Adis membuka penutup matanya. Di sampingnya berdiri Yuli yang langsung beringsut memeluk lengan Adis. Ia terlihat setengah mati ketakutan ketika melihat hanya jalanan gelap di depan mereka.
Adis terpaksa berjalan menuju obor dengan lengan yang masih dipeluk erat oleh Yuli. Dalam hati ia merasa ada yang janggal saat mendapati rekannya untuk menyusuri jalanan di depan adalah Yuli.
Bukan, ia tidak maksud merendahkan Yuli. Tapi ia sadar ia juga tidak bisa menjaga Yuli. Lagi pula, di saat anak film mayoritasnya cowok, kenapa ia tidak didampingi oleh cowok yang notabene bisa lebih kuat darinya dan menjaganya?
Atau justru tujuannya dipasangkan dengan Yuli agar ia bisa mandiri? Entahlah.
Dengan gemetar, mereka mulai memasuki jalan setapak yang amat gelap. Meski terdengar suara bising jangkrik dan segala jenis hewan yang hidup ketika malam di hutan, keduanya tetap merasakan kekosongan di sekeliling mereka.
Setelah berjalan amat jauh, Adis dan Yuli dihadapkan dengan sebuah papan yang menutup satu dari dua cabang di depan mereka. Papan itu menutup akses cabang di sebelah kiri, seakan memaksa mereka berdua memilih jalur kanan.
Masalahnya, walau sama-sama gelap, jalur sebelah kanan ini terasa lebih mencekam lagi. Bahkan samar-samar Adis bisa mendengar daun yang berbunyi seolah diinjak sesuatu.
"Adis!" lirih Yuli tercekit. Ia terlihat ketakutan setengah mati. "Itu jangan-jangan orang jahat!"
"Hewan, kok," sahut Adis.
Ia baru sadar bahwa hewan di tengah hutan di atas gunung seperti sekarang pun belum tentu lebih baik dari orang jahat.
Melihat Yuli yang masih ketakutan, Adis memberikan obor itu pada Yuli. "Udah, lo aja yang pegang."
Yuli menurut. Ia mengambil obor dari tangan Adis lalu mengacungkannya agak tinggi. Tanpa aba-aba, Yuli berjalan menuju jalan sebelah kanan yang langsung diekori oleh Adis.
Detik itu Adis merasa dunianya menjadi mimpi buruk ketika kaki kanannya menginjak tumpukan dedaunan di atas ranting di sisi jurang.
Ia bisa merasakan tubuhnya yang ringan dan angin yang mengelilingi tubuhnya sebelum ia terjatuh ke tanah diiringi teriakan histeris Yuli. Cahaya obor di tangan Yuli hanya sebuah titik cahaya dari tempat Adis terjatuh sekarang.
Dan cahaya itu mulai menghilang diiringi tangisan keras Yuli dan langkah kaki yang berlari cepat.
***
Winwin mendengus gusar mendapati kelakuan Jahe yang sejak tadi hanya melirik ke kiri dan ke kanan dengan wajah takjub. Kalau diperhatikan, ekspresinya mirip sekali denga Patrick Star.
Tolol, maksudnya.
"Gunung kalo malem serem ya!" seru gembira itu jelas kontras dengan ucapannya. "Gue bingung kenapa si Bima sama si Ayu mau-maunya—"
"Nggak usah dilanjut!" Winwin langsung menggeplak kepala belakang Jahe. "Lu kalo masalah reproduksi aja otaknya baru encer!"
Anehnya Jahe malah nyengir.
Kali ini Winwin meringis, menangisi nasibnya yang harus menyusuri hutan bersama si bloon Jahe.
Langkah mereka terhenti ketika melihat secarik kertas, pulpen, lalu dua gundukan daun kering di depan mereka. Winwin meraih kertas tersebut dan membacanya.
Di antara dua benda tersebut, jelaskan alasan mengapa benda itu harus kalian bawa dan alasan mengapa benda lainnya tidak kalian bawa.
Buru-buru Winwin menyingkirkan tumpukan daun di depannya dan mendapati dua benda yang dimaksud dalam kertas tersebut.
KAMU SEDANG MEMBACA
PEKA SENI
أدب الهواةKatanya, seni itu gila. Masa? "Meong," ucap Kokom antusias. "Meong meong meong meeeeong." "Udah gila." ------------- Doyoung itu cuma anak 18 tahun yang baru lulus SMA, punya pacar, dan baru ngerasakan hidup ngekos. Tapi, setelah ngampus di kampus s...
