"Putri!" Baltazhar menyentuh dahiku panik, tidak ada lagi rasa hangat yang pernah kurasakan dulu melainkan rasa terbakar yang sama ketika Antonio menyentuhku.
"Uhukk uhukk uhukk." Sesak menggergoti kerongkonganku, tubuhku terasa sangat sakit dan lemas. "B-baltazhar apa ya-ng terjadi?"
"Putr-"
"Penyihir!" Seru seseorang dengan nada tidak bersahabat menghentikan percakapan kami, Baltazharpun seketika berdiri di hadapanku berusaha membatasi kami.
"Meyingkir dari hadapanku."
Mungkinkah s-suara itu?
"Maaf namun Putri Dementieva tidak dalam keadaan baiknya." Balas Baltazhar dingin.
Setelah sekian lama kenapa pada akhirnya ia harus datang?
"Kau penyihir, apa yang kau lakukan di kastilku."
"Terdapat begitu kental sihir hitam disini dan hal tersebut dapat menyerap habis energi milik sang putri." Terang Baltazhar langsung pada intinya.
Seseorang yang suaranya sangat familiar itu berjalan lebih dekat hingga aku dapat menatapnya, menatap iris violetnya.
Alarick.
Pria itu menatapku lekat, sangat lekat seakan ia takut untuk kehilanganku. Tapi itu tidak mungkin, dia bahkan tidak pernah menganggapku ada sekalipun.
Badump badump badump
Sial! Aku tidak dapat menahanya lagi, "Uhuk uhukk uhukk." Cairan merah pekat yang keluar dari mulutku semakin banyak, rasa nyeri ini seakan menekan jantungku agar berhenti berdetak.
"Tangkap dia." Tunjuk Alarick pada Baltazhar yang masih berusaha melindungiku dengan berdiri di hadapanku. Beberapa pengawalpun segera mengelilingi Baltazhar yang kini sudah mengambil posisi siaga.
Tanpa memedulikan keberadaan Baltazhar di hadapanya, Alarick segera berjalan ke arahku dan menyesuaikan tinggi kami, "Bernafaslah." Ucapnya pelan. "Perlahan lahan."
Aku menggelengkan kepalaku sekuat yang kubisa, Alarick tidak boleh menyentuh Baltazhar terlebih membunuhnya karena saat ini hanya penyihir itulah yang kupercaya. "J-Jangan B-alt-azhar." Ucapku terbata bata.
"Kenapa tidak? dia adalah penyihir tanpa ikatan."
Dia terikat denganku! "Aku t-tidak peduli." aku memberanikan diri untuk menatap Alarick nyalang.
"H-UNGHHH." Rasa sesak menekan kerongkonganku jauh lebih sakit dari sebelumnya, jemariku yang semula tergeletak di atas tanah kini mencengkram erat hinga buku buku jariku memutih.
Melihat reaksiku yang seperti ini, jemari kasar Alarick kemudian mengusap wajahku yang penuh akan darah tanpa merasa jijik, "s-sakit." Cicitku kecil, "sangat sakit." Aku menunjuk dadaku.
"Ingin kubantu?" Tanyanya denga raut wajah yang tidak dapat kujelaskan, aku hanya menganggukan kepalaku pasrah disaat saat seperti ini. Dimana aku tidak lagi memiliki sebuah pilihan lain.
Perlahan lahan wajah Alarick mendekat ke arah wajahku, nafasnya yang hangat aku dapat merasakanya karena saking dekatnya jarak kami.
"Ap-" baru saja aku akan memprotes, Alarick langsung saja membungkam mulutku menggunakan bibirnya.
Tentu saja hal itu membuatku terkejut dan berusaha sekeras mungkin mendorongnya tubuhnya menjauh namun bukannya terdorong justru Alarick semakin memperdalam ciumannya.
Semakin lama semakin dalam begitu juga dengan rasa nyeri pada jantungku yang semakin lama berangsur angsur memudar. Alarick melepaskan pangutannya, "Kau akan baik baik saja." Ucapnya seperti berusaha meyakinkanku.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Empress Choice's
Viễn tưởng'Only one can take the emperor heart' Aku hanyalah seorang mahasiswi tingkat akhir biasa, keseharianku benar benar membosankan. Namun semua itu berubah ketika aku secara tidak sengaja tertabrak truk yang sedang melaju begitu kencang tepat di hari uj...
