Bab 11

7.4K 355 2
                                        

Happy Reading!

Setelah mereka pulang Ais membereskan sisa-sisa gelas mereka.

'' mba harap,kamu membalas perasaan Fahmi"

Satu kalimat,yang mampu menjadi teka-teki untuk Ais.Kalimat itu masih saja terngiang-ngiang di pikiran Ais.Apa mungkin Fahmi menyukainya.Namun,mengapa secepat itu?

" Gak mungkin is gak mungkin.Kamu itu gak sebanding sama dia " ucap diri Ais sambil menggelengkan kepalanya.

Ais menghilangkan segala pikirannya,lalu ia menuju ke dapur untuk mencuci gelas kotor tersebut.

****


🌼🌼🌼

Hari ini cuaca begitu tidak bersahabat,padahal waktu telah menunjukkan pukul setengah delapan pagi,namun matahari enggan untuk menampakkan dirinya.

Seperti seorang gadis yang sedang duduk termenung di taman menatap lurus kedepan dengan pandangan yang kosong.

Semua orang berlalu lalang di hadapannya,namun ia tidak terlalu memperhatikannya.Bahkan mungkin ia hanya menganggap bahwa dirinya hanya seorang diri.

Seorang wanita paruh baya datang menghampirinya sambil membawa penampan yang berisi makanan serta minuman untuk dirinya.

Gadis tetap saja diam,padahal ia menyadari bahwa ada seorang yang datang menghampirinya.

"Nak,sarapan yuk?ini sudah waktunya sarapan " ucap nya pelan dan penuh keibuan

Gadis itu tetap saja enggan untuk berbicara,matanya masih saja tetap menatap kedepan dengan pandangan yang kosong.

Wanita paruh baya tersebut mengelus rambut gadis itu yang mulai agak kusut.

" Nak,sarapan ya.Lepas itu masuk kedalam kita terapi " bujuk wanita paruh baya tersebut.

Gadis itu tetap diam,namun dalam diamnya ia mengeluarkan setetes air matanya.Wanita paruh baya tersebut langsung merengkuh tubuh rapuh gadis itu.

Di peluknya gadis tersebut sebagai penguat untuknya.Didalam pelukan wanita paruh baya tersebut gadis itu hanya menangis tanpa berbicara sedikitpun.

" Yang kuat cantik,perlahan kamu pasti bisa bangkit " ucap wanita paruh baya tersebut sambil mengelus punggung gadis tersebut.

Setelah di rasa gadis tersebut tenang,wanita paruh baya tersebut melepaskan pelukannya dan kembali membujuk gadis tersebut untuk makan.

" Nanti perutnya sakit,makan ya sedikit saja " bujuknya memelas

Gadis tersebut menggelengkan kepalanya tanpa menoleh ke arah ibu tua itu.

Wanita paruh baya tersebut hanya mampu menghela nafasnya dan bangkit untuk meminta bantuan kepada dokter yang biasa menangani gadis itu.

Ketika wanita paruh baya tersebut melewati ruangan dokter Gibran,ia sedikit tercengang ketika melihat sosok laki-laki yang bersama dengan dokter Gibran.

Sepertinya keduanya sedang membicarakan hal yang serius apa itu menyangkut tentang gadisnya,gadis yang ia temani selama tiga tahun terakhir ini.

Assalamualaikum MahromkuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang