"Ketakutan terbesar berasal dari hal kecil."
- ARINI -
🌈
Ada satu hobi Yudha saat weekend jika tidak ada yang mengajak keluar, yaitu futsal. Hobi itu sudah ada sejak kelas 1 SMP, terkadang ia mengikuti turnamen dengan kawan-kawan alumni.
Seperti sekarang mereka tengah main biasa di tempat futsal langganannya walaupun jam menunjukkan pukul 8 malam.
Masih ingat Vano? Guru SMK DIRGANTARA 3 yang pernah membantu Yudha mencari Guntur saat insiden itu. Ia juga ada disana.
"Enak gak sih jadi guru?"
Vano terkekeh sambil menggeleng, "Tergantung. Kadang kalo ada yang cakep bisa cuci mata."
Yudha memukul punggung Vano, "Jelalatan amat."
"Lo juga cinlok kan disana?" ledeknya membalas perbuatan Yudha.
"Wah, beneran lo? Si gila. Suka sama murid sendiri," ucap salah satu kawannya, David.
"Palingan bertepuk sebelah tangan lagi kek Ghina dulu." Sontak semuanya tertawa mengingat bagaimana kisah kasih dulu.
"Kali ini gak." Vano membela.
Saat tengah tertawa menikmati cerita yang lain, tiba-tiba terdengar suara debuman keras dari jalan raya tepat di depan lapangan futsal.
"Suara apaan tuh?"
"Jangan-jangan tabrakan."
"Keluar, keluar, ayo."
"Tungguin anjay."
Mereka semua berlarian ke luar untuk memastikan suara apa tadi.
"Wah, cewek lagi yang kena."
"Telpon ambulans sono."
"Nomornya berapa?"
"Jangan nanya gue, tanya bapak-bapak aja."
"Udeh nyuruh, maksa lagi lo."
Yudha yang agak di belakang karena tertinggal kawan-kawannya karena mereka larinya kencang tak sengaja melihat Arini sedang berdiri tak jauh dari tempat kecelakaan sambil membawa plastik belanjaan. Sepertinya gadis itu dari minimarket.
Mengabaikan Arini karena Yudha dipanggil kawannya untuk bantu menolongi korban. Beberapa warga ada yang mengejar pelaku dan ada yang sedang menghubungi ambulans.
"Lho?! Ini kan—" Yudha nampak sangat terkejut melihat siapa korbannya.
"Lo kenal?"
"Murid gue," gumamnya masih terdengar.
"Murid lo? Bantu bopong gih."
Arini melihat kejadian beberapa menit lalu saat keluar dari minimarket. "Vera..." lirihnya dengan suara bergetar menahan tangis. Tangannya mengenggam erat plastik dan langkahnya mundur perlahan. Ia lihat kejadian itu, secara langsung tanpa jeda.
Begitu ambulans datang dan Vera dibawa masuk ke dalam. Yudha masih melihat Arini terpaku di tempat seperti patung. "Van, tolong lo anter pulang dia," ucap Yudha sambil menunjuk Arini.
Vano terkejut, "Lo aja sana, gue gak kenal. Ntar dikira pedofil."
"Murid gue kecelakaan, masa mau gue biarin." Oh ayolah, Yudha tak punya banyak waktu untuk debat.
"I-iya, yaudah." Vano berlari ke arah perempuan yang ditunjuk Yudha yaitu Arini.
Sedangkan Yudha masuk ke ambulans untuk mengurus segala sesuatu karena Vera adalah muridnya dan ia tak sengaja ada di tempat yang sama.
KAMU SEDANG MEMBACA
ARINI [SELESAI]
Novela JuvenilSekolah. Tempat mencari ilmu,mendapat teman,mencari jati diri,dan bisa juga mendapat cinta. Seperti Arini yang mulanya membenci guru baru, lama-lama ia akhirnya luluh dengan segala sikap gurunya. Bagaimana kelanjutannya? Tambahin ke reading list yaa...
![ARINI [SELESAI]](https://img.wattpad.com/cover/195625515-64-k462429.jpg)