JANGAN LUPA APA? baca tuan detritus hehe.
Btw, buat lagu yang ada di chapter ini (dan chapter lainnya), silakan cek Playlist Peka Seni, oke? Ada di link di bio.
'Cause keepin' you close ... shouldn't be hard
If you were honest when you said you missed me
You've played with my pride
Making me feel like we had something real
Alunan lagu itu adalah satu-satunya suara yang memenuhi kamar kosan Ageu siang ini.
Ia masih berada di atas kasurnya, dibalut selimut tebal yang ia dekap makin erat dari waktu ke waktu. Tak ada niatan sedikit pun untuk beranjak barang mematikan lampu tidur temaramnya ataupun sekadar membuka tirai jendal agar sinar matahari memasuki kamar yang kini tampak remang-remang.
And making you stay ... shouldn't feel wrong
This is the last time I'll ask you to listen
I've played all my cards
Would you feel a thing if you saw me right now?
Berkali-kali ia mengusap wajahnya kasar ketika air matanya kembali mengalir. Meski perutnya meronta minta diisi, tapi Ageu benar-benar sedang tidak ingin beranjak dari kasurnya. Tubuhnya rasanya letih untuk alasan yang tidak jelas.
Tidak, alasan paling jelas saat ini karena ia patah hati.
Ia baru saja akan memesan makanan melalui aplikasi saat sadar Johnny selalu memesankan makanan untuknya saat mereka bertengkar. Pikiran itu seketika membuatnya bangkit dan duduk sambil mengusap wajahnya pelan.
Segala tentang cowok itu kini benar-benar menyesakkan dada Ageu. Ia bahkan tak sanggup menatap Bakpia Patok pemberian Johnny yang masih tersimpan rapi di atas kulkas kecil di dalam kosannya.
Dan sialnya ia baru ingat siapa yang membuatnya pindah ke kosan ini.
Ageu terdiam sejenak. Ia memeluk kakinya sambil menatap sekitar. Setidaknya, ini tempat baru tanpa kenangan Johnny di dalamnya. Tak ada kenangan soal malam-malam yang mereka lalui, tak ada asap rokok dan ceceran minuman keras yang pernah singgah di kamar ini, juga tak ada pelukan hangat saat keduanya lelah dan hanya butuh tempat bersandar.
Tapi nyatanya, tempat ini juga begitu kosong, sunyi, kering.
Lagu itu masih berputar, membuat Ageu berinisiatif mengunggah lagu dan sepenggal liriknya di sosial media miliknya, berharap kata-kata itu menjadi suatu kode untuk Johnny.
Kalau cowok itu berkenan melihatnya.
Perasaan kalut itu membawa Ageu menuju kamar mandinya. Ia harus keluar sebelum pikiran-pikiran buruk menghampirinya.
***
Ageu membawa nampannya dan mengedarkan pandangannya, mencari bangku kosong dalam restoran Burger King yang siang ini tampak ramai karena sudah masuk jam makan siang.
Tak disangka, matanya menatap Jahe dan seorang gadis duduk di bangku dekat tempat bermain. Bertepatan dengan itu, Jahe juga tak sengaja mendapati Ageu berdiri di depan meja kasir. Cowok itu melambaikan tangan, memberikan isyarat untuk Ageu mendekat.
"Hai," sapa Ageu sambil berjalan mendekat. "Bangku kalian kosong?"
Jahe yang sibuk mengusah kentang goreng mengangguk. "Duduk sini aja, Teh. Itu mah bangkunya para bocil."
Mendengar itu, Ageu refleks menatap ke arah tempat bermain di sebelah kirinya. Ia bisa melihat empat bocah SD yang sedang main perosotan. Dua bocah—Jisung dan Ojin—terlihat asyik bergantinya terjun dari serodotan, sedangkan dua lainnya—Jaemin dan Jeno—tampak tengah bergelayutan pada jaring-jaring pembatas.
KAMU SEDANG MEMBACA
PEKA SENI
FanfictionKatanya, seni itu gila. Masa? "Meong," ucap Kokom antusias. "Meong meong meong meeeeong." "Udah gila." ------------- Doyoung itu cuma anak 18 tahun yang baru lulus SMA, punya pacar, dan baru ngerasakan hidup ngekos. Tapi, setelah ngampus di kampus s...
