Adis dan Johnny membawa nampan masing-masing menuju meja yang berada di sisi ruangan di lantai dua, bersebelahan dengan jendela yang menampilkan persimpangan Dago yang penuh dengan kendaraan yang tengah menunggu lampu lalu lintas berubah warna menjadi hijau.
Begitu duduk, Johnny langsung mengambil tiga buah kentang goreng dan mencelupkannya ke dalam minuman sodanya.
Seketika Adis melotot. "Kenapa kentangnya dicelup kola?"
"Enak tau!" Johnny memasukkan ketiga kentang itu ke dalam mulutnya. "Adis dilarang berkomentar kalo belum pernah nyoba!"
Tiga kentang kembali Johnny celup ke dalam gelas sodanya. Kali ini khusus untuk Adis yang menatap ragu kentang di tangan Johnny lalu tatapannya beralih pada Johnny yang tengah mengangkat alisnya, memberi kode agar Adis mencoba kentang itu.
Adis pun meraih kentang itu dan melahapnya. Melihat wajah Adis yang mengerut membuat Johnny terkekeh. Ia menikmati wajah Adis yang berusaha menerima rasa baru di mulutnya itu.
"Enak sih, jadi kayak kentang dingin manis yang agak lembek." Adis terkekeh. "Tapi kayaknya Adis nggak akan ngerelain kola Adis terkontaminasi minyak goreng sama garem dari kentangnya."
Kekehan itu sukses menghilangkan bising di sekitar Johnny hingga membuat cowok itu menumpukan kedua sikunya di atas meja dan menopang kepalanya sambil memajukan sedikit wajahnya, fokus pada manik mata Adis yang berbinar. "Tapi intinya enak, kan?"
"Tapi tetep aja aneh. Dan lagi, kola sisanya Akang apain?" Adis menunjuk gelas soda Johnny.
"Ya Akang minum."
"Udah gila."
Adis membuka bungkusan burgernya. "Tapi ada satu hal aneh yang aku setuju selama makan makanan mekdi sih. Kebiasaannya si Duyung."
"Duyung? Maksudnya Doyoung?"
"Hm!" jawab Adis kelewat antusias.
Posisi burger itu sengaja dibalik. Setelah itu, Adis memisahkan roti bagian bawah burger, menyisakan roti atas, sayur, keju, dan daging dalam keadaan tertumpuk.
"Dia tuh kalo makan burger pasti makan satu roti yang nggak ketempel saus, sayur, atau apa pun di burgernya dulu, baru makan daging sama roti sisanya. Awalnya aku mikir aneh banget, tapi diem-diem aku cobain tuh. Taunya enak."
Johnny mengangguk kecil. Ia lalu menyandarkan punggungnya di kursi. Sejenak, ia hanya memandangi Adis tanpa bersuara. Gadis itu melumuri burger setengah utuhnya dengan saus sambal. Setelah itu, ia memakan roti bagian bawah burger tanpa apa pun.
Sampai akhirnya Johnny meraih burgernya dan memisahkan roti bawahnya dengan bagian lainnya. Ia lalu melahap satu bagian roti burger itu sebagaimana gadis di depannya ini melahapnya.
Tak ada yang istimewa dari rasa roti polos itu sebenarnya. Johnny bahkan mengerutkan kening begitu mengunyah roti tersebut. Tapi, begitu ia melahap roti beserta daging dan yang lainnya, matanya terbelalak, berbinar merasakan rasa yang familier namun juga terkesan baru.
"Enak, kan?" Adis tersenyum sambil melahap sisa burgernya. "Kalo makanya dipisah gini, dagingnya bakal jadi sedikit dominan, tapi tetep balance sama roti dan isian lainnya. Yah, walaupun harus ngerasain rasa roti tawar dulu."
Johnny mengangguk kecil sambil terus memperhatikan wajah cewek itu sampai ia menyadari sesuatu. Ia mengelap tangannya dengan tisu lalu sedikit memajukan tubuhnya.
Adis mengerjap kala merasakan tangan kanan Johnny menangkup sebelah wajahnya. Dalam kekagetannya, Adis merasakan ibu jari Johnny yang menyapu bagian bawah matanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
PEKA SENI
FanfictionKatanya, seni itu gila. Masa? "Meong," ucap Kokom antusias. "Meong meong meong meeeeong." "Udah gila." ------------- Doyoung itu cuma anak 18 tahun yang baru lulus SMA, punya pacar, dan baru ngerasakan hidup ngekos. Tapi, setelah ngampus di kampus s...
