Jelang seminggu ujian nasional, Vania selalu menghabiskan waktunya sepulang sekolah di tempat bimbel, hampir setiap hari belajar di sana. Sahabat-sahabatnya gak ada yang ikut karena Tiara dan Nina mengambil les privat di rumah. Di antara mereka berempat memang Tiara dan Nina yang berasal dari keluarga kaya, sementara Deva dan Vania berasal dari keluarga yang berkecukupan meski tidak kaya, namun sebenarnya keluarga mereka pun memiliki harta yang cukup untuk diwariskan ke beberapa generasi. Bapak Vania memiliki beberapa puluh hektar sawah di dua kecamatan yang tentu saja jika panen tiba penghasilannya lebih dari cukup untuk membiayai keluarga mereka juga investasi kedepan untuk pendidikan Vania. Orang tua Deva memiliki beberapa toko sparepart kendaraan dan bengkel yang dikelola oleh ayahnya, Deva dan abangnya, kedepan Deva akan ketambahan lagi dua toko kelontong yang diamanahkan calon ayah mertuanya.
Itulah mereka, persahabatan yang tidak pernah membedakan asal dan latar belakang. Mereka pun tidak pernah membatasi diri untuk bergaul dengan teman-teman yang lain. Meski berasal dari latar belakang dan kesibukan yang berbeda, tidak membuat mereka sulit untuk bertemu. Ada saja waktu yang mereka sisihkan untuk bisa saling bercengkrama dan berbagi cerita. Tapi menjelang ujian nasional ini mereka sepertinya disibukkan oleh kegiatan masing-masing sehingga sulit untuk kumpul bersama.
Vania sendiri menambah kegiatannya setelah jam sekolah untuk mengikuti bimbel, dan di tempat bimbel ini Vania tidak hanya belajar untuk ujian nasional namun juga belajar untuk persiapan mengikuti SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Nasional). Berkat dukungan orangtuanya Vania semakin yakin untuk melanjutkan sekolah di Bandung, rencananya Vania akan mengambil pendidikan kedokteran dengan target Universitas Negeri.
Pukul 20.30 WIB malam ini, Vania baru saja keluar dari tempat bimbel. Waktu yang sudah cukup malam untuk seorang gadis seperti Vania apalagi pulangnya pun sendirian. Sebenarnya Bapak menyuruh Vania untuk membawa mobil, namun Vania menolak dengan alasan ribet kalau naik motor Vania bisa menyelip-nyelip jika jalanan macet. Ditawarin akan dijemput Bapak pun Vania menolak, kasian Bapak yang sudah capek seharian mengurusi sawah.
Sampai hari ini Vania masih belum menyadari kalau Aldi hampir setiap hari mengikuti dirinya. Aldi sangat khawatir melihat Vania yang tidak ada hentinya berkegiatan setiap hari, bahkan akhir-akhir ini seperti tidak ada habisnya. Dan sahabat-sahabatnya juga sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Di sekolah pun Vania menghabiskan waktu istirahatnya di perpustakaan.
Saat ini Aldi menunggu dengan setia di jalan depan tempat bimbel. Pandangan Aldi tertuju pada seorang gadis yang keluar dari gedung di depannya sambil membawa tas ransel yang penuh dengan buku-buku. Vania seperti orang yang kelelahan karena tampak dari langkahnya yang pelan dan beberapa kali harus berhenti sejenak. Yaa.. Vania sepertinya kurang sehat, aku harus kesana. Batin Aldi dengan segera keluar dari mobil dan berlari kecil menuju tempatnya Vania.
Syukurlah sesaat sebelum Vania jatuh Aldi sudah tiba di sana dan sempat menahan tubuh Vania yang tiba-tiba limbung ke tanah. "Ya Allah Nia... kamu kenapa?" Tanya Aldi sambil menangkap tubuh Vania yang hampir jatuh menyentuh tanah, yang ditanya tidak menjawab karena Vania sudah tidak sadar. Dengan segera Aldi menggendong Vania dan membawa ke mobilnya. "Maaf Nia aku harus menggendongmu, ini darurat" Ucap Aldi selanjutnya.
Aldi mengendarai mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata agar segera tiba di rumah sakit atau klinik terdekat. Alhamdulillah suasana di rumah sakit juga tidak begitu ramai sehingga Vania bisa segera mendapatkan penanganan medis. Setelah diperiksa oleh dokter dan kondisi Vania sudah stabil, Vania dipindahkan ke ruangan paviliun agar bisa beristirahat dengan tenang. Saran dokter Vania diminta untuk diopname dulu supaya bisa terpantau perkembangannya.
Pukul 22.30 WIB, setelah berada di ruangan Paviliun barulah Aldi menghubungi Bapak dan ibu Vania serta kak Rima dan Mas Bagas. Sengaja Aldi baru memberitahukan sekarang agar keluarga tidak panik. Sementara itu Vania belum juga sadar namun kondisinya sudah stabil kata dokter Imran. Aldi mengambil kursi dan menempatkannya di samping tempat tidur Vania.
KAMU SEDANG MEMBACA
Di Antara Dua Asa
RomanceTerjebak dalam asa dari dua pria yang mencintainya tidak membuat Vania melupakan prinsip hidupnya. Prinsip seorang gadis remaja yang ingin menjaga cinta dalam hatinya hanya untuk seseorang yang diridhoi Allah sebagai imamnya kelak. Lika-liku hidup y...
