"Sayang bangun, "
Sebuah panggilan mampu membuat Carra tersenyum, ia tidak bisa membuka matanya, keadaanya memang sangat mengenaskan.
"Carra buka mata kamu, aku mohon, lihat aku dan bertahanlah"
Carra kembali mendengar suara itu, suara yang entah kenapa sangat indah didengarkan.
Buram, Carra membuka matanya sekitar 3 detik, hanya buram yang terlihat, rasa sakitnya sudah tidak ada, namun ia juga tidak bisa merasakan apa-apa.
"Bertahan sayang, dokter cepat"
Carra kembali tersenyum, entah ia berada dimana, namun Carra tahu itu pasti Agam, Carra benar-benar tidak merasakan apa-apa.
"Aku cinta kamu, jangan coba-coba buat ninggalin aku".
Ucapnya yang masih bisa Carra dengar, suara itu menghilang bersama dengan kesadaranya.
I jam yang lalu
Agam keluar dari parkiran Resto, saat akan masuk kejalan raya, tiba-tiba ia berhenti, mobil polisi dan ambulanc beriringan melewatinya.
"Ada kecelakaan kali yah.." duga Agam ia kemudian mengikuti mobil polisi itu, ia menyernyit bukankah ini jalan ke Perum Carra. Namun saat sudah melewati belokan menuju perum Carra , Agam menghela napas.
Entah kenapa pikiranya menuju pada Carra, Agam tetap mengikuti mobil polisi itu.
Sudah terlihat banyak orang disana, mata Agam terbelalak kaget saat melihat sekitar 2 meter darinya , ia melihat mobil seseorang yang ia kenal tengan dikerubungi masa, Agak bisa melihatnya karna polisi membubarkan orang-orang yang ingin melihat.
Agam segera menepikan motor, pikiranya kacau, entah kenapa hatinya merasa itu Carra, Agam menggeleng, ia berdoa itu bukan Carra.
Seseorang dikeluarkan dari mobil itu perlahan, tubuh penuh darah, mobil itu hancur dengan keadaan terbalik.
Agam berlari melewati bapak polisi yang mencegah Agam, Agam ditahan namun ia tetap berontak dan akhirnya bisa dihadapan Carra yang tengah diberi pertolongan pertama oleh tim medis.
"Kamu harus keluar" ucap bapak polisi mencoba menyeret Agam.
"Nggak, dia pacar saya pak" ucap Agam entah kenapa cairan bening itu keluar begitu saja, hatinya sakit melihat Carra dalam kondisi itu.
"Kondisinya tidak stabil, cepat bawa" teriak tim medis kemudian Carra diangkat kemobil ambulance, Agam ikut masuk, ia menggenggam tangan Carra yang penuh darah.
Hangat, tangan Carra hangat oleh darah yang terus keluar meski tim medis menahanya dengan suntikan.
"Carr, Carramel," panggil Agam yang mencium tangan Carra, gadis itu tidak membuka matanya, mulutnya yang ditutup oleh tabung oksigen membuat Agam frustasi.
Ia menyalahkan dirinya sendiri karna membiarkan Carra pulang sendirian, harusnya Agam mengantar gadis itu, kalau keadaanya akan seperti ini, tidak akan ia meminta Carra untuk datang ke Resto hanya untuk makan malam dan membuat gadis ini sekarat seperti sekarang.
Agam membelai pipi Carra, mereka pun sampai dirumah sakit dan langsung dibawa ke UGD.
Off
Agam tergulai dilantai yang dingin ini, sudah 2 jam lampu UGD itu tetap berwarna merah, gusar, Agam sudah meminta pihak rumah sakit menghubungi ibu Carra, ia juga menghubungi keluarganya.
"Mana Carramel" suara seorang wanita mampu membuat Agam mendongak, ia melihat Camella dengan beberapa bodyguard nya.
Agam pun menunjuk ruang UGD, Camella menghela napas. "Cari tahu lewat blackbox , saya sudah melihat rekamanya" ucap Camella dingin pada orang-orang itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Ice Girls [END]
RomansaAgam Aldridge : Dia itu cantik, tapi nolak mulu, ucapannya selalu kasar, selalu menghindar. Carramel Skriver : Dia itu Ribet. Ditulis tanggal 21 Maret 2018 Selesai tanggal 20 Oktober 2019
![The Ice Girls [END]](https://img.wattpad.com/cover/140158193-64-k424279.jpg)