Bab 13

6.9K 337 1
                                        

Happy Reading!

Fahmi maupun Dokter Gibran menengangkan badannya,ada dengan Loka?padahal ia tadi sudah meberikan Loka obat penenang.Namun,mengapa ia kembali mengamuk?

Fahmi langsung berlari ke ruangan kakaknya yang di ikuti oleh Dokter Gibran.Suster Asih?dia juga ikut berlari di belakang dua lelaki gagah tersebut.

Fahmi kembali menengangkan badannya karena  melihat Loka,atau nama lengkapnya Viona Pitaloka Attama.Kakaknya kini sedang berteriak histeris sambil berusaha melepaskan tali yang mengikat tangannya.

Dokter Gibran mulai mendekati Loka,ia di bantu oleh Suster Asih dan Fahmi untuk menyuntikkan cairan obat penenang kepada Loka.

" Apa yang terjadi sus?kenapa Loka bisa seperti ini? " tanya dokter Gibran setelah dirasa Loka mulai tenang.

" Tadi nona Loka melihat tali,lalu..  "

Flashback on

Suster Asih,wanita paruh baya yang sudah membantu Loka selama ia berada di rumah sakit ini.

Suster Asih mendekatkan dirinya ke brankar yang di tempati oleh Loka.Ia begitu merasa iba melihat gadis cantik nan muda ini mengalami sakit yang seperti ini.

Suster Asih menatap wajah Loka lekat-lekat,'cantik,manis' dua kata itu yang selalu di pikiran Suster Asih ketika menatap wajah Loka.

Suster Asih mengelus pipi Loka dengan lembut,tanpa terasa air mata Suster Asih menetes ketika ia mengingat Loka yang hampir setiap hari mengamuk.

Perlahan-lahan Loka membukakan matanya membuat  Suster Asih menyunggingkan senyumnya.Namun,senyum Suster Asih memudar ketika ia melihat Loka begitu histeris ketika ia melihat tali.

Suster Asih dapat melihat wajah ketakutan Loka.

Flashback off

" Setelah itu nona Loka mengamuk dok "

Fahmi memikirkan dua kata yang tadi di ucapkan oleh Suster Asih,'tali,mengamuk'

" tali?" Gumam Fahmi yang masih terdengar oleh Gibran

" Apa kamu tahu,tentang itu? " tanya Dokter Gibran

" Sepertinya saya tahu tentang itu dok " jawab Fahmi menganggukkan kepalanya.

Dokter Gibran mengajak Fahmi untuk menanyakan hal yang lebih  serius.

Fahmi manganggukkan kepalanya.

" Sus tolong jagain Vio ya " ucap Fahmi

" Iya den " jawab Suster Asih menganggukkan kepalanya

🌼🌼🌼

Ais mendudukkan dirinya pada kursi taman,ia bisa melihat orang yang lalu lalang di hadapannya.Namun,ia sedikit meringis menatap miris orang-orang tersebut.

Mereka memiliki badan yang sempurna,namun tidak dengan jiwa yang sempurna.Hampir semua yang berada di sini memiliki jiwa yang terguncang.

Assalamualaikum MahromkuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang