"Bukankah sudah kukatakan padamu Dementieva." Ia mendekatkan wajahnya ke arahku. "Itu bukanlah takdirmu."
"T-tapi saya lelah."
Aku dapat melihatnya, tatapan khawatir yang ia tunjukan padaku. "Kalau begitu, bertahanlah."
Ada apa denganku, mengapa aku masih tidak bisa menggerakkan tubuhku?
"Aku hanya berusaha mengatakan jika itu sangatlah berani, aku tau kau melakukanya untuk sebuh alasan."
Jangan menatapku seperti itu,
"Maafkan aku, untuk semuanya Dementieva"
"HUNGGHHHH ARGHHH-" Teriakku penuh kesakitan, rasa panas serta perih segera membawaku kembali kedalam kesadaranku sepenuhnya. Tanganku terus saja meremas dadaku karena saking sakitnya.
rasa sakit yang sama seperti ketika Antonio menyerangku pada saat itu.
Air mataku perlahan mengaliri deras berjatuhan di pipiku, aku tidak mengerti kenapa di saat seperti ini justru bayangan pria brengsek sepertinyalah yang memenuhi benakku. Apa aku ini baik baik saja?!
"Arghhhh.." ya tuhann ini sangatlah menyiksaku. Apa yang sebenarnya terjadi sebenarnya...
"oudétero." Bisik seseorang pelan dengan memegang tanganku lembut, ketika ia mengucapkan mantra tersebut rasa hangat perlahan mulai mengaliri tanganku hingga ke dalam tubuhku membuat rasa yang semula sakit tak tertahankan kini berangsur angsur mulai menghilang.
Nafaskupun sedikit demi sedikit mulai kembali teratur, air mata beserta keringat mulai bercampur jadi satu di wajahku ditambah rasa berdenyut yang terus saja menhantam kepalaku saat ini semakin membuat penderitaanku sempurna.
"Bagaimana keadaanmu?" suara dalam yang terdengar lembut mengalun indah dalam pendengaranku.
Sontak saja tubuhku langsung menegang ketika mendengar suara asing yang baru pertama kali ini ku dengar. Kejadian terakhir kali yang kuingat adalah ketika cahaya kuning merayapi seluruh tubuhku dan Zeth yang berlari sangat cepat berusaha menggapaiku dengan tatapan khawatirnya lalu aku tidak mengingat apapun lagi selain terbangun dengan pakaian putih bersih yang hanya sebatas lutut.
Kepalakupun terangkat memperhatikan sekelilingku yang mana baruku sadari jika ini sama sekali tidak terlihat seperti Skrates.
Seluruh dinding dan lantainya di lapisi warna putih jernih hingga berkilat licin, tidak ada warna gelap yang tertempel seperti kamarku. Disini semuanya berwarna putih dan sedikit keemasan sangat kontras sekali jika di bandingkan antara keduanya.
"Bagaimana keadaanmu?" Ulangnya sekali lagi membuatku kembali menatap ke arahnya.
"K-kau?" Ujarku terkejut ketika mata kami saling bertemu, fikiranku tiba tiba saja kembali melayang jauh disaat saat ketika Zeth mengajakku ke pasar dan seseorang tanpa senagaja menabrakku hingga membuat es krimku terjatuh dengan bebasnya, "bukankah kau adalah seorang pria yang menabrakku waktu?!"
Rambut putih keperakan panjangnya terurai lembut menjuntai hingga pinggulnya, alisnya yang berwarna hitam membuat wajahnya terlihat semakin tegas dan juga penuh wibawa ditambah mahkota berwarna silver yang berwarna lebih tua dari rambutnya membuat seluruhnya tampak jelas bahwa pria di hadapanku ini memiliki kedudukan yang tinggi.
Ia tersenyum, senyum lembut yang tidak pernah Alarick tunjukkan padaku sebelumnya. "Sama sama akan menjadi jawabanku."
Aku gelagapan tak enak padanya, dasar bodoh Dementieva. "M-maafkan aku dan tentunya terimakasih sudah menolongku."
KAMU SEDANG MEMBACA
The Empress Choice's
Fantasía'Only one can take the emperor heart' Aku hanyalah seorang mahasiswi tingkat akhir biasa, keseharianku benar benar membosankan. Namun semua itu berubah ketika aku secara tidak sengaja tertabrak truk yang sedang melaju begitu kencang tepat di hari uj...
