Kisah Adisti dan Baskara

8.1K 1.3K 789
                                        

Doyoung memarkirkan motornya di pelataran Indomaret 24 jam yang berada tak jauh dari kampus.

Cowok itu membuka kacamata hitamnya dan menyibakkan rambut begitu tangannya membuka minimarket tersebut. Pakaiannya serba hitam, kontras dengan kulitnya yang putih dan tentu saja membuatnya menjadi pusat perhatian. Bahkan beberapa terlihat menggeser duduknya, terlihat tidak nyaman.

Mungkin mereka berpikir Doyoung sebagai preman? Entah. Kalaupun iya, Doyoung pun mengerti. Dandanannya malam ini memang terlalu mencolok.

Ia berjalan menyusuri etalase makanan ringan, mengambil beberapa yang menurutnya pas untuk dibawa ke gunung, dan destinasi terakhirnya tentu pada lemari pendingin berisikan minuman. Dengan tangan yang mendekap banyak kudapan, ia menunduk, mencoba meraih botol Vsoy yang berada di bagian paling bawah kulkas tersebut.

Seketika makanan-makanan itu meluncur dari tangannya. Ia mendesah pelan dan memunguti makanan itu sambil berjongkok.

"Permisi."

Ucapan itu membuat Doyoung menggeser tubuhnya sedikit sambil masih fokus pada makanannya. Ia terlalu sibuk merutuki kebodohannya yang tidak mengambil keranjang belanja hingga tak menyadari sekitarnya.

Begitu semua yang ia perlukan lengkap, Doyoung berjalan menuju kasih dan membayar semua belanjaannya.

"Doyoung?"

Doyoung mengerjap kaget. Ia lalu berbalik menuju arah suara yang berasal dari balik punggungnya.

Di belakangnya, ia melihat seorang gadis yang mengenakan celana training dan kaus rumah. Di tangan gadis itu terlihat dua buah roti dan satu kaleng susu.

"Ternyata bener kamu! Pantes tadi kok familier."

Seketika Doyoung membeku.

"Ra?"

***

Hening melingkupi keduanya.

Sejak tadi, Rara hanya meneguk kopi yang Doyoung belikan untuknya tanpa mau repot membuka perbincangan. Di seberang bangkunya, Doyoung tampak menunduk, fokus mengetikkan sesuatu di ponselnya.

Hingga akhirnya Rara menyerah. "Nge-chat siapa?"

Pertanyaan itu membuat Doyoung terkekeh. "Belum berubah ternyata."

Seketika Rara merutuki kebiasannya yang menanyai dengan siapa Doyoung bertukar pesan. Ia sadar, bahkan pertanyaan itu rasanya tidak pantas ia tanyakan saat ia bersama Doyoung dulu.

Dulu.

Kenapa ia baru sadar sekarang?

Doyoung menyakukan ponselnya ke dalam jaket kulitnya. "Ngabarin Kudis, kalo kamu emang mau tau."

Tapi Rara tetaplah Rara. "Ngabarin gimana?"

"Ngasih tau kalo aku lagi ngobrol sama kamu."

"Nggak akan marah?"

"Enggak." Doyoung mengambil kaleng sodanya dan meneguk isinya. "Kalaupun Kudis marah, atas dasar apa coba?"

"Cemburu," jawab Rara polos.

"Kalo gitu, dia berarti nggak percaya ketika aku bilang hati aku buat dia."

"Kamu lagi nyindir aku?"

"Fakta, Ra." Doyoung menghela napas sejenak. "Jadi, kenapa kamu malem-malem ada di sini?"

Rara mengangkat bahunya. "Jajan?"

"Bukan itu."

"Aku ngekos," jawab Rara, paham arah pertanyaan Doyoung barusan. "Aku kuliah di kampus swasta deket sini. Kebetulan lagi nginep di rumah Farah."

PEKA SENICerita yang bikin terobses. Temukan sekarang