Katanya, seni itu gila. Masa?
"Meong," ucap Kokom antusias. "Meong meong meong meeeeong."
"Udah gila."
-------------
Doyoung itu cuma anak 18 tahun yang baru lulus SMA, punya pacar, dan baru ngerasakan hidup ngekos. Tapi, setelah ngampus di kampus s...
Iya jadi Johnny pernah poto sama Rothy, kawan. Haha.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kalo ini Jefran sama Putih HEHEHEHE
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Johnny mengangguk kecil. "Iya silakan, Akang kan cuma ngajak jajan."
Setelah itu, Johnny mengenakan kacamatanya kembali dan menghampiri Yuta yang terlihat tengah mengobrol dengan Echan. Ia berbicara pada Echan sebentar sebelum pamit dan pergi ke arah bianglala besar di tengah area Sekaten.
Adis menyentak tangan Doyoung yang menggenggam lengannya dan langsung menatap nyalang cowok itu. "Elo kenapa sih?"
Bukannya menjawab, Doyoung malah kembali meraih lengan Adis. "Jangan pergi."
"Kenapa?"
"Pokoknya elo jangan pergi."
"Kang Johnny cuma ngajak jajan, Doy. Elo ikut juga nggak masalah."
Doyoung menggeleng kuat. "Pokoknya enggak."
"Ya jelasin sama gue kenapa?!" pekik Adis tak paham. Gadis itu mengusap wajahnya kasar dan menatap Doyoung. Ia bisa merasakan tangan Doyoung yang bergetar hebat. "Elo jadi aneh semenjak gue dari rumah elo. Ada apa sih? Takut gue ketauan Rara?"
"Enggak gitu," geleng Doyoung. "Gue nggak mau elo per—"
"Control your self, Doy!" sergah Adis kencang. Ia meringis, menyesali dirinya yang justru berteriak saat Doyoung ketakutan. Pelan, ia mengembuskan napasnya. "Gue cuma minta lo jelasin."
Doyoung menunduk. Tangannya yang sejak tadi menggenggam lengan Adis pun terlepas.
Untuk sejenak, Doyoung terlihat enggan bersuara. Berkali-kali terdengar napas berat keluar dari mulutnya. Kakinya bergerak gelisah dan ia terus menunduk, tak ingin memandang Adis yang masih menantinya berbicara.
"Kalo elo nggak bilang, gue nggak akan ngerti, Doy," bisik Adis pelan dengan wajah lembut. "Ya?"
Setelah helaan napas yang kesekian kalinya, Doyoung berujar, "Gue takut elo pergi."