and Goodbye [J-Lit]
Romance(COMPLETE) "Karena pada nyatanya mengucapkan 'selamat tinggal' tidaklah semudah mengucapkan 'halo' ___ Satu hal yang tidak pernah terpikirkan oleh seorang Ayumi dalam hidupnya adalah menikah dengan Takumi Aoki. Takumi yang pendiam, terlihat tenang...