Bagian 47. Mengejar Impian

83 6 0
                                        

Ayah, Bunda, Nurul dan Dokter Surya mengantar mereka ke Bandara. Sejak dari rumah sampai di Bandara, Affan betah dalam gendongan Bunda. Bunda pun tidak mau melepaskan Affan padahal Affan lumayan berat dengan tubuh montoknya. Ayah sesekali mengusap kepala dan mencium pipi Affan sambil mengucap do'a. Nurul yang sejak tadi membujuk Affan belum juga berhasil, Nurul sudah tidak sabar untuk menggendong Affan namun Affan tetap tidak mau berpisah dengan sang Nenek. Yaa Allah, Semoga saat keberangkatan tiba Affan tidak rewel.

"Affan harus jadi anak baik yaa.. jagain Ummi di sana.. kalau kangen sama nenek minta Ummi telepon atau nanti Nenek yang telepon.." Pesan Bunda pada Affan yang dijawab dengan anggukan dan senyum Affan.

"Dijawab dong sayang.. Nenek lagi ngomong tuh sama Affan" Vania berkata sambil mengusap pipi gembulnya.

"Iya Nek.. Inca Allah Apan telepon.. tapi Nenek jangan cedih yaa.. kata Ummi Apan gak lama di cana.." ucapan Affan membuat Bunda meneteskan air mata. Air mata yang sejak tadi menggenang akhirnya tumpah. Namun berusaha ditutupi Bunda dengan senyum manis agar Affan tidak ikut bersedih. Affan ikut menghapus air mata yang mengalir di kedua pipi Neneknya. Semua yang melihat ikut terharu, termasuk Vania dan Nurul yang akhirnya terisak.

"Iya sayang, Nenek gak sedih.. Nenek hanya terharu cucu Nenek ternyata sudah besar dan pintar" jawab Bunda sambil memuji Affan, yang dipuji hanya bisa tersenyum malu.

"Kalau pintar, Affan jangan bikin Nenek repot.. tuh lihat kasihan Nenek kecapean gendong Affan.." Vania mengingatkan dan membujuk Affan agar mau turun dari gendongan Bunda.

"Hehehe, iya Ummi.. Apan tulun aja.. Nenek capek kan?" dengan segera Affan turun dari gendongan Nenek dan memeluk Vania.

Percakapan mereka tiba-tiba terhenti dengan terdengarnya pengumuman dari Petugas Bandara. Penumpang pesawat dengan tujuan Mataram Lombok diminta segera memasuki ruang keberangkatan. Mereka diperintah Bunda untuk masuk, agar masih ada waktu untuk bersiap-siap menunggu di ruang keberangkatan sebelum boarding. Waktu Vania tersita untuk berpamitan dan melepas rindu dengan ayah dan bunda karena setelah check-in tadi Vania dan Affan keluar lagi menemui Ayah dan Bunda di pintu masuk ruang check-in.

"Ayah, Bunda.. Vania dan Affan pamit.. Mohon do'a supaya perjalanannya lancar dan selamat sampai tujuan.. Ayah dan Bunda sehat selalu yaa" Vania pamit pada Ayah dan Bunda dengan menyalami dan mencium tangan keduanya. Bunda dengan refleks memeluk Vania dengan erat. Affan pun ikut menyalami dan mencium tangan Kakek dan Neneknya dan dihadiahi kecupan sayang di pipi kiri dan kanan.

"Nurul sayang, Mas Surya.. kami pamit yaa.. Jangan lupa kabari kami.. Insya Allah kami akan datang di hari pernikahan nanti" Vania memeluk erat sahabat sekaligus saudari tercintanya.

"Fii amanillaah Vania sayang.. semoga perjalanannya lancar dan selamat,, jangan lupa kabari kami juga jika berita baik itu ada.. yaah..?" Nurul membalas pelukan Vania dengan sama eratnya dan berbisik "Aku sudah tahu Vania, jika kamu yakin,, jalani.. jika tidak,, jauhi..".

Vania terhenyak mendengar ucapan Nurul. Entah apa maksud ucapan Nurul tapi Vania merasa itu ada hubungannya dengan pertemuan antara dirinya dan Aldi. Dengan berbisik Vania berkata "Yaa Allah, apaan Nurul.. gak ada apa-apa.. sueerr.." Vania mengganggukkan kepala sambil tersenyum agar Nurul yakin. Nurul hanya membalas sambil tersenyum dan mengeratkan pelukannya kembali..

"Yaa udah, It's ok.. Aku percaya kok, buruan gih.. nanti ketinggalan pesawat" Nurul tersenyum dan mengangguk, mempersilahkan Vania masuk ke dalam ruang keberangkatan.

Vania dan Affan segera beranjak, berjalan perlahan sambil melambaikan tangan kepada semua. "Assalamu'alaikum" Ucap Vania diikuti Affan yang begitu bahagia. Tersenyum sambil melambaikan tangan "Dadah kakek, nenek, Tante Nulul, Om Sulya.. Apan pelgi yaa".

Di Antara Dua AsaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang