#14 - Gunung dan Roman Picisan

12.7K 2.5K 757
                                        

Adis mengerjap sejenak sebelum membuka matanya. Begitu ia menyesuaikan cahaya di sekitar, ia mendapati dirinya tertidur di atas paha Doyoung.

Merasa pergerakan dari Adis, Doyoung menunduk. "Berisik ya, Dis? Tidur lagi gih."

Usapan lembut di kepala Adis oleh Doyoung sebenarnya membuat gadis itu ingin kembali terlelap, tapi ia menyadari ada seseorang di depan Doyoung yang sedang berbicara. Ia pun langsung bangkit dan duduk di samping Doyoung.

"Masih nggak enak badan?"

Adis mengerutkan kening melihat orang di depannya ini. Pelan-pelan ia menjawab, "Enggak, Kang. Tadi ketiduran doang kok."

Cowok itu mengangguk. "Saya Hansol, Petinggi Brahma."

"Evaluator," tambah Doyoung, paham dengan raut bingung Adis. "Elo duduk dulu aja, Kang Hansol lagi ngasih arahan."

Adis menggeser duduknya mendekat pada mereka berdua.

"Nanti ada beberapa Brahma yang jaga deket kalian. Pokoknya nggak bersuara sampe temen-temen kalian nemuin kalian ya?" terang Hansol. "Sekarang pake jaket kalian. Taeil bakal bimbing kalian ke pos yang udah Brahma siapin."

Doyoung bangkit. Ia membantu Adis berdiri dan keduanya langsung dituntun oleh Taeil memasuki hutan gelap dengan sebuah obor di tangan sang Deputi Brahma.

Sepanjang jalan, Adis melirik Doyoung yang memelototi jalan di depannya. Terlihat aneh, namun Adis tahu bahwa Doyoung berusaha fokus.

"Masih pusing ya?" todong Adis.

Doyoung menoleh. Melihat wajah khawatir Adis, Doyoung serta-merta merasa hangat. Ia tersenyum. "Susah ya boong sama elo?"

Adis terkekeh. Ia membiarkan Doyoung merangkulnya, menumpukan beban tubuh tinggi itu pada badan mungilnya.

***

"Kalo gitu kita harus cari dulu Doyoung sama Adis sebelum kita ngajuin negosiasi ke Brahma," tutur Ten pada seluruh peserta dan Mahakaali di depannya. "Di sini, kedudukan Parvati sama Mahakaali jelas di bawah Brahma. Kami nggak punya andil untuk ngancurin sistem ini. Tapi kalian orang-orang bebas, nggak terikat dalam sistem."

Taeyong mengangguk. "Pokoknya kalian harus ngomong yakin dulu. Kalau kalian berubah pikiran, Brahma udah pasti nggak akan terima penawaran apa pun lagi. Kami masih butuh kalian untuk regenerasi PEFT."

Yuta kini melangkah menuju para peserta. Ia merogoh saku coat-nya dan memberikan senter pada Mark. "Kita cari mereka sekarang, semuanya, bareng-bareng."

Mark meraih senter tersebut dan berjalan diapit oleh Yuta dan Johnny. Keduanya benar-benar terlihat memproteksi Mark dan peserta lain. Bahkan mereka yakin babi hutan pun akan babak belur jika macam-macam di depan keduanya.

Di belakang, terlihat Jahe yang mencari tombol on pada senternya. Dan begitu senter di tangannya menyala, cahayanya langsung menyorot wajah Jahe yang otomatis membuatnya mengerjap kaget dan menutup mata. "Aduh, silau!"

"Kan tololnya kambuh," celetuk Echan sambil menyorot Jahe yang kini memati-nyalakan senternya. "Senternya mati baru tau rasa."

Jahe tidak menanggapi ucapan Echan. "Kita baris gini mirip yang di video Welcome To The Black Parade ya."

Mark melirik ke belakang. "Jahe, jangan mulai."

Bukannya diam, Jahe malah menjadikan senternya mic. Cahayanya menyorot wajahnya. "BECAUSE ONE DAY, I'LL LEAVE YOU A PHANTOM TO LEAD YOU IN THE SUMMER TO JOIN THE BLACK PARADE!"

"Gue mau marah sih," ucap Johnny, "tapi ini lagu kesukaan gue."

"Gue juga, gue juga!" sahut Yuta.

PEKA SENICerita yang bikin terobses. Temukan sekarang