Happy Reading!
Fahmi masih saja berada pada rumah Iren,saat ini ia sedang merebahkan badannya seraya memainkan ponselnya.
Langit telah berubah warna menjadi oranye,sedangkan sosok pria dengen berstelan kemeja enggan untuk beranjak dari tempat duduknya sekarang.
"Mi Lo nggak mandi dulu?"tanya suami Iren
"Eh ya bang,bentar lagi nannggung."balasnya
"Sekarang,keburu Maghrib."
Fahmi menganggukkan kepalanya dan melenggang untuk menuju ke kamar tamu,sebelumnya ia telah lebih dulu meminta izin kepada suami Iren.
Pada saat ia ingin menuju kamar tamu tak sengaja ia melewati kamar gadis yang kesehariannya berkerudung itu.
Ia nampak sedang membaca buku-buku tebal yang sudah pasti ia prediksi itu buku kuliah.
Senyuman tampak tersurat di wajah Fahmi,tidak mau terus-terusan disini dan akhirnya ketahuan,Fahmi segera melangkahkan kakinya kembali menuju kamar tamu.
Waktu menunjukkan pukul setengah tujuh,setelah selesai melaksanakan sholat,Iren beserta suami segera turun untuk melaksanakan makan malam,tak lupa ia juga memanggil Ais untuk segera turun.
"Mas,tolong panggilkan Fahmi,aku sama Ais mau siapin makanan dulu."katanya menyuruh sang suami dengan nada yang lembut
"Bisa sayang,sebentar ya aku panggilkan."
"Makasih ya,"balasnya seraya tersenyum
Setelah selesai memanggilkan Fahmi,kini mereka telah berkumpul dengan Fahmi yang duduk berhadapan dengan Ais.
Hati dan pikiran Fahmi sedang tidak karuan,dadanya rasanya ingin meloncat keluar tatkala ia berhadapan dengan gadis berkerudung tersebut.
'Apa dirinya telah jatuh hati pada gadis itu?'tujuh kalimat yang selalu ada dalam pikiran Fahmi saat ini.Namun jika iya,apakah Ais mampu menerima dirinya dengan keadaan seperti ini?
A a a?rasanya kepalanya ingin pecah memikirkan prasangka-prasangka tersebut.Masalah dengan papahnya saja belum selasai ini ia sudah mau menambahkan masalahnya.
Fahmi menggelengkan kepalanya,ia tidak ingin gadis yang berada di depannya ini ikut terseret dengan masalahnya yang sangat menjenuhkan.
"Mi?"panggil Iren ketika melihat Fahmi melamun
"Mi?"panggilnya sekali lagi seraya menepuk pundak Fahmi
Fahmi terlonjak.
"Ha?kenapa kak?"balasnya
"Melamun?"
Fahmi menggelengkan kepalanya.
"Jangan sering malamun Mi,nggak baik untuk psikis kamu."
Fahmi tersenyum seraya menganggukkan kepalanya mendengar ucapan dari suami Iren.
"Lanjutin makannya,"titah Iren Dan diangguki Fahmi
Setelah selesai makan malam,Fahmi,Iren beserta Fahmi sedang berada di ruang tamu.
Malam semakin larut,langit telah berubah menjadi hitam,tidak Ada Bintang maupun Bulan Yang menghiasi langit Malam ini.
Fahmi sesekali menengok ke arah jam Yang melingkar pada tangannya,waktu menunjukkan pukul setengah sebelas malam,namun ia tidak berniat sedikitpun untuk beranjak dari kediaman Iren.
Brenda pipih miliknya kembali bergetar,namun ia sengaja untuk mengabaikan benda tersebut.
"Mi,hp lo bunyi."ucap Iren

KAMU SEDANG MEMBACA
Assalamualaikum Mahromku
RastgeleJika semua orang bisa berubah lebih baik,kenapa aku tidak?-Fahmi Adrian Attama . Tantangan terberat tentang hidup adalah ketika kita di tugaskan untuk merubah seseorang ke lebih baik,karena merubuah kehidupan seseorang tak semudah kita membalikkan...