Andra harus selalu siap dikala tanggal itu tiba. Tanggal dimana Arini tidak bisa disentuh sedetik pun, walaupun ia kakaknya.
P.M.S
Rasanya Andra ingin minggat saja untuk 1 hari jika diizinkan agar tidak jadi pelampiasan Arini saat marah.
Dengan tatapan tegasnya Arini berjalan disamping Arya menuju kantin. Mereka sama-sama penat karena telah menyelesaikan setengah tryout Kejuruan karena dilanjut setelah zuhur.
"Gila sih, Buku Besar padahal belom selesai tapi waktunya abis," eluh Arya.
"Gue juga gak balance neraca saldonya, santai aja."
"Biasanya bisa selesai."
"Kebetulan tadi ada yang salah pas rekapitulasi jurnal."
"Gapapa lah ya, belum UPK juga," katanya santai.
Mereka makan nasi goreng di Kantin, berdua. Dan justru berpapasan dengan Yudha dan Vera yang mencari kursi kosong.
Arya yang melihat mereka langsung bergeser, "Sini, Pak, Ver. Masih dua yang kosong."
Mereka tersenyum dan duduk. Arini sempat melirik Yudha sebentar, lalu kembali makan.
Kalau saja ia bisa melempar sendok tepat kearah dahi gurunya yang secara terang-terangan memeluknya kemarin, maka akan ia lakukan detik ini.
Arya dan Vera saling tatap.
"Ada apa gerangan nih? Kok jadi panas tegang kayak arus listrik ya?" Arya sampai mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah karena panas.
"Gapapa," ucap Yudha.
Vera tersenyum kikuk.
"Gimana tadi, lancar? Soalnya gampang kan?" tanya Yudha.
"Gampang, sampe saya mau bakar soalnya, Pak." Arya berkata jujur.
Di satu meja, hanya Arini yang tidak tertawa karena lelucon Arya. Arya pun menyenggol lengan Arini, "Tumben lo diem aja."
Arini mengulum biburnya pertanda tidak suka. Ia sangat-sangat tidak suka mood-nya diganggu. Sudah kemarin Ghina muncul, sekarang Arya malah mencari masalah.
Brakk'
Arya yang hendak menyendokkan nasi ke mulut spontan melempar sendok ke arah belakang karena terkejut Arini menggebrak meja sampai nasi di piring terpental. Vera tak berkutik karena bingung. Yudha menyembur es jeruk yang baru diminumnya.
"Apa-apaan kamu, Rin?" tanya Yudha yang melihat reaksi siswinya. Marahnya biasa aja kali, mana dia nyembur juga.
Mata Yudha beralih ke tangan Arini yang masih ada di atas meja.
Cincin itu kemana perginya?
Sebelum pertanyaan itu keluar. Arini sudah lebih dulu meninggalkan mereka.
"Salah lagi gue.. astagfirullah."
Vera mengusap punggung Arya untuk menyalurkan empatinya.
"Sabar ya," timpal Vera.
"Padahal gue cuma nyenggol tangan, spontan. Tapi marahnya itu gak kira-kira.." Arya lagi-lagi dibuat bingung.
Arya menggaruk kepalanya frustasi saat bicara dengan Andra lewat telepon.
"Kan gue dah bilang, dia kalo lagi pms jangan disentuh sedikitpun."
"Ya gue lupa, lo kira gue nyatet jadwal dia PMS."
KAMU SEDANG MEMBACA
ARINI [SELESAI]
Teen FictionSekolah. Tempat mencari ilmu,mendapat teman,mencari jati diri,dan bisa juga mendapat cinta. Seperti Arini yang mulanya membenci guru baru, lama-lama ia akhirnya luluh dengan segala sikap gurunya. Bagaimana kelanjutannya? Tambahin ke reading list yaa...
![ARINI [SELESAI]](https://img.wattpad.com/cover/195625515-64-k462429.jpg)