22

6.9K 781 270
                                        

Terkadang, Jungkook akan menghabiskan waktu semalaman suntuk untuk menatap Yoongi yang tertidur. Barangkali, karena semenjak ayah memberitahu soal hasil pemeriksaan terakhir, rasa takut menguasainya lebih besar daripada kantuk.

Ia mengamati bagaimana tubuh ringkih itu bergerak resah dalam pejamnya, bagaimana sang kakak meringis kecil—seakan bahkan dalam tidur pun masih dibayangi oleh rasa sakit—dan bagaimana hela napas berat terdengar dari bibirnya yang pucat. Semua itu membuat Jungkook menyadari bahwa ada rasa sakit yang tidak bisa dibagi dan kejamnya, sakit kakaknya adalah salah satunya.

Semua itu menyakitkan. Setiap kali Yoongi tampak kesakitan, Jungkook merasa ingin memalingkan wajah untuk melindungi dirinya dari perih dan sesak.

Akan tetapi, ia tidak bisa.

Karena Jungkook tahu, bahwa tidak ada yang bisa ia lakukan untuk meringankan sakit kakaknya. Jadi, ia ingin melakukan—setidaknya—hal yang bisa ia lakukan; dengan berada di sisi sang kakak.

Dan malam demi malam, hari demi hari cukup untuk membuat Jungkook menyadari bahwa ada sesuatu di diri Yoongi yang perlahan meredup.

Bukan hanya tentang tubuhnya yang semakin ringkih dari hari ke hari, tetapi juga tentang bagaimana senyumnya terasa hambar dan bagaimana tatapan sang kakak tampak semakin jauh. Semua hal itu membuatnya sadar bahwa kakaknya perlahan memudar, bukan hanya fisik, tetapi juga sedikit demi sedikit bagian dirinya yang tidak terlihat.

***

Hari ini. Dua puluh lima Desember. Natal.

Jungkook ingat, ada satu kebiasaan yang selalu mereka lakukan sejak kecil. Setiap hari Natal, ia, kakak, ayah, dan ibu, akan menghias pohon di ruang tengah, menonton film hingga larut, lalu tidur bersama di ruang tengah beralaskan futon dan membiarkan malam diisi oleh tawa yang tidak pernah putus.

Kebiasaan itu tidak pernah terlewat bahkan setelah ibu pergi. Ayah akan tetap mengeluarkan pohon natal dari gudang, lalu dirinya bersama sang kakak akan memilih ornamen untuk digantung di setiap cabang. Kemudian menonton film hingga tertidur, diselingi cerita-cerita kecil yang membuat malam terasa hangat, mengalahkan udara dingin yang mengetuk jendela.

Kebiasaan itu selalu menjadi tradisi mereka setiap akhir tahun. 

Kecuali dua tahun terakhir.

Dua tahun terakhir, pohon natal dibiarkan berdiri di sudut ruang tanpa ornamen. Tidak ada bola Natal yang digantung, tidak ada lampu yang gemerlap, juga tidak ada malam yang hangat. Dua tahun terakhir, hanya ada ruang tengah yang dingin—lebih dingin daripada udara yang mengetuk jendela.

Namun, tahun ini, untuk pertama kalinya, mereka bisa melakukannya lagi.

Ayah sudah membeli pohon dan ornamen baru sejak beberapa hari lalu. Semua sudah diletakkan di ruang tengah, menunggu disentuh. Sama seperti tradisi yang menunggu mereka kembali.

Jungkook; anak itu tentu saja menjadi yang paling bersemangat. Siang hari ini, ia duduk bersila di hadapan pohon Natal dan kotak-kotak ornamen. Ia baru menggantung tiga atau empat bola Natal ketika suara langkah pelan terdengar dari arah tangga. Ia menoleh dan matanya membulat—antara terkejut dan senang—ketika melihat sang Kakak menuruni tangga dibantu Ayah.

"Hyung ... kenapa turun?" tanyanya.

Yoongi yang mendengarnya tersenyum kecil. Senyum hambar yang lagi-lagi yang membuat Jungkook tertegun.

"Aku juga mau ikut menggantung beberapa," Yoongi berucap.

Jungkook terdiam lama. Ia ingin mengatakan, "Jangan" karena tidak ingin kakaknya terlalu lelah. Namun, saat melihat binar samar di sorot sayu itu, Jungkook dengan berat hati menahan diri. Kini, tatapannya berpindah pada Ayah, seolah meminta kepastian yang dibalas dengan anggukan kecil.

The Last ✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang