Keesokan harinya setelah pulang sekolah Aldi bergegas menuju rumah sakit, ingin memastikan kondisi Vania hari ini. Di parkiran ternyata Risya sudah menunggu sambil bersandar di mobilnya.
"Aldi, temani aku ke toko buku yaah?" Pinta Risya saat Aldi sudah berada di depannya.
"Maaf Risya, kali ini aku gak bisa.. aku udah janjian dengan temanku.. maaf yaah.." tolak Aldi entah sudah yang ke berapa kalinya. Aldi pun langsung masuk ke mobil tanpa menunggu respon Risya atas penolakannya dan memilih meninggalkan Risya yang kebingungan dengan sikap Aldi akhir-akhir ini.
Tanpa Aldi ketahui sudah seminggu ini Risya menyuruh orang kepercayaan ayahnya untuk mengikuti Aldi kemana saja Aldi pergi setelah pulang sekolah. Dari laporan orang kepercayaannya, Risya akhirnya tahu bahwa Aldi memang tidak pernah mencintainya baik sebelum Aldi bertemu Kiara maupun setelah Kiara tiada. Aldi hanya menyayanginya sebagai sahabat masa kecil tidak lebih. Hari ini juga Risya masih meminta orang suruhannya untuk mengikuti Aldi kembali dan mungkin ini yang terakhir.
Maafkan aku Aldi.. aku harus memastikan apakah penolakanmu karena hatimu sudah terisi oleh wanita lain pengganti Kiara. Dan apakah kamu benar-benar mencintainya, aku hanya ragu jangan sampai perhatian dan kasih sayangmu hanya karena rasa bersalahmu pada Kiara bukan karena kamu mencintainya. Aku masih tetap berharap bahwa kamu mau membuka hatimu untukku meski aku tahu itu adalah hal yang tidak mungkin. Risya termenung di dalam mobil memikirkan sikap Aldi yang agak berubah akhir-akhir ini. Hari ini Risya akan memutuskan apakah perjuangannya untuk merebut hati Aldi masih dilanjutkan atau cukup sampai di sini, tergantung informasi apa yang didapatkan oleh orang kepercayaan ayahnya.
Aldi memasuki halaman rumah sakit sekitar pukul 14.00 WIB, dan segera melangkah menyusuri koridor rumah sakit menuju ruangan Paviliun tempat Vania dirawat. Sesampainya disana tampak Vania yang sedang duduk ditemani ibu, adapun kak Rima sudah kembali ke rumah dijemput mas Bagas dan Bude tadi pagi karena nanti sore mas Bagas sudah harus kembali ke Bandung.
Alhamdulillah Vania sudah lebih baik dari kemarin, sudah bisa jalan ke kamar mandi meski harus dibantu ibu. Aldi meletakkan keranjang buah di atas meja dekat tempat tidur Vania. Melihat Aldi datang ibu mengajak Aldi untuk duduk di dekatnya. Sementara Vania membaca buku, sedang tidak sehat pun Vania tidak mau terpisah dengan buku-bukunya apalagi kalau sudah sehat, benar-benar seorang kutu buku.
"Apa kabar Nia? Sudah baikan yaa.. alhamdulillah.." sapa Aldi. tapi kamu harus banyak istirahat jangan belajar dulu,, nanti sakit lagi" lanjut Aldi karena Vania tidak menjawab pertanyaannya.
"Gak apa-apa, aku kan cuman baca buku.. gak berat kok." Jawab Vania sambil tersenyum berharap agar Aldi bisa memahaminya.
"Iya sih, kelihatannya gak berat.. tapi pikiran kamu gak ada istirahatnya.." jelas Aldi karena Vania tetap gak berhenti membaca buku.
"Benar kata nak Aldi Vania.. kamu harusnya istirahat dulu.. kalau sakit nanti malah gak bisa ikut ujian nasional.." ucap ibu menyambung ucapan Aldi.
"Iyya.. iyya.. Vania gak baca lagi.. ini bukunya ibu simpan aja.. takut kalau masih di sini Vania lupa kalau lagi sakit.." kata Vania setengah merajuk.
"Vania boleh main ke taman ya bu? Bosen dari semalam tiduran terus.." Ijin Vania ke ibu karena Vania sangat ingin menghirup udara segar.
"Boleh, dengan nak Aldi aja yaah.. ibu mau beresin barang-barang dulu.. siapa tahu besok Vania sudah boleh pulang.." tolak ibu sambil tersenyum menatap Aldi menunggu persetujuannya.
"Saya sih terserah Nia aja Tante.. kalau Nia mau yaa saya pun dengan senang hati menemaninya.." Aldi menjawab sembari menatap lembut Vania yang wajahnya tampak memerah mendengar jawaban Aldi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Di Antara Dua Asa
RomanceTerjebak dalam asa dari dua pria yang mencintainya tidak membuat Vania melupakan prinsip hidupnya. Prinsip seorang gadis remaja yang ingin menjaga cinta dalam hatinya hanya untuk seseorang yang diridhoi Allah sebagai imamnya kelak. Lika-liku hidup y...
