#13 - Gunung dan Hanya Gunung

12K 2.6K 422
                                        

Selagi para panitia P3K sibuk dengan air jahe dan api unggun di depan tenda, Doyoung mengeratkan coat Johnny di tubuhnya. Ia lalu melirik Adis yang sepertinya mengantuk. Gadis itu beberapa kali tersentak bangun lalu kembali tidur dan terus begitu.

Pelan, Doyoung mengusap kepala belakang Adis. "Sini nyender pundak. Entar mabok lo."

Setengah sadar, Adis menurut. Ia meletakkan kepalanya di pundak Doyoung. "Hubungannya apa sama mabok?" kekehnya.

Doyoung menghela napas. "Rara tuh kalo pas ngantuk nggak buru-buru merem, suka jadi pusing seharian gitu. Kek orang mabok aja pokoknya."

"Kebetulan banget gue bukan Rara."

Sadar dengan keheningan Doyoung, Adis menambahkan, "Gue nggak bermaksud nyinggung masalah lama."

"Gue yang salah," sergah Doyoung tak mau makin berlarut. "Tidur gih. Gue punya firasat kita bakalan disuruh balik lagi ke tenda Peleton."

Adis pun memejamkan matanya dan langsung tertidur.

Kalau boleh jujur, saat ini Adis ingin sekali meringis. Punggungnya nyeri karena terhantam ke tanah, kepalanya pusing, dan tulang-tulangnya terasa ngilu. Dan semua rasa sakit itu baru ia rasakan sekarang.

Tapi baginya, memberitahukan kondisinya saat ini hanya akan menjerumuskan Johnny dan para Mahakaali—dan panitia yang lain—ke dalam lubang perkara. Kemungkinan terburuk, bisa saja acara ini tidak diberikan izin lagi.

Setidaknya Adis menikmati momen dirinya main ke gunung.

"Nggak tidur-tidur ya nih bocah satu."

Adis mendongak. Bibirnya langsung semringah. "Hehe."

"Haha-hehe-haha-hehe lagi," Doyoung mendumal. Ia melepaskan coat Johnny dan menyelimuti tubuh Adis. "Manfaatkan waktu yang ada untuk istirahat."

"Lo juga."

"Iya, gue juga."

"Yodah, sekarang lo merem."

"Lo duluan yang merem."

"Kenapa harus gue?"

Doyoung mengerang frustrasi. "Yodah, meremnya bareng-bareng!" Serius, ia tidak pernah berpikir meminta seseorang untuk memejamkan mata akan seribet ini. "Itungan ketiga tutup mata ya!"

"Iye!"

"Satu, dua, tiga!"

Keduanya serentak memejamkan mata kuat. Namun beberapa detik kemudian mereka berdua terkekeh.

"Anjir, jangan ketawa!" seru Doyoung yang juga masih terkekeh dengan mata terpejam.

"Abisan kek orang tolol," sahut Adis. Ia menghela napas dan menyamankan diri di pundak Doyoung. "Sekarang kita beneran harus tidur. Satu, dua tiga."

Keduanya pun mulai benar-benar berusaha tidur. Doyoung menyenderkan kepalanya pada kepala Adis dan mulai masuk ke dalam alam mimpi.

***

Hansol berjalan maju menghampiri Mark yang masih berdiri di depan barisan. "Nama kamu siapa?"

"Mark, Kang."

"Apa yang mau kamu sampaikan?"

Mark menghela napas sejenak. "Teman kami hilang—"

"INTERUPSI, BRAHMA!"

Dengan berang, Hansol menunjuk Yuta sambil membentak, "Saya tidak butuh pendapat dari Mahakaali!"

Johnny langsung menarik mundur Yuta. "Tuy, tenangin diri lo."

PEKA SENICerita yang bikin terobses. Temukan sekarang