"Kok elo ngomong gitu sih ke Adis?"
Jahe mengeluarkan dompetnya. "Carrier Adis biar gue yang bayarin DP-nya. Gue mau nyusulin dia dulu," lanjutnya sembari berlari menyusul Adis.
Doyoung menghela napas. Ia duduk di bangku depan etalase tempat penyewaan sambil menunduk. Seketika rasa bersalah menghinggapinya. Ia sadar betul dengan apa yang ia katakan. Ia juga sadar alasan apa yang membuat mulutnya mengeluarkan kata-kata jahat tersebut.
"Gue cuma nggak suka Adis ngomentarin hubungan gue," lirihnya seraya mengusap wajahnya. "Dia nggak ngerti posisi gue."
"Lo juga nggak ngerti posisi Adis," timpal Lukas. Sebenarnya ia sudah kepalang marah, tapi ia mencoba maklum. Toh Doyoung juga tidak tahu apa-apa. "Tapi, yap, Adis emang nggak akan ngerti gimana sebuah hubungan harusnya berjalan."
Doyoung mengangkat wajahnya. "Nah, kan? Gue cuma nggak suk—"
"Dia nggak akan pernah ngerti karna dia nggak pernah punya gambarannya, Doy," potong Lukas datar. "Orangtuanya cerai dari Adis kecil. Ayahnya ninggalin dia gitu aja. Ngerti apa dia soal jaga hubungan? Ngerti apa dia soal cowok? Dia emang nggak bisa ngerti apa-apa, Doy. Nggak ada yang pernah jagain dia, nggak pernah ada yang kasih afeksi ke dia. Bahkan setelah dia dapet verbal abuse dari pacar—oke, mantannya—Adis tetep bertahan. Karna apa? Karna dia nggak mau ngerasain ditinggalin lagi."
Ucapan itu jelas membuat Doyoung makin merasa bersalah. Apalagi saat tatapan yang lain langsung menatapnya kesal. Ya, Doyoung sadar dia keterlaluan berbicara seperti itu.
"Dan ngedenger elo ngomong seolah-olah Adis juga ikut andil kenapa pacarnya mutusin dia bikin gue kesel setengah mati sama elo, Doy," sambung Lukas. Kali ini nadanya agak naik. "Gue nggak tau sesempurna apa pacar lo sampe bisa ngomong kayak tadi."
Doyoung kembali menunduk. "Gue nggak maksud gitu, Kas...."
"Adis juga nggak maksud gitu."
Ucapan itu telak membuat Doyoung bungkam.
Suasana hening sesaat sampai tiba-tiba mereka melihat Jahe yang kembali sendirian. Semua mengerutkan kening. "Adis-nya mana?" tanya Echan.
Jahe menunjuk arah belakangnya dengan jempol. "Tadi pas ke sana ada Kang Johnny sama Kang Yuta. Trus sama Kang Yuta disuruh balik lagi aja, katanya nanti Adis dianterin Kang Johnny."
***
Kalau bukan karena Yuta yang tiba-tiba ngidam seblak di Kliningan, Johnny tidak akan mendapati Adis duduk di bangku taman sambil sesenggukan. Kalau bukan karena kacamata hitamnya yang sedang diambil alih Yuta, ia mungkin tidak akan menangkap sosok Adis sejelas sekarang. Kalau bukan karena ia melihat pundak gadis itu terguncang, ia tidak akan nekat berhenti dan menyuruh Yuta pergi lebih dulu ke kosan.
Pokoknya, walau terkesan maksa, bagi Johnny ini adalah takdir untuk bertemu Adis di taman.
Adis buru-buru mengusap air matanya saat melihat sebuah motor berhenti di depannya. Dan ia makin panik membersihkan wajahnya saat sadar bahwa motor itu ditumpangi Yuta dan Johnny. Dalam hati ia meurutuki nasibnya yang harus berurusan dengan kating yang satu ini.
Setelah mengambil kacamata hitamnya dari kepala Yuta dan mengusir kawannya itu, Johnny berjalan dan duduk di sebelah Adis. Ia langsung memasang kacamatanya di atas kepala dan memicing, menatap mata Adis yang merah dan sembap. "Adis kenapa?"
Adis menggeleng cepat. "Enggak apa-apa, Kang."
Sepertinya Johnny tidak mendengar ucapan Adis. "Adis nangis?"
"Enggak kok, Kang."
"Adis jangan nangis. Adis nggak boleh lemah! Adis harus kuat!" Johnny menarik ujung kausnya dan mengusapnya ke bawah mata Adis. "Siapa gerangan bikin Adis nangis?"
KAMU SEDANG MEMBACA
PEKA SENI
FanfictionKatanya, seni itu gila. Masa? "Meong," ucap Kokom antusias. "Meong meong meong meeeeong." "Udah gila." ------------- Doyoung itu cuma anak 18 tahun yang baru lulus SMA, punya pacar, dan baru ngerasakan hidup ngekos. Tapi, setelah ngampus di kampus s...
