#16 - Dua Sisi Duyung

13.6K 2.4K 555
                                        

Rara langsung melompat ke arah Doyoung yang baru saja memasuki ruang tamu rumahnya. Cowok itu serta-merta memeluk gadisnya erat dengan wajah kaget. "Kerasukan arwah koala kamu?"

Rara menjauhkan wajahnya dari leher Doyoung. "Aku tuh kangen, Yang!" Rara turun dari tubuh Doyoung. "Sekalinya Mama yang nelepon aja kamu langsung angkat!"

"Kamu ngapain juga neleponin aku pas aku masih di gunung? Kan aku udah bilang hari ini pulangnya," jelas Doyoung.

"Jadi kamu langsung ke sini?"

Melihat senyum bahagia di wajah pucat Rara membuat hati Doyoung menghangat. Ia balas tersenyum sambil menyingkirkan anak rambut Rara di keningnya. "Aku tadi cuma nyimpen carrier, cuci muka, ganti baju, trus ke sini." Doyoung memegangi wajah Rara yang memerah karena hawa panas dari tubuhnya. "Anget dari kapan?"

Mama Rara keluar dari dapur dengan segelas teh hangat, suguhan yang selalu dibuatkan Mama Rara ketika ia berkunjung ke sana. "Persis pas kamu ke gunung. Tapi anaknya keras kepala tuh, susah makan! Dikasih bubur malah nggak mau!"

Pandangan Doyoung langsung menajam pada Rara. "Kok gitu?!"

"Karna bubur," jawab Rara sekenanya.

Doyoung memasang wajah sok marah. Jari telunjuknya lalu memukul-mukul pelan bibir Rara cepat. "Coba ya bibirnya selain dipake bacot, dipake buat makan juga!"

Bukannya merasa kesal karena bibirnya terus-menerus dipukul Doyoung, Rara malah membuka mulutnya lebar dan menggigit jari Doyoung kencang. Raut sok kesal Doyoung pun langsung berubah jadi ringisan. "Eh, sakit, Yang!"

Begitu jarinya lepas, Doyoung menyentil pelan dahi Rara. Tak terima dengan sentilan Doyoung, Rara berusaha meraih jari Doyoung lainnya, namun sang oknum sudah lebih dulu berlari ke lantai atas dengan cepat, membuat Rara tertawa kencang sambil mengejar Doyoung.

Mama Rara yang sejak tadi duduk di depan TV menurunkan kacamatanya dan berteriak, "Heh, katanya sakit malah kejar-kejaran!"

"Rara yang duluan, Ma!" jerit Doyoung, disusul jeritan kesakitan ketika Rara berhasil menggigit lengan atasnya. "Mamaaaa, Rara-nya gigit tangan Doyoung!"

"RARA!!"

Mendengar ibunya berteriak marah, buru-buru Rara melepaskan gigitannya. "Aduan ih!" sergah Rara kesal.

Doyoung mengusap-usap lengan atasnya yang baru saja menjadi tempat mendarat gigi Rara. "Bau jigong iuh!"

"Halah, kayak yang di gunung mandi aja! Sok-sok ngatain orang bau jigong!"

"Heran, sakit kok masih bawel!"

"Yang sakit kan badannya, bukan mulutnya!"

"Jangan ngomong gitu, aku jadi kepikiran nyumpahin kamu seriawan nih biar nggak bacot!"

"Emang das-DOYOUNGGG!!"

Doyoung hanya terkekeh melihat Rara yang berteriak saat ia menggendong gadis itu. Sedetik kemudian, ia mendapati Rara memeluk lehernya saat Doyoung membopongnya ke kamar Rara. Ia tahu Rara sejak tadi menahan pusing kepala, terlihat dari tubuh sempoyongan cewek itu ketika mereka berdiri tadi. Hanya saja Rara terlalu senang bertemu dengannya hingga tidak memedulikan kondisi tubuhnya sendiri.

Benar-benar menggemaskan.

***

Setelah tidur hampir dua belas jam, Yuta keluar dari kamar kosnya sambil menguap. Ia menelusupkan tangan kirinya ke dalam kaus dan mengusap-usap perutnya. Rambutnya terlihat berantakan, namun sepertinya sang pemilik tidak berniat merapikan rambutnya. Ia memilih mu mengenakan sendal dan menuruni tangga menuju teras depan kosan.

PEKA SENICerita yang bikin terobses. Temukan sekarang