"Karena dia adalah kelemahanmu."
BADUMP
Jantungku berdetak kencang, aku tidak seharusnya memiliki kelemahan.
Apalagi terhadap seorang wanita
Rasanya itu sangatlah tidak mungkin.
"Aku akan menunjukkan kepadamu." Gema sebuah suara yang mengelilingi isi kepalaku, "apa takdir sesungguhnya sang putri."
Seketika seluruh gambaran hitam meleleh perlahan lahan menjadi saat dimana untuk pertama kalinya aku bertemu denganya.
Seorang gadis kecil yang tengah tertunduk malu di samping seorang wanita yang mirip denganya. Sangat cantik.
Aku mengingatnya, itu adalah kali pertama pertemuanku dengan sang Ratu. Ratu Chorine.
Hingga semua itu berubah menjadi di saat pertemuanku dengan dirinya di atas tanah Clarendon yang berdarah.
"Takdirmu tidak akan pernah bersatu dengan sang putri." Ucap suara itu kembali, "apa yang kau harapkan menjadi milikmu belum tentu akan dapat kau milikki meski sekuat apapun usahamu untuk melawan takdir."
"Omongong kosong!" Seruku keras melihat sekeliling, "penyihir jalang sepertimu tidak akan mempan mempengaruhiku."
"Aku mengatakan yang sesungguhnya." Sekelebat bayangan akan sosok Dementieva kembali hadir di hadapanku, "Apa kau mengerti alasan mengapa, tarian sang dewi begitu memikat serta mematikan dalam waktu bersamaan yang mulia?"
Tarian Dementieva memanglah tarian terindah yang pernah ku saksikan, "karena ia memiliki hati yang suci dan bersih."
"Sungguh naif sekali untuk ukuran seorang kaisar sepertimu."
"Semua pengorbanan pasti akan memiliki harga yang pantas dan itulah yang berlaku jika kau semakin di cintai maka kekuatanmu akan melemah."
Itu sangatlah tidak mungkin! Tidak ada seorangpun yang pernah mengatakan hal tersebut kepadaku, "sayangnya putri Dementieva menanggung semua itu, itulah alasan terbesar mengapa tarian sang dewi membuat usianya semakin berkurang."
"Cinta akan membuat kekuatanya semakin memudar dan tanpa kekuatan ia akan kembali menjadi cahaya. Seperti asalnya."
Sekelebat bayanganpun kembali nampak, namun kali ini tak ada lagi senyuman yang menghiasi wajahnya. Semua terlihat sangat gelap dan suram.
Ketika ia menutup matanya tepat dalam pangkuanku.
"Namun kau memiliki separuh cahaya yang Chorine titipkan di jiwamu." bibirku menggeram, tidak sembarangan orang yang mengetahui hal tersebut, "bunuh Dementieva maka kau akan mendapatkan jiwamu seutuhnya."
"Bagaimana kau bisa mengetahuinya."
"Aku mengetahui yang bahkan sekalipun kau tidak akan pernah dapat menduganya, bahkan aku dapat mengetahui jelas seberapa jauh takdir kalian yang saling bertentangan itu. Terlebih Kehancuran Skrates, terlihat sangat jelas ketika kau mengambil pilihan yang salah."
"Aku tidak akan pernah melakukanya!" Meski seburuk apapun itu, aku tidak akan pernah melukai Dementieva. "aku tidak akan pernah meneruti kemauan jalang sepertimu Amera!"
Semua ini hanyalah ilusi kekuatan hitam, tidak seharunya aku terpancing dengan segala omong kosong yang ia utarakan.
"Tak kusangka kau terlalu bodoh untuk memahaminya yang mulia, semakin kau mempertahankan perasaan ini maka kau akan membuat kematianya menjadi perlahan dan menyakitkan, rasa cintamu yang kau agungkan itu cepat atau lambat pasti akan membinasakannya."
Seketika semua terasa berputar membuat tubuhku sedikit limbung, ketika aku kembali membuka mata penglihatan akan masa lalu kembali terpampang.
Terdapat dua sosok yang terasa begitu familer dalam penglihatanku, Raja dan Ratu Clarendon. Hanya saja keduanya tidak dalam kondisi baik sejak terkakhir aku melihatnya.
Disitu, Ratu Chorine terbaring pucat dan lemah diatas ranjangnya seakan ia tengah sekarat. Wajah yang dulu telah menolongku dengan berseri kini telah padam.
Wajah yang begitu mengingatkanku akan seseorang...
Apa dia akan segera memiliki takdir yang sama dengannya?
Apa rasa cintaku akan benar benar dapat membunuhnya?
Jika aku mempertahankan perasaan ini apa itu akan membuatnya berakhir seperti apa yang Ratu Chorine rasakan?
"Sebuah kehidupan untuk kematian dan sebuah kematian untuk kehidupan adalah takdir yang sudah di tetapkan para dewa, melanggarnya maka akan mendapat konsekuensi. Itulah mengapa sang ratu memberikan separuh kehidupannya kepadamu karena ia tau takdir sesungguhnya sang putri."
"Bunuh Dementieva maka kau akan membebaskannya dari kutukan."
"Membunuhnya maka kau tidak akan lagi memiliki kelemahan."
•••
Heyyo selamat siangg, Okey aku disini cuma mau jelasin kalo chapter ini adalah flashback waktu Alarick masuk ke dalam sihir Amera, incase bagi kalian yang bingung.
Satu lagi...
Menurut kalian better happy ending atau sad endingkah? Wkwkwk -grtx
KAMU SEDANG MEMBACA
The Empress Choice's
Fantastik'Only one can take the emperor heart' Aku hanyalah seorang mahasiswi tingkat akhir biasa, keseharianku benar benar membosankan. Namun semua itu berubah ketika aku secara tidak sengaja tertabrak truk yang sedang melaju begitu kencang tepat di hari uj...
