"Penghormatan pada kaisar." Teriak salah seorang pengawal membuat seluruh orang yang berada di plataran istana segera berkumpul dan menundukkan kepala mereka serendah rendahnya.
"Segala berkat dan pencerahan atas kekaisaran sokrates."
Disampingku Zeth menggengam jemariku dengan sangat erat, ntah apa yang difikirkannya saat ini tapi perasaanku sangat tidak enak.
Disana aku dapat melihatnya, melihat tubuh tegap miliknya yang terlihat sangat kokoh tak tergoyahkan duduk dengan tenang diatas kuda hitam kebesarannya.
Mata violetnya terus saja menatap para rakyatnya satu persatu seakan ia tidak ingin melupakan mereka yang tengah menyambut kepulanganya dengan tentunya membawa kemenangan besar bagi kekaisaran.
Tanpa sadar aku menekan dadaku yang terasa begitu sesak karena saking kuatnya debaran yang terasa, kupikir ini bukanlah waktu yang tepat untuk jadi melankonis.
"Apa kau baik baik saja, Zeth?" Tanyaku ketika melihat gerak geriknya yang menjadi aneh.
"Aku baik." Jawabnya cepat.
"Aku tau kau gugup harus menghadap ke kaisar setelah ini, tapi inilah tujuanmu untuk datang kemari bukan?" Aku mengeratkan jemari kami, "Tenanglah semua pasti akan berjalan lancar, aku disini." Meski terdengar sedikit berlebihan tapi aku tidak tau harus mengatakan apalagi untuk menenangkannya.
Tujuan awal dari Zeth untuk datang kemari adalah sebagai perwakilan kerajaan dari kerajaanya untuk menandatangani perjanjian damai hingga kerja sama kedepannya, tentu saja itu adalah hal yang sangat bagus terlebih setelah ia harus mengalami kerugian yang sangat besar akibat ulah ayahku, ups mantan ayahku.
Namum Zeth adalah Zeth jika ia tidak membawa kehebohan pada penjuru istana karena telah melamarku di tengah hari dan disaksikan langsung oleh para pelayan, dan mungkin saja aku akan terlibat masalah setelah ini.
"Pangeran Aresenio." Sebuah suara membuatku segera tersadar, "Senang menyambutmu pada kepulanganku dari kemanangan." Lanjutnya kembali, dengan segenap hati dan ketekatan yang bulat perlahan aku memberanikan diri untuk meliriknya.
"Yang mulia berkat bagi kekaisaran Sokrates, ini adalah sebuah kehormatan besar untuk menyambut anda di hari yang besar pula." Mereka berdua saling berjabat tangan, tapi disini aku berdiri masih menatap seakan tak percaya jika ia telah kembali.
Namun lagi lagi aku merasakan ada sesuatu yang aneh, aku tidak dapat menemukan keberadaan Agi dimanapun. Padahal biasanya gadis kecil itulah yang paling bersemangat jika membahas sesuatu tentang ayahnya. "Ini aneh." Gumamku pelan masih sambil melihat ke arah kanan dan kiri.
Hingga tatapanku terjatuh pada pria yang selama ini berada dekat denganku tapi ia tidak pernah menyempatkan waktunya lagi unttukku, Antonio.
Wajah manis pria itu tersenyum lembut ke arahku, "Putri Dementieva, lama tidak berjumpa." Sapanya sopan memberi hormat padaku.
Situasi ini terasa canggung, "Antonio."
"Bagaimana kabarmu putri."
"Apa jika aku menjawabnya itu akan membuat perubahaan?"
Ia tertawa, sama seperti tawanya yanh dulu. "Tidak, tentu tidak."
"Kalau begitu bagaimana dengan kabarmu Antonio? Apa semua baik baik saja."
"Aman dan terkendali putri." Ia meraih tanganku, "Ngomong ngomong saya mengerti jika mungkin saat ini anda sudah membenci saya akibat ketamakan saya dalam bekerja hingga lupa waktu putri, namun dengan keadaan yang sepertinya akan kembali berjalan normal saya ingin berbaikan dengan anda."
KAMU SEDANG MEMBACA
The Empress Choice's
Fantasy'Only one can take the emperor heart' Aku hanyalah seorang mahasiswi tingkat akhir biasa, keseharianku benar benar membosankan. Namun semua itu berubah ketika aku secara tidak sengaja tertabrak truk yang sedang melaju begitu kencang tepat di hari uj...
